Memulai Kayuh dari Pangalengan

tanggal:

Share post:

Oleh: JANNES EUDES WAWA

Sudah cukup lama tidak bermain di Pangalengan. Terakhir ke sana, sekitar April 2019, saat gowes bareng anggota komunitas Kompas Bike. Timbul niat untuk mengunjungi lagi salah satu kawasan pegunungan di Kabupaten Bandung itu. Ada rasa rindu hawa dingin pegunungan. Udara bersih dan sejuk itulah menjadi obat untuk relaksasi dari segala kepenatan selama tahun 2022.

Saya pun mengontak kang Cucu Eman Haryanto alias kang Coe, pengelana sepeda yang tinggal di Cimahi. Kami berteman sejak tahun 2013, dimana kang Coe ikut Jelajah Sepeda Sabang-Padang yang diselenggarakan harian Kompas. Dalam event itu saya dipercayakan menjadi ketua panitia. Sejak itu, hubungan kami semakin akrab hingga sekarang.

Kemah model glamping kian tumbuh pesat di Jawa Barat. Salah satunya di wilayah Pangalengan, Kabupaten Bandung. Glamping dibangun di tepi sungai. Ini menjadi daya tarik luar biasa. Foto: Jannes Eudes Wawa

Dalam banyak event touring sepeda yang kami lakukan, kang Coe kami percayakan sebagai salah satu marshal. Meski usianya tidak muda lagi, tetapi kekuatan mengayuh sepeda terutama di jalan tanjakan tergolong tangguh. Dia sering memenangi sejumlah perlombaan tanjakan di Bandung.

Nyaris tiada hari tanpa mengayuh sepeda. Jika mengunjungi anak dan cucunya di Jakarta atau Yogyakarta, misalnya, kang Coe tidak pernah menggunakan mobil. Sepeda menjadi andalannya. “Saya mabuk kalau naik mobil. Apalagi untuk perjalanan jauh,” ungkap Kang Coe suatu saat kepada saya.

Kami janjian untuk bertemu di Kota Baru Parahyangan (KBP), sebuah kota mandiri di wilayah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, pada Selasa, 3 Januari 2023 pukul 07.00 WIB. Sesuai janji itu, saya pun berangkat dengan mobil dari rumah di kawasan Jatiwarna, Kota Bekasi pukul 05.40 WIB, dan 20 menit sebelum waktu yang disepakati sudah tiba di KBP. Tidak lama kemudian kang Coe pun datang.

Sekitar pukul 06.50, saya dan kang Coe memulai gowes dari KBP. Pagi itu arus lalu lintas pun mulai padat. Kami memilih keluar melalui pintu depan, bergerak ke selatan, arah jalan layang lalu belok ke kanan menuju Batujajar. Jalan raya semakin ramai kendaraan, terutama para karyawan dan pegawai negeri yang berangkat ke kantor atau perusahaan.

Beberapa kali, kami terpaksa berhenti sejenak akibat kepadatan lalu lintas. Kami memilih mengalah agar perjalanan selamat dari manuver-manuver pengendara kendaraan bermotor roda dua.

Kepadatan lalu lintas baru terurai setelah melewati Pasar Batujajar, sekitar 8 kilometer dari pintu keluar KBP. Selepas itu perjalanan mulai lancar. Arus lalu lintas pun semakin longgar hingga di Soreang, ibukota Kabupaten Bandung.

Dari Soreang, kami memilih melalui Banjaran. Perjalanan dari Padalarang, Batujajar, Soreang hingga Banjaran tergolong datar. Di kiri dan kanan jalan tampak cukup banyak tersebar Alfamaret dan Indomaret; dua raksasa minimarket yang telah menggurita di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Kadang jengkel juga melihatnya, sebab begitu banyak kios milik pedagang kecil harus mati akibat terkena gerilya kedua minimarket raksasa ini. Tetapi, apa mau dikata, pembeli adalah raja. Kepada para pembeli, para pemodal besar selalu menawarkan segala kebutuhan pembeli dalam satu lokasi sehingga pedagang kecil pun pasti kalah bersaing dan gulung tikar.

Selepas Banjaran, laju sepeda pun mulai pelan. Dimulai dengan tanjakan halus. Semakin ke depan, tanjakan semakin panjang dengan kemiringan pun bertambah. Di antara tanjakan yang panjang itu tampak jelas kelokan demi kelokan seolah turut menambah lagi tekanan psikologis.

Hamparan perkebunan teh di Pangalengan jadi kenikmatan luar biasa bagi pesepeda. Segala keletihan terbayar lunas. Foto: Jannes Eudes Wawa

Meski demikian, penderitaan tersebut terasa tidak terlalu menyiksa. Mengapa? Karena kami mengayuh menuju ke pegunungan. Suhu udara lebih adem dan segar. Kendaraan bermotor pun tidak banyak yang lalu lalang. Ditambah lagi dengan panorama alam nan indah. Ada padi sawah, kebun sayur, dan semakin ke atas ada perkebunan teh yang membentang luas. Itu sebabnya penderitaan ini seolah terbayar lunas.

Demam glamping

Di Pangalengan, kami masuk ke kawasan hutan pinus, persis di Sungai Palayangan. Hulu sungai ini berada di Cisarua, dan bermuara di Situ Cileunca. Di tepi sungai dengan lebar berkisar 6-10 meter tersebut telah menjelma menjadi salah satu pusat aktivitas luar ruangan di Jawa Barat yang paling dicari para wisatawan.

Di sana, di sepanjang tepi kiri dan kanan sungai didirikan kemah berbentuk glamping. Kemah itu dibangun permanen dan di bagian bawah ditopang dengan tiang kayu setinggi kurang lebih 50-60 sentimeter dari permukaan tanah, dan lantai pun dilapisi kayu. Setiap kemah dilengkapi dengan kasur tipis yang jumlahnya sesuai daya tamping. Dalam setiap kemah mampu menampung 5-8 orang. Peminat tidak perlu repot membawa tenda dan kebutuhan lainnya.

Area pinggir sungai tertata rapi dengan airnya jernih. Para pengelola juga menawarkan permainan arung jeram melewati sungai yang ada. Aliran airnya tenang dan tidak banyak riam yang sangar membuat permainan arung jeram ini sangat bersahabat bagi orang yang baru pertama kali bermain.

Menurut Kris, pengelola Palayangan Asri RiverSide, peminat kemping saat ini cukup tinggi. Permintaan membludak terjadi pada akhir pekan atau saat liburan. Bahkan, kecenderungan saat ini yang paling meminati adalah keluarga. Orangtua mengajak anak-anaknya beriwisata di alam terbuka sekaligus kemping dengan fasilitas yang lengkap. Secara tidak langsung orangtua telah mengajarkan anak-anaknya mencintai lingkungan.

Suasana kemping di tepi sungai menjadi pilihan yang paling dicari. Mereka ingin beristirahat di alam bebas sambil menikmati aliran air di sungai. Mendengar langsung suara katak dan lainnya. Hal-hal itu merupakan kenikmatan tiada duanya.

“Sebagai pengelola, kami memberikan pelayanan yang terbaik. Kami siapkan kamar kecil yang bersih dan sesuai standar. Kami menyiapkan menu makan malam dan sarapan pagi. Bagi tamu yang ingin memasak sendiri, kami siapkan peralatan yang dibutuhkan. Termasuk untuk musik,” jelas Kris yang mengaku lahan yang ada disewa dari Perhutani.

Kang Coe mengaku kaget dengan geliat pertumbuhan glamping di kawasan Pangalengan. Dimana-mana, terutama di tepi sungai didirikan glamping. Bahkan, belakangan di tengah kebuh teh milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII di Gemboeng pun demikian.

Kemah juga merambah di tengah perkebunan teh milik PTPN VIII di Gemboeng. Foto: Jannes Eudes Wawa

“Luar biasa perkembangan wisata outdoor di Pangalengan dan Ciwidey. Dimana-mana ada glamping. Keren euy. Beberapa tahun lalu tidak seperti ini. Ini daya tarik baru bagi wisatawan. Suatu saat saya juga ingin ajak anak dan cucu menikmati glamping di pinggir sungai di Pangalengan,” kata kang Coe.

Dari Pangalengan, kami melanjutkan kayuh menuju Ciwidey melalui perkebunan kopi yang dipayungi pohon-pohon yang tinggi. Perjalanan masih menanjak. Kami kemudian memasuki wilayah perkebunan teh milik PTPN VIII di Gemboeng. Ada jalan datar diselingi turunan dan tanjakan tipis.

Bersepeda di tengah hamparan perkebunan yang begitu luas rasanya mendapatkan keinkmatan tiada tara. Jalanan sepi. Udara bersih, dan suhu pun sangat kalem. Kelelahan terbayar dengan kebahagiaan.

Setelah melewati Gemboeng, kami mulai melewati jalan turunan yang panjang dan berkelok hingga di Soreang. Di jalur ini pun panorama tidak kalah indahnya. Ada persawahan yang menarik. Ada deretan kebun-kebun stroberi milik warga. Tidak sedikit pula café dan restoran.

Dari Soreang, gowes berlanjut ke Kota Bandung melalui Kopo dan Pasir Koja. Melewati jalur ini pada sore hari memang membutuhkan kesabaran ekstra. Saat itu, ribuan karyawan perusahaan dan pabrik baru selesai kerja sehingga arus lalu lintas pun menjadi sangat padat.

Penulis bersama kang Coe berswafoto di gerbang Perkebunan Teh di Gemboeng. Foto: Dokumen Pribadi

Dengan ekstra hati-hati kami mencoba mengayuh di tengah keramaian kendaraan. Sesekali harus berhenti sejenak, lalu melanjutkan perjalanan lagi. Perlahan tapi pasti kami akhirnya tiba di Jalan Merdeka Bandung. Di situlah saya dan kang Coe berpisah. Saat itu waktu menujukkan pukul 16.15 WIB. Hari itu, kami tuntaskan jarak sejauh 110,6 kilometer dengan ketinggian gowes hingga di 1.573 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sungguh menyenangkan.

Perjalanan hari itu merupakan bagian dari survey untuk Jelajah Bike yang ingin menggelar event sepeda Susur Pangalengan pada 18-19 Februari 2023. Susur Pangalengan memadukan tiga kegiatan sekaligus yakni bersepeda (cycling), berkemah (camping) dan arung jeram (rafting). Pasti seru, menarik dan berkesan. Pilihan yang tepat untuk memulai petualangan gowes selama 2023.

Baca juga:

Jelajah IKN, Terintimidasi di Jalur Nusantara

 

 

 

3 KOMENTAR

  1. Om Janes
    Mantap nich susur pangalengan,,,
    cuman sayang banget ouy,, tanggal segitu sy ada jadwal lain yg harus sy hadiri,,,
    Bikin lagi susur yang lain om Janes,,,

    😀😀😀

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Resmi Internet Site Sinden Pin Up Turkey Online On Line Casino Uygulamasını ️ Indiri

Resmi Internet Site Sinden Pin Up Turkey Online On Line Casino Uygulamasını ️ IndirinPinup Bet Türkiye'deki Bahis Ve...

Jelajah Toba Samosir (2), Berbahagia Bersama Om Octo

Oleh: JANNES EUDES WAWA Minggu (29/10/2023) dinihari, kawasan Pangururan, Pulau Samosir dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Menjelang pagi, volumenya...

Jelajah Toba Samosir (1), Nikmati Gowes dan Mandi Hujan

Oleh: JANNES EUDES WAWA Berada di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara, pada penghujung Oktober 2023 lalu seolah sedang di...

JCS Surakarta, Berat dan Menantang

Oleh: JANNES EUDES WAWA Comoro Kandang di kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjelang petang, suhu mulai dingin....