Menikmati Bali dari Sadel Sepeda

tanggal:

Share post:

Sejumlah warga Bali bersama wisatawan sedang berdoa di Pura Gunung Kawi, Kabupaten Gianyar. Foto: Jannes Eudes Wawa

Selama terkena wabah pendemi virus corona (Covid) 19, dunia sepeda menghadapi dua wajah yang bertolak belakang. Di satu sisi permintaan sepeda melonjak tajam hingga beberapa ratus persen. Toko sepeda diserbu pembeli. Harga sepeda meroket tinggi, tetapi semuanya laku terjual. Permintaan jauh melampaui persediaan.

Namun pada sisi lain aktivitas bersepeda begitu terbatas. Pesepeda hanya bersepeda  di sekitar kawasan permukiman, atau dari rumah menuju kantor dan sebaliknya. Sejak awal Agustus 2020, beberapa komunitas mulai menggiatkan gowes terbatas dalam jarak pendek. Tetapi, event perjalanan (touring) sama sekali belum berjalan.

Banyak pesepeda berkali-kali menanyakan kepada kami: “Om, kapan kita touring lagi?” Ada lagi yang bilang begini, “Kalau di rumah terus, badan ini bisa melar lho! Om, jaga jarak itu mudah. Yang sulit itu jaga timbangan. Ayo bikin touring  lagi dong!”

Atas “gosokan” teman-teman itu, kami dari Jelajah Susur Persada (JSP) pun mulai merencanakan touring. Setelah diskusi mendalam, kami memutuskan bikin event perjalanan bersepeda di Bali. Menikmati alam dan keunikan Pulau Dewata dari atas sadel sepeda.

Krisis mendalam

Mengapa Bali? Pilihan jatuh pada Bali, sebab wilayah ini boleh dibilang mengalami krisis terparah selama serangan wabah Covid-19. Selama ini  Bali telah menjadikan sektor pariwisata sebagai jantung kehidupan ekonomi masyarakatnya. Segala sektor digarap dan dikelola secara serius dan profesional untuk menggerakkan pariwisata.

Persawahan dan pertanian digarap dengan baik, dan menjadi tujuan wisata. Bahkan, tidak sedikit pula ada villa atau penginapan turis berada di tengah sawah. Banyak wisatawan asing memilih tinggal di tengah sawah untuk menikmati keindahan alam.

Di Bali juga banyak hadir tempat pelatihan yoga dan meditasi. Banyak wisatawan asing datang ke Bali khusus hanya ingin belajar yoga dan meditasi. Kedua jenis olah tubuh ini pun masuk kategori wisata spiritual, dan memperkuat pariwisata di Bali.

Namun pendemi Covid-19 telah membatasi ruang gerak seluruh warga dunia demi mencegah penyebaran dan penularan virus mematikan tersebut. Masyarakat dunia telah lebih dari setahun dipaksa harus di rumah saja. Tidak boleh melakukan perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain, termasuk antarkota dan antarnegara. Bekerja pun dari rumah. Belajar juga dari rumah. Kondisi buruk tersebut belum juga memberi tanda akan berakhir.

Pantai Kuta di Bali yang biasanya dipenuhi wisatawan, selama dilanda pendemi Covid-19, pantai ini lengang. Nyaris tidak ada wisatawan. Foto: Jannes Eudes Wawa

Kebijakan ini menimbulkan krisis ekonomi  yang besar di seluruh dunia. Volume kunjungan wisatawan ke Bali pun langsung merosot tajam. Padahal, kedatangan wisatawan merupakan “nyawa” bagi ekonomi masyarakat di pulau tersebut.

Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali selama tahun 2020 hanya 1.050.060 orang. Jumlah ini menurun 83,26 persen dibanding tahun 2019 mencapai 6.275.210 orang. Bahkan, pada Mei 2020, misalnya, wisatawan asing yang berkunjung ke Bali hanya 36 orang, atau turun 99,99 persen dibanding bulan Mei 2019 mencapai 486.602 orang. Pada April 2020, kunjungan wisatawan asing sebanyak 327 orang.

Begitu pula pada Desember 2020, wisatawan asing yang masuk ke Bali tercatat hanya 150 orang yang meliputi 127 orang datang melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, dan 23 wisatawan masuk melalui Pelabuhan laut. Jumlah ini turun 99,97 persen dibanding bulan yang sama pada 2019. Sementara wisatawan domestik yang ke Bali tahun 2020 pun hanya 4.596.167 orang atau turun 56,41 persen dibanding tahun 2019 mencapai 10.545.039 orang.

Contoh lain adalah dari data Statistik Lalu Lintas Udara juga mengungkap pergerakan penumpang selama Januari 2021 di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, Bali yaitu sebanyak 212.397 orang. Jumlah tersebut menurun 90 persen dibanding periode yang sama tahun 2020 mencapai 2.122.632 penumpang. Sementara pergerakan pesawat pada Januari 2021 sebanyak 3.575 unit, atau merosot  74 persen dibanding Januari 2020 yang mencapai 13.839 unit.

Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga kini masih sepi. Belum banyak maskapai yang melayani rute tujuan Bali. Foto: Jannes Eudes Wawa

Kondisi tersebut membuat sektor pariwisata di Bali benar-benar ambruk. Banyak tempat usaha di kawasan Kuta, Legian dan lainnya terpaksa dibiarkan terlantar atau ditutup karena para pemilik tidak sanggup lagi mengelola. Tidak sedikit pula pengusaha terpaksa menjual aset agar bisa bertahan atau menghidupi karyawannya. Ribuan pekerja kehilangan pekerjaan.

Hotel berbintang sempat memberi potongan harga yang sangat besar, seperti inap sebulan hanya Rp 3 juta. Tetapi penawaran ini pun sepi peminat. Semua lini usaha sektor pariwisata di Bali rontok. Kerugian ekonomi setempat selama pendemi Covid-19 ditaksir mencapai Rp 9 triliun per bulan. Krisis ini jauh lebih buruk dibanding saat Bali dihantam bom pada 12 Oktober 2002. Hingga kini, pertumbuhan ekonomi Bali masih minus 9 persen, dan sulit diprediksi kapan krisis ini akan berakhir.

Persoalan bagi Bali

Mengapa perekonomian di Bali masih berada di jurang yang sangat dalam? Padahal, di Pulau Jawa, misalnya, ekonomi lokal mulai menggeliat meski belum normal.

Ada beberapa alasan yang bisa ditarik. Pertama, adanya dominasi sektor pariwisata yang luar biasa dalam perekonomian di Bali. Ada yang menyebut kontribusinya mencapai 69,36 persen.

Akan tetapi, saya menilai peran sektor pariwisata mencapai 85 hingga 90 persen bagi masyarakat di Bali. Alasannya, sektor pertanian dan industri kecil yang berkembang pesat di Bali juga karena disokong pariwisata melalui kunjungan wisatawan. Sejauh ini nyaris tidak ada sektor yang mampu eksis di Bali tanpa ditopang pariwisata. Maka, ketika pariwisata tak bergerak seperti selama pendemi Covid-19 ini, seluruh sektor ikut lumpuh.

Kedua, ekonomi Pulau Jawa mulai menggeliat karena memiliki wilayah yang luas yang berbentuk memanjang. Setiap saat selalu ada mobilitas manusia dan barang dari desa ke kota atau sebaliknya, dan antarkota dari timur ke tengah, dan barat, atau sebalikya, juga dari utara ke selatan, atau sebaliknya.

Pergerakan ini meski masih terbatas, namun menghidupkan ekonomi lokal. Apalagi didukung tetap beroperasinya industri-industri sekala menengah dan besar.

Sebaliknya, Bali hanyalah pulau kecil seluas 123,98 kilometer persegi. Masyarakat di setiap wilayah memiliki aktivitas yang hampir sama yang mengandalkan pada kunjungan wisatawan dari luar Bali. Ketiadaan kunjungan hanya membuat ekonomi di Bali lumpuh.

Pura Batukau di Tabanan hingga kini masih sepi pengunjung. Dalam situasi normal, pura ini setiap hari dikunjungi ratusan hingga wisatawan. Foto: Jannes Eudes Wawa

Ketiga, hingga saat ini masih banyak orang yang belum berani bepergian jauh dengan menggunakan pesawat. Ada kekhawatiran berada di dalam pesawat untuk waktu minimal 30 menit dengan orang-orang yang tidak dikenal berpotensi menimbulkan penyebaran virus corona 19. Persepsi tersebut pula yang mengakibatkan perjalanan wisatawan domestik ke Bali masih sepi.

Perputaran uang

Terhadap ketiga persoalan itu, Agus Yanto, pengelola sebuah hotel berbintang di Bali menilai, ekonomi di wilayah itu hanya bisa diatasi melalui penyelenggaraan event. Adanya event yang menarik akan menyedot banyak orang mengunjungi Bali. Jika event-event itu terlenggara setiap pekan, maka berpotensi mendatangkan ribuan orang ke Pulau Dewata.

“Ekonomi Bali ini bisa bergerak lebih cepat jika ditopang dengan penyelenggaraan event, seperti olahraga dan lain sejenisnya. Kegiatan itu menggerakkan banyak pihak dan menghidupkan banyak orang secara merata, seperti sopir taksi, restoran, hotel, pertokoan, industri kecil dan lainnya,” ujarnya.

Dia tidak terlalu sepakat dengan gagasan bekerja dari Bali (WFB). Program ini hanya dilakukan segelintir pejabat dan cuma menghidupkan sebagian kecil orang di kawasan tertentu pula.

Hal senada ditegaskan Yudi Irawan, pelaku usaha lainnya di Bali. Menurut dia, Bali tidak bisa mengandalkan diri sendiri untuk segera keluar dari krisis ekonomi yang mendalam ini. Kondisi ini sebagai efek dari dominasi sektor pariwisata terhadap seluruh lini kehidupan masyarakat di Bali.

Pilihannya adalah memperbanyak penyelenggaraan event di Bali. Melalui event yang menarik, potensi mendatangkan wisatawan ke Bali semakin tinggi. Event yang ideal adalah olahraga dan petualangan. Kegiatan ini berlangsung di luar ruangan sehingga peserta bisa sekaligus berwisata dan meningkatkan daya tahan tubuh. Potensi kerumunan pun bisa terkendali. Protokol kesehatan Covid-19 tetap terlaksana dengan baik.

“Daripada bikin program bekerja dari Bali lebih baik pemerintah mendorong BUMN dan perusahaan swasta lainnya mensponsori penyelenggaraan event di Bali. Hanya melalui event bisa mendorong orang mendatangi Bali,” tegas Yudi.

Itu sebabnya, melalui event, seperti touring sepeda, Jelajah Bali Bike pada 19-20 Juni 2021 yang diikuti 165 orang, dimana 99,9 persen berasal dari luar Bali diyakini ikut menggerakkan kembali ekonomi lokal. Apalagi, banyak peserta datang bersama keluarga, dan berencana berada di Bali lebih dari empat hari. Panitia Jelajah Bali Bike memprakirakan perputaran uang di Bali melalui event yang disponsori Bank BRI ini mencapai minimal Rp 1,2 miliar.

“Kami mendukung penuh penyelenggaraan Jelajah Bali Bike. Kami memberikan rekomendasi agar kegiatan ini terlakasana, sebab kami yakin hanya melalui event-event yang baik, wisatawan rela datang ke Bali. Ini akan sangat membantu proses pemulihan ekonomi di Bali. Yang penting selalu taat protokol kesehatan,” kata Kepala Pelaksana Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Provinsi Bali I Made Rentin.

Touring hari pertama dimulai dari Hotel Santika Kuta, dan berakhir di Hotel CLV Bedugul. Perjalanan ini melewati Legian, Tanah Lot, Tabahan, Pura Batukau, Jatiluwih, Air Panas Angseri, dan Bedugul. Total jarak sekitar 93 kilometer.

Di jalur ini, banyak panorama menarik. Selain Tanah Lot yang sudah sangat popular, kami juga melewati Jatiluwih. Wilayah ini merupakan areal persawahan yang masih merawat tradisi sistem pengairan Bali yakni subak. Persawahan Jatiluwih sudah ditetapkan sebagai warisan budaya bunda  benda oleh UNESCO pada 2012.

Persawahan Jatiluwih di Tabanan sejak tahun 2012 ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya bukan benda. Foto: Jannes Eudes Wawa

Padi merah Bali merupakan varietas padi lokal yang ditanam di Subak Jatiluwih. Budidayanya tidak menggunakan pestisida. Bahkan, warna, bau, dan rasa beras merah Jatiluwih ini sangat khas sehingga menjadikan beras ini produk unggulan. Hal ini menjadi salah satu faktor ditetapkan sebagai warisan budaya bukan benda UNESCO. Beras merah dari Subak Jatiluwih telah menembus pasar internasional.

Hari kedua dengan rute Bedugul, Ubud, Tampak Siring, dan Ketewel dengan jarak sekitar 103 kilometer. Perjalanan ini melewati Baturitih, Sulangai, Sangeh, Ubud, Ceking, Tampak Siring, Gua Gajah, Pasar Sukawati, dan finish di Bentara Budaya Bali (Ketewel). Makan siang kali ini lokasinya keren, di tengah persawahan di Ubud.

Penyelenggaraan Jelajah Bali Bike ini diharapkan dapat memancing pihak lain untuk ikut melakukan berbagai kegiatan sejenis lainnya di Bali. Semakin banyak event  menarik digelar di Bali, maka makin banyak pula orang mengunjungi Pulau Dewata.

Kedatangan wisatawan yang terus meningkat otomatis menghidupkan kembali dan meningkatkan ekonomi Bali. Perputaran uang kian banyak. Pemulihannya pun lebih cepat terwujud. Tentu saja wajib dibarengi dengan keseriusan menjalankan protokol kesehataan  Covid-19 yang ketat.

JANNES EUDES WAWA
Pegiat Touring Sepeda

4 KOMENTAR

  1. Manstabs Om.Jannes, maju terus Om, semoga para olahragawan peserta bisa menikmati event JELAJAH BALI BIKE bisa menikmati keindahan Bali dan tetap sehat

  2. BALI ..
    tujuan wisata yang tidak pernah membosankan ..
    tak sabar untuk segera ke sana lagi dan lagi ..
    gowes menikmati suasana yang indah ..
    semoga pandemi segera berlalu ..

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Registrasi Jelajah IKN 2022

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur...

Semalam di Pulau Terselatan Indonesia

  Meski berstatus sebagai pulau terselatan Indonesia, tidak satu pun warga sipil yang menghuni di Ndana. Itu sebabnya, pulau...

Sport Jantung di Perairan Terselatan Indonesia

Perairan selatan selalu memiliki ombak tinggi. Ndana, sebagai pulau terselatan Indonesia juga terkenal memiliki  gulungan ombak yang panjang,...

Air Mata Berlinang di Pulau Terselatan Indonesia

Banyak cara dilakukan masyarakat Indonesia dalam merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Puluhan pesepeda dari berbagai kota memilih...