Jelajah Rote, Rekatkan Solidaritas Satu Indonesia

tanggal:

Share post:

Sebuah perahu sedang berlayar menuju Pulau Ndana dari Pantai Boa, pada Rabu, 6 Juli 2022. Lama pelayaran sekitar 30 menit. Foto: Jannes Eudes Wawa

Tatkala menyebut nama Rote, banyak orang bertanya: Rote itu ada dimana? Bagi orang Indonesia, pernyataan ini sesungguhnya konyol, sebab sejak sekolah dasar telah belajar tentang batas-batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rote adalah batas selatan wilayah NKRI. Terbarat adalah Sabang (Aceh), tertimur Merauke (Papua), dan paling utara Miangas (Sulawesi Utara).

Sudahlah, kita abaikan saja pertanyaan seperti itu. Mungkin mereka sudah lupa. Hal ini juga sangat manusiawi.

Akan tetapi, pertanyaan tadi juga bisa menunjukkan betapa Rote merupakan salah satu daerah yang tidak populer di negeri ini. Tidak populer juga bisa dipicu beberapa sebab, antara lain daerahnya teramat jauh dari ibukota negara sehingga tidak dikenal.

Rote juga termasuk daerah terluar sehingga kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat Indonesia. Apalagi, di jaman sekarang publik cenderung lebih mengenal daerah yang viral di media sosial. Rote sejauh ini belum pernah menjadi viral.

Diserbu wisatawan asing

Yang perlu diketahui adalah Rote merupakan salah satu wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Letaknya paling selatan yang berbatasan langsung dengan Australia. Di wilayah ini dihuni sekitar 165.807 jiwa yang mayoritas adalah petani tradisional dengan pendapatan per kapita rata-rata Rp 2,9 juta. Daerah ini pun agak terpencil. Untuk menuju ke Rote, pengunjung harus terlebih dahulu melalui Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT.

Letaknya yang jauh di selatan membuat Rote nyaris tersisihkan. Bahkan, banyak pula warga Indonesia yang tidak mengetahui keberadaan Pulau Rote. Itu sebabnya, Rote tidak menjadi daerah favorit yang layak dikunjungi. Dari 3.110 wisatawan yang berkunjung ke Rote pada tahun 2017, misalnya, wisatawan domestik sebanyak 49,7 persen. Itu pun lebih banyak didominasi kunjungan dinas dari aparatur pemerintah.

Hamparan pasir putih pada salah satu pantai di Pulau Ndana, Kabupaten Rote Ndao, NTT. Foto: Jannes Eudes Wawa

Sebaliknya, di mata wisatawan mancanegara, Rote dianggap sebagai salah satu surga tersembunyi. Di sana, terutama di Pantai Nemberala, Pantai Boa dan Pulau Ndana, memiliki gulungan ombak yang tingginya hingga tujuh meter, bulat serta memanjang ratusan hingga ribuan meter sehingga dinilai sebagai salah satu titik selancar terbaik. Ini yang telah menyedot para penggila selancar dari belahan dunia untuk berburu ombak di Rote.

Titik-titik selancar yang menarik bukan berada di tepi pantai, melainkan agak ke tengah laut. Para peselancar biasanya menyewa perahu nelayan setempat untuk mengantar mereka ke tengah laut untuk beraksi di atas papan selancar.

Di sepanjang pantai dengan hamparan pasir putih yang begitu memikat, tampak pula puluhan villa dan cottage yang beroperasi di sepanjang pantai tersebut. Ada yang milik pengusaha setempat, namun tidak sedikit pula yang dimiliki orang asing. Para investor asing ini konon menikahi gadis Indonesia sehingga memudahkan untuk berinvestasi.

Bertha, pengelola Hotel Anugerah di Nemberala mengungkapkan, wisatawan asing biasanya mendatangi Rote selama Maret hingga Desember. Mereka adalah para peselancar dari pelbagai negara, antara lain Australia, Selandia Baru, Swsiss, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Belanda, Portugal, Spanyol dan Italia.

Para wisatawan asing itu biasanya menginap minimal 10 hari. Bahkan, ada pula yang tinggal selama kurang lebih satu bulan. Setiap hari mereka hanya berselancar. Ada pula yang setahun bisa dua kali datang ke Rote untuk bermain selancar. Saat dunia dihantam pendemi Covid-19, pelaku wisata di Rote pun sangat terpukul, sebab tidak ada kunjungan wisatawan asing.

“Sejak Maret lalu, wisatawan asing mulai berdatangan. Pemesanan dari luar negeri semakin banyak. Mulai Agustus, kunjungan wisatawan asing bakal bertambah banyak. Dari pemesanan yang masuk, mereka ingin tinggal minimal 10 hari,” jelas Bertha.

Seperti yang saya saksikan pada awal Juli lalu di Pantai Nemberala, para wisatawan asing itu sejak pukul 05.30 Wita sudah keluar dari penginapan masing-masing. Sambil memikul papan selancar, mereka bergerak menuju tempat parkir perahu milik nelayan setempat. Dari sana, para peselancar ini diangkut menuju ke tengah laut.

Sejumlah wisatawan asing sedang memikul papan selancar di Pantai Boa, Pulau Rote. Mereka hendak bermain selancar di kawasan tersebut. Foto: Jannes Eudes Wawa

Dalam sehari, biasanya mereka dua kali bermain selancar, yakni pagi hingga siang. Kemudian kembali ke penginapan, lalu berselancar saat menjelang sore hingga petang.

“Semakin tinggi ombak akan semakin menarik dan menantang. Ombak di Nemberala ini sangat menarik, dan menantang. Saya sangat suka,” ujar Nico Hosel, wisatawan asal Swiss yang dijumpai di Nemberala, awal Juli 2022. Dia datang bersama tiga temannya dari Swiss. Mereka merencanakan berselancar di Nemberala selama dua minggu. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan diperpanjang beberapa hari.

Christin, warga Indonesia yang sudah 30 tahun tinggal di Amerika Serikat juga pada akhir Juni hingga awal Juli 2022 memilih berlibur di Rote, persisnya di Nemberala. Dia datang seorang diri. Dia mengaku mengetahui keindahan Rote dari suami dan dua anaknya. Mereka sudah beberapa kali berlibur di Rote khusus menikmati gulungan ombak Nemberala.

“Anak saya yang laki-laki adalah instruktur selancar di Amerika Serikat. Dia sudah tiga kali datang ke Rote khusus untuk bermain selancar. Dia tinggal cukup lama. Dia memberi penilaian excellent terhadap gulungan ombak di Nemberala. Saya jadi penasaran, dan baru kali ini bisa datang ke Rote. Sungguh menarik,” jelas Christin.

Pulau terselatan

Hanya berjarak 3 mil dari Pantai Boa, ada pulau kecil tanpa penghuni yakni Pulau Ndana. Pulau ini ditempatkan pasukan marinir penjaga perbatasan Indonesia-Australia. Di sana pula didirikan Patung Jenderal Soedirman sebagai simbol monumen titik terselatan Indonesia.

Terkait Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2022, Jelajah Bike menyelenggarakan perjalanan bersepeda di Rote yang dimulai dari Kupang pada 15-18 Agustus 2022. Para pesepeda dari berbagai daerah diajak mengunjungi Rote. Sudah 53 orang telah memastikan diri mengikuti Jelajah Rote. Sebagian besar peserta berasal dari Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, disusul Bandung, Malang, serta Bengkulu.

Pulau Ndana, pulau terselatan Indonesia. Foto: Jannes Eudes Wawa

“Setiap kali disebut titik-titik batas negara kita, maka nama Rote selalu terucap. Tapi kok begitu sulit didatangi. Lebih mudah bepergian ke Eropa dibanding ke Rote. Setelah saya sempat bersepeda di Sabang beberapa tahun lalu mulai timbul niat untuk gowes di Rote. Impian itu akhirnya kini terwujud. Semoga semuanya lancar,” ujar Adrian Rusmana, Direktur Keuangan dan Dukungan Bisnis LRT Jakarta.

Hal serupa juga dikatakan Leontinus Alpha Edison, salah satu pendiri Tokopedia. Di mata dia, Rote memiliki posisi strategis dalam NKRI. Posisi itu semakin menarik didukung dengan kekayaan alam, seperti gulungan ombak yang menarik dan panjang yang selama ini telah menghipnotis para peselancar dunia.

“Saya sangat penasaran dengan Rote. Maka, ketika kesempatan ini datang, saya pun tak mau sia-siakan. Kapan lagi saya bisa datang ke Rote, apalagi dengan bersepeda,” kata Leon yang mengaku membatalkan sejumlah kegiatan di perusahaannya demi mengikuti Jelajah Rote.
Melalui Jelajah Rote ini diharapkan memperluas pengenalan orang terhadap Rote sebagai wilayah terselatan Indonesia. Melihat kekayaan alam, mengenal masyarakatnya, termasuk mengunjungi pasukan penjaga perbatasan Indonesia-Australia di Pulau Ndana sekaligus melakukan upacara pengibaran bendera di titik terselatan Indonesia.

“Merayakan 17 Agustus di daerah yang terpencil dan unik seperti di Ndana pasti sangat seru dan menarik. Itulah yang mendorong saya mengikuti Jelajah Rote. Kesempatan seperti ini jarang terjadi,” kata Willy Setiadi, pesepeda asal Bengkulu.

Melalui perjalanan bersepeda di Rote diharapkan dapat menggelorakan semangat Keindonesiaan, Persatuan Indonesia, cinta Tanah Air sekaligus merekatkan Bhineka Tunggal Ika. Lebih dari itu, meningkatkan solidaritas satu Indonesia.

JANNES EUDES WAWA
Pegiat Touring Sepeda

Registrasi Jelajah Rote Bike 2022

3 KOMENTAR

  1. Membaca artikel tentang pulau Rote sungguh sangat menarik dan inspiratif semoga semakin menggugah semangat cinta tanah air
    Sayang sekali tdk dpt ikut serta dlm jelajah sepeda kali ini semoga dpt diadakan kembali mungkin dgn wkt bkn di bln Agustus di moment lain yg tdk kalah menarik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Registrasi Jelajah IKN 2022

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur...

Semalam di Pulau Terselatan Indonesia

  Meski berstatus sebagai pulau terselatan Indonesia, tidak satu pun warga sipil yang menghuni di Ndana. Itu sebabnya, pulau...

Sport Jantung di Perairan Terselatan Indonesia

Perairan selatan selalu memiliki ombak tinggi. Ndana, sebagai pulau terselatan Indonesia juga terkenal memiliki  gulungan ombak yang panjang,...

Air Mata Berlinang di Pulau Terselatan Indonesia

Banyak cara dilakukan masyarakat Indonesia dalam merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Puluhan pesepeda dari berbagai kota memilih...