Mengayuh Di Antara “Camping” dan “Rafting”

tanggal:

Share post:

Oleh: JANNES EUDES WAWA

Pangalengan di wilayah selatan Bandung telah menjelma menjadi surga bagi wisatawan yang ingin menikmati alam terbuka. Suhu dingin dengan udara sejuk didukung perkebunan teh, kopi dan hutan pinus serta sungai-sungai kecil membuat kawasan tersebut berkembang usaha glamping dan arung jeram. Setiap akhir pekan, ribuan orang menyerbu Pangalengan.

Sabtu dan Minggu, 18-19 Februari 2023, sekitar 130 pesepeda juga datang ke Pangalengan ingin menikmati sesuatu yang berbeda. Melalui event Susur Pangelangan, Jelajah Bike selaku penyelenggara menawarkan tiga aktivitas yang seru dalam satu momentum; bersepeda (cycling), berkemah (camping) dan arung jeram (rafting).

Ke-130 pesepeda itu mayoritas dari Jakarta, disusul Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, Bandung, Pontianak, Palembang, dan Surabaya. Sehari sebelumnya, mereka sudah berada di Bandung. Bahkan, beberapa di antaranya seperti. Octovianus Noya, Sonny Nilfianto, Isjunaedy Widodo alias Babon, Joniah, Hengki Benjamin dan Leontinus Alpha Edison bersepeda dari Jakarta ke Kota Baru Parahyangan di Padalarang melalui jalur puncak Bogor.

Peserta Susur Pengalengan bersepeda melewati jalan utama di Kota Baru Parahyangan, Sabtu (18/2/2023). Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

Kami mulai bersepeda dari kantor Pemasaran Kota Baru Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu (18/2/2023) pagi. Lokasi ini berada tidak jauh dari pintu gerbang perumahan mewah seluas 1.250 hektar tersebut.

Gowes dari area depan menuju ke bagian belakang menyusuri jalan utama. Di kiri dan kanan jalan utama ada hotel bintang lima: Mason Pine. Ada pula kawasan niaga yang di dalamnya berupa restoran, kantor operasional sejumlah bank, rumah sakit, sekolah dan lainnya. Bahkan, beropeasi pula pusat perbelanjaan Ikea. Tidak jauh dari Ikea, ada Water Park yang sebentar lagi beroperasi penuh.

Menurut Joseph Ijong, GM Marketing Kota Baru Parahayangan (KBP), kawasan yang kini berdiri Ikea diproyeksikan menjadi pusat bisnis. Sejumlah pusat perbelanjaan skala besar lainnya juga sedang dipersiapkan untuk dibangun di area tersebut. “Disain besarnya sudah disiapkan. Investor pun cukup banyak yang meminati,” jelasnya.

KBP memang kini berkembang menjadi satu-satunya perumahan di Bandung Raya yang telah menjadi skala kota. Penghuninya sudah mencapai 3.200 kepala keluarga. Fasilitas yang disediakan pun cukup lengkap, antara lain pendidikan, kesehatan, ruang terbuka hijau, ruang usaha, pusat perbelanjaan, fasilitas olahraga, restoran, dan lainnya.

Di KBP juga ada sebuah lapangan golf yang luas dengan 18 hole. Lapangan ini dirancang oleh konsultan terkemuka JMP Bob Moore dari Amerika Serikat dimana menjadi salah satu lapangan golf terbaik di Indonesia. Lapangan ini tidak hanya untuk penghuni, melainkan juga masyarakat umum.

Kini KBP juga memfasilitasi pembangunan stasiun kereta cepat Jakarta-Bandung-Jakarta di Padalarang.  Jarak dari kantor pemasaran KBP hingga stasiun kereta cepat sekitar 3 kilometer atau waktu tempuh tidak lebih dari 15 menit. Langkah ini sebagai upaya memfasilitasi penghuninya agar lebih mudah dan cepat dalam bermobilisasi, termasuk menuju Jakarta. Apalagi waktu tempu kereta cepat dari Padalarang hingga stasiun akhir di Halim, Jakarta sekitar 40 menit.

Kami terus bersepeda menuju ke belakang. Jarak dari tempat pelepasan sudah lebih dari lima kilometer. Di kiri dan kanan tampak sedang dibangun ratusan unit rumah tipe 95/120 berlantai dua. Harga yang ditawarkan sekitar Rp 2 miliar. Rumah-rumah itu umumnya sudah dipesan pembeli. Sementara lahan kosong pun masih cukup banyak dalam kawasan KBP.

Lewati jembatan Alfian

Tidak jauh dari situ, gowes pun memasuki salah satu titik area Waduk Saguling. Dari lokasi itu, kami menaiki perahu kecil menuju bunker Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdiklatsus) Kopassus Batujajar. Jarak penyeberangan sekitar 500 meter. Di area ini terdapat cukup banyak keramba budidaya ikan milik warga setempat.

Sebagian pesepeda sedang berfoto bersama di tepi Waduk Saguling, tidak jauh dari Kota Baru Parahyangan, Sabtu (18/2/2023). Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

Dari bunker, kami melanjutkan bersepeda melewati area persawahan yang indah menuju wilayah Cihampelas Batujajar, lalu melaju hingga jembatan Alfian. Jembatan ini terbuat dari kayu yang sederhana oleh warga. Pada sejumlah titik, bagian bawahnya disusun drum.

Jembatan dengan panjang 520 meter itu tergolong sederhana, tetapi menjadi salah satu keunikan di Sungai Citarum. Perannya pun besar karena menghubungkan Kecamatan Batujajar dan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. Bahkan, bisa memangkas waktu perjalanan lebih dari 20 menit.

Jembatan ini hanya boleh dilewati kendaraan roda dua, sepeda dan pejalan kaki. Pada titik di kedua ujung ditempatkan sejumlah warga sebagai pengaman. Mereka juga bertugas memungut biaya untuk setiap sepeda motor, sepeda dan orang yang ingin melintasi jembatan. Khusus sepeda motor dikenakan tarif Rp 3.000 per unit dalam sekali jalan.

Selepas jembatan Alfian, kami memasuki jalan raya utama yang menghubungkan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Perjalanan menuju Soreang, ibukota Kabupaten Bandung cukup lancar, meski banyak juga kendaraan bermotor yang lalu lalang.

Peserta sedang melewati Jembatan Alfian di Bandung Barat. Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

Namun setelah melewati Soreang arah ke Ciwidey arus lalu lintas semakin padat dan macet. Begitu banyak sepeda motor dan mobil yang bergerak menuju Ciwidey, Kawah Putih dan sejumlah obyek wisata lainnya. Maklum, hari itu bukan hanya akhir pekan, tetapi juga hari libur nasional: Hari raya Isra Miraj.

Demi keselamatan perjalanan, kami memilih gowes di sisi kiri jalan raya. Beberapa kali kami juga harus menghadapi penyempitan jalur akibat dominasi kendaraan bermotor.

Sekitar pukul 10.30 WIB, langit di wilayah Kabupaten Bandung semakin pekat. Tidak lama kemudian turun hujan yang cukup deras. Hujan ini membuat gowes di jalan yang terus menanjak tersebut terasa semakin berat.

Beberapa peserta sempat memilih berteduh sesaat, setelah itu melanjutkan gowes lagi di tengah derasnya hujan. “Mengayuh sepeda saat hujan deras apalagi di jalan menanjak cukup memberatkan. Akan tetapi, pengayuh terhindar dari dehidrasi. Kuncinya selalu hati-hati, sebab ada potensi daya tahan tubuh bisa merosot akibat kedinginan,” jelas Sonny Nilfianto, pesepeda senior asal Jakarta.

Dari Pasir Jambu, kami bergerak ke kiri. Tanjakan masih berlanjut dengan kemiringan yang terus bertambah. Namun, arus kendaraan bermotor mulai berkurang. Semakin ke depan, suasana udara pegunungan semakin terasa.

Saat melewati lahan persawahan di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (18/2/2023). Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

Kami pun memasuki kawasan perkebunan teh Gembung. Hujan yang baru selesai membuat udara terasa segar, sejuk dan mulai dingin. Meski demikian, semangat kami untuk mengayuh terus membesar, apalagi melewati perkebunan teh yang begitu indah diselingi hutan lindung dataran tinggi membuat kelelahan berubah menjadi kebahagiaan.

Perkebunan teh Gambung di kaki Gunung Tilu memiliki luas 600 hektar, termasuk salah satu yang tertua di Indonesia. Dibangun sejak jaman penjajahan Belanda. Di situ dilengkapi dengan pusat penelitian teh dan kina yang berdiri sejak tahun 1973, termasuk terbesar di Asia Tenggara.

Selama ini daun teh terbaik khas Gambung diolah menjadi teh hijau, hitam dan teh putih yang disajikan dalam beraman produk bermutu yang teridiri atas beberapa varian rasa dan kemasan. Itu antara lain kemasan kaleng dan celup.

Peserta Susur Pangalengan saat melewati perkebunan teh di Gambung. Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

Perkebunan teh Gambung juga berkembang wisata edukasi, seperti pemetikan teh dan pengolahan teh. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, dikembangkan wisata agro, dimana mulai disediakan tempat berkemah di tengah perkebunan teh. Glamping dibangun di sejumlah titik. Tidak sedikit wisatawan baik individu, kelompok maupun keluarga yang menikmati wisata di alam terbuka tersebut.

Selepas perkebunan teh, kami melanjutkan kayuhan melewati perkebunan kopi. Tanaman kopi yang ada merupakan milik warga setempat, sedangkan lahan milik Perhutani. Setiap warga diberikan lahan seluas dua hektar untuk menanam kopi. Kebijakan ini sebagai bagian dari program hutan kemasyarakatan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat melalui pemanfaatan sumber daya hutan yang optimal, adil dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi hutan dan lingkungan hidup.

Tanjakan yang kami lalui sudah mencapai ketinggian sekitar 1.684 meter di atas permukaan laut (mdpl). Akan tetapi belum tuntas juga. Kami terus mengayuh. Perlahan-lahan terus bergerak maju hingga mencapai lokasi bernama warung batas yang merupakan titik tertinggi perjalanan kami. Lokasi yang berada di tengah hutan yang dipenuhi tanaman kopi tersebut berdiri sebuah warung yang menjadi batas wilayah Gambung dan Pangalengan.

Mengayuh sepeda di antara perkebunan teh dan hutan usai diguyur hujan lebat. Ada rasa dinginm sejuk dan dingin yang mulai menusuk kulit. Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

Warung ini juga dijadikan tempat istirahat bagi para pelintas, termasuk pesepeda. Pengayuh sepeda merasakan kepuasan yang luar biasa saat mengayuh hingga di warung ini. Tanjakan panjang sudah dituntaskan.

Selanjutnya, kami mengayuh turun hingga di Palayangan Asri RiverSide yang menjadi salah satu titik kemping peserta Susur Pangalengan. Lokasi ini berada pada ketinggian 1.369 mdpl.

“Saya senang banget dengan jalur gowes yang dipilih. Tanjakan panjang, tetapi terbayar dengan penorama yang indah. Ada perkebunan teh, hutan dan tanaman kopi. Kelelahan terobati dengan keindahan alam dan udara yang sejuk,” kata Arie Kurnianingsih, pesepeda asal Jakarta.

Tempat camping yang berada persis di tepi sungai menjadi kekuatan istimewa dari usaha glamping di Pangalengan. Para tamu seolah diajak untuk kembali ke alam bebas. Foto Jannes Eudes Wawa

Menikmati Pangalengan

Sore itu jalan raya di kawasan tersebut dipadati ratusan pengunjung. Berjalan kaki pun tidak leluasa. Para pengunjung itu ada yang baru tiba dan ingin masuk glamping-glamping yang ada. Ada pula baru selesai bermain arung jeram. Sebagian kelompok wisatawan baru mau berangkat ke Situ Cileunca untuk memulai rafting.

Memang, belakangan eforia masyarakat perkotaan untuk menikmati alam terbuka melalui camping dan rafting begitu tinggi. Pangalengan menjadi salah satu lokasi yang didatangi. Mereka umumnya datang berkelompok.

Sebagian peserta Susur Pengalengan bersiap-siap untuk bermain arung jeram di Situ Cileunca, Minggu (19/2/2023). Foto: Jannes Eudes Wawa.

Tidak sedikit pula orangtua mengajak anak-anaknya untuk menikmati alam bebas di tepi Sungai Palayangan. Bahkan, semakin banyak perusahaan melakukan program outbond untuk para karyawannya di Pangalengan. Salah satunya mengikuti arung jeram.

Rombongan Susur Pangalengan setelah bersepeda selama kurang lebih sembilan jam lebih memilih mandi dan beristirahat di glamping masing-masing yang berada persis di tepi sungai. Bunyi gemercik aliran air yang cukup keras membuat suasana alam begitu kental.  Malam itu mereka menikmati aneka hidangan, antara lain domba dan kambing panggang diselingi hiburan musik.

Akan tetapi, saat malam semakin larut, sebagian peserta yang belum terbiasa merasa sedikit terganggu dengan bunyi gemercik air. Namun, ada pula yang sangat menikmati keadaan alam ini. Merasa kembali ke alam terbuka.

Minggu (19/2/2023) pukul 06.30, peserta arung jeram Susur Pangalengan mulai diantar ke Situ Cileunca. Selang 45 menit kemudian, para peminat berkumpul. Usai pengarahan dari pengelola, rafting pun dimulai.

Permainan arung jeram yang seru membuat para peserta begitu berbahagia. Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

Mula-mula perahu karet yang ditumpangi peserta didayung menuju pintu air Situ Cileunca. Dari situ, peserta turun, lalu berjalan kaki menyeberangi bukit batas pintu air yang ada. Perahu karet pun digotong dua petugas menuju pintu keluar air untuk memulai rafting.

Persis di pintu keluar air dari Situ Cileunca terhubung langsung dengan Sungai Palayangan yang menjadi jalur arung jeram. Pagi itu, di titik start rafting telah berkumpul ratusan orang yang ingin menikmati tantangan bermain air sungai.

Satu demi satu perahu karet yang ditumpangi peserta dilepas dengan perbedaan waktu tidak lebih dari satu menit. Setiap perahu karet berisi 4-5 orang dan didampingi seorang pemandu.

Baru sekitar dua meter dari titik pelepasan langsung menghadapi riam. Ketinggian riam ini sekitar 1,5 meter, tetapi dengan lebar sungai sekitar 4 meter dan alur yang cenderung menyempit membuat daya dorong air cukup tinggi.

Mungkin karena alur yang sempit itu juga yang membuat peserta rafting tidak dibekali alat dayung. Pengendali perjalanan hanya dilakukan pemandu perahu. Peserta semata-mata menikmati permainan uji nyali dalam sungai. Pemandu perahu adalah warga setempat yang sudah terlatih.

Jalur arung jeram di Sungai Palayangan ini sejauh 5 kilometer. Sepanjang rute ini melewati sekitar lima titik riam dengan ketinggian bervariasi berkisar 1 hingga 1,5 meter. Meski tidak begitu tinggi, tetapi hujan yan turun cukup deras sepanjang hari pada sehari sebelumnya membuat daya dorong air lumayan deras.

Perahu karet siap melewati salah satu riam. Pesertanya tetap behagia dan senang. Foto: dokumentasi jelajah bike

Di antara kelima riam itu ada dua titik yang berkategori jeram, yakni jeram domba dan jeram kecapi. Di lokasi tersebut menghasilkan turbelensi perahu cukup kuat dan memiliki riak berbusa dari air sungai. Melewati jeram-jeram ini membuat jantung berdebar juga, namun sangat seru.

“Waahh asyik banget main arung jeram. Riam dan jeram tidak terlalu berat, tetapi sangat seru dan menantang. Bikin jantung berdebar, tetapi begitu membahagiakan. Keren abis deh,” kata Qurniawansyah, pesepeda asal Palembang.

Kami menghabiskan waktu selama kurang lebih 1,5 jam bermain arung jeram dengan sekali istirahat. Di lokasi istirahat disediakan kelapa muda dan buah melon serta semangka. Di lokasi itu ada beberapa warung kecil yang berada persis di tepi sungai.

Perahu karet saat melewati salah satu jeram. Tampak buih air sungai membuat arung jeram ini semakin menarik pada Minggu (19/2/2023). Foto: dokumentasi jelajah bike

Di sepanjang jalur rafting, kami menyaksikan deretan ratusan glamping di tapi sungai. Ada yang areanya masih sederhana. Ada pula yang tertata rapi dengan arsitektur yang menarik. Pagi itu, glamping-glamping nyaris tidak ada yang kosong.

Kris, pengelola Palayangan Asri RiverSide menyebutkan permintaan penggunaan glamping di Pangalengan terus meningkat. Bahkan, pada pertengahan pekan pun glamping yang tersedia selalu terisi penuh. Permintaan membludak terjadi pada akhir pekan dan saat liburan.

Bahkan, peminat terbesar adalah keluarga. Orangtua mengajak anak-anaknya beriwisata di alam terbuka sekaligus kemping dengan fasilitas lengkap. “Kecenderungan itu yang coba ditangkap para pemain wisata outdoor dengan menawarkan fasilitas yang lebih lengkap dan permainan yang bervariasi, seperti rafting,” jelas Kris.

Saat ini, rafting di Sungai Palayangan dilayani sekitar 400 perahu karet. Setiap perahu dapat dioperasikan tiga hingga empat kali per hari. Pada akhir pekan atau saat liburan, frekuensinya bisa lebih dari lima kali. Efeknya pendapatan para pemandu perahu juga bertambah.

“Perputaran uang dari usaha glamping dan rafting di Pangalengan cukup besar. Uang  dinikmati merata oleh seluruh kelompok masyarakat,” ungkap Kris seraya mengungkapkan masih banyak kekurangan dalam pengelolaan pariwisata alam terbuka di Pangalengan.

Yang menarik dan seru dari arung jeram adalah saat melewati riam dengan buih air yang tebal. Ini sepertinya mengerikan, padahal sangat menarik. Ini yang terjadi juga dalam arung jeram di Sungai Palayangan, Pangalengan, Minggu (19/2/2023). Foto: dokumentasi jelajah bike.

Salah satu persoalan yakni tempat parkir kendaraan yang masih sangat terbatas. Selain itu, penataan lokasi kemping dan penyediaan fasilitas yang dibutuhkan pengunjung. “Kami perlu belajar lagi banyak hal terkait pengelolaan pariwisata alam terbuka, baik manajemen pengelolaan kemping, penataan lokasi, sumber daya manusia, pengelolaan keuangan dan lainnya,” ujarnya.

Minggu (19/2/2023) sekitar pukul 11.00 WIB, kami pun meninggalkan Pangalengan menuju Padalarang. Perjalanan pulang ini tetap mengayuh sepeda melewati Banjaran dan Soreang. Jalur ini lebih banyak menurun, namun hari itu arus lalu lintas cukup padat. Sekitar pukul 14.00 sebagian peserta sudah tiba di Kota Baru Parahyangan, lalu kembali ke kota asal masing-masing.

Baca juga:

Memulai Kayuh dari Pangalengan

1 KOMENTAR

  1. Alhamdulillah
    Top banget dan begitu kompak bersahabat semua … tanjakan 1.000 meter lebih jadi ngak terasa karrna guyup happy semangat akrab dan puas dengan pemandangan yang indah cuaca yang syahdu ……

    Makasih Jelajah.bike om Jannes acaranya seru pisan euy

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Resmi Internet Site Sinden Pin Up Turkey Online On Line Casino Uygulamasını ️ Indiri

Resmi Internet Site Sinden Pin Up Turkey Online On Line Casino Uygulamasını ️ IndirinPinup Bet Türkiye'deki Bahis Ve...

Jelajah Toba Samosir (2), Berbahagia Bersama Om Octo

Oleh: JANNES EUDES WAWA Minggu (29/10/2023) dinihari, kawasan Pangururan, Pulau Samosir dan sekitarnya diguyur hujan lebat. Menjelang pagi, volumenya...

Jelajah Toba Samosir (1), Nikmati Gowes dan Mandi Hujan

Oleh: JANNES EUDES WAWA Berada di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara, pada penghujung Oktober 2023 lalu seolah sedang di...

JCS Surakarta, Berat dan Menantang

Oleh: JANNES EUDES WAWA Comoro Kandang di kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjelang petang, suhu mulai dingin....