Susur Borobudur: Pedas, Manis, Sedap …

tanggal:

Share post:

 

Pegunungan Menoreh di selatan Borobudur, Jawa Tengah, memiliki jalan beraspal mulus dengan hutan pinus yang lumayan lebat. Tetapi, jalur ini selalu dihindari pesepeda, sebab memiliki tanjakan dan turunan tajam berkali-kali yang berat. Pada 19 Maret 2022 lalu, touring sepeda Susur Borobudur melewati jalur itu. Kesan peserta begitu mendalam.

Dyah Purwanti, pesepeda dari Yogyakarta mengatakan, dirinya mengetahui persis jalur di Pegunungan Menoreh. Tanjakan dan turunan sama-sama beratnya. Itu sebabnya, selama ini selalu menghindari untuk gowes di kawasan tersebut. Pesepeda lokal pun jarang bersepeda di jalur ini.

Akan tetapi, dia nekat mengalahkan semua kegalauan terkait jalur Pegunungan Menoreh demi mengikuti Susur Borobudur. Alasannya, dalam event ini tidak sekedar gowes, melainkan ingin bertemu kembali dengan sahabat-sahabat pesepeda dari pelbagai kota yang telah lama tidak bersua gara-gara serangan wabah virus korona (Covid)-19.

“Jujur, saya ga pernah mau diajak gowes ke area sana (Pegunungan Menoreh). Tapi karena kangen seru-seruan dengan teman-teman, jadilah saya memasrahkan diri mendaftar. Alhamdulillah masuk finis masih di rombongan awal dengan guyuran hujan lebat di pertigaan Candi Mendut,” tulis Dyah dalam akun instagramnya.

Dyah Purwanti (paling depan) bersama peserta Susur Borobudur sedang bersepeda di kaki Pegunungan Menoreh, Sabtu (19/3/2022). Udara pagi yang sejuk membuat suasana gowes begitu menarik. Foto: dokumen jelajah bike

Fadli, pesepeda dari Manokwari, Papua Barat, mengaku, untuk mengikuti Susur Borobudur ini, dia bersama beberapa temannya setiap hari rutin latihan bersepeda minimal 80 kilometer dengan rute jalan datar, tanjakan dan turunan. Hal itu cukup membantu mereka selalu berada di barisan terdepan, dan masuk finish lebih awal.

Kendati demikian, jalur Pegunungan Menoreh sungguh menantang. Tanjakan dan turunannya berkali-kali. Medannya berat sekali. “Treknya luar biasa, bikin katong (kami) ngap ngap. Suatu pengalaman dan pelajaran buat kami agar ke depan kami semakin bersemangat untuk bersepeda,” ujar Fadli.

Mariany Pirono, pesepeda dari Manokwari juga punya kesan yang mendalam. Dia  melukiskan rute yang dilewati hanya dalam satu kalimat pendek;  “Susur Borobudur ini pedas, manis, sedap”.

Kesan serupa juga diungkapkan Siti Nurhasih asal Bogor. “Jalurnya sangat berkesan. Pemandangan bagus diselingi tanjakan yang menyiksa, tapi nggak bikin kapok. Alhamdulillah selamat sampai tujuan,” ujarnya. 

Awalnya memanjakan

Susur Borobudur merupakan event touring sepeda yang dilakukan Jelajah Bike pada 19 Maret 2022. Jaraknya hanya sekitar 100 kilometer dengan start dan finis di Candi Pawon. Akan tetapi, perjalanan tersebut sangat menantang. Rute yang dilewati, terutama kawasan Pegunungan Menoreh merupakan jalur yang cenderung dihindari para pesepeda setempat.

Perjalanan dimulai dari Candi Pawon menuju ke arah Candi Rejo, Balkondes Argo Gondo, Rumah Kamera, Balkondes Ngadiharjo, Plataran, pintu 7 Candi Borobudur, lalu masuk kawasan candi, keluar di pintu delapan, terus menuju Salaman. Hingga 25 kilometer pertama, peserta benar-benar dimanjakan oleh panorama pagi hari di kawasan Borobudur yang sungguh indah menawan.

Jalurnya landai, sekali-kali turunan, nyaris tanpa tanjakan. Apalagi berkesempatan masuk ke kawasan Borobudur dan bisa melihat dengan jelas Candi Borobudur yang begitu melegenda itu.

“Sebagai pemanasan, rute selama 20an kilometer pertama ini benar-benar keren. Peserta benar-benar dimanjakan, kayak dielus-elus. Tetapi, dalam hati saya curiga juga. Jangan-jangan setelah itu bakalan energi dikuras habis,” kata M Roghibi alias Rocky pesepeda dari Kota Bekasi, Jawa Barat yang mengaku tidak sempat membaca gambaran rute yang diinfokan panitia melalui group whatsapp.

Para peserta Susur Borobudur begitu bahagia saat berfoto bersama di dalam kawasan Borobudur dengan latar belakang candi. Foto: Dokumen Jelajah Bike.

Kemiringan tajam

Benar saja. Selepas Salaman atau memasuki kilometer 27, Susur Borobudur mulai memasuki wilayah Pegunungan Menoreh. Dimulai dengan tanjakan Sijeruk. Tanjakan ini sebetulnya tidak terlalu panjang. Jaraknnya hanya sekitar 1 kilometer. Tetapi kemiringannya mencapai 20 persen. Ini yang bikin ngehe. Sebagian besar peserta harus rela menuntun sepedanya.

Setelah itu, menghadapi lagi turunan yang tajam pula. Demi keselamatan, tidak sedikit pula peserta terpaksa menuntun lagi sepedanya. Ada pula yang rela membuka sepatu, dan berjalan kaki beralaskan kaos kaki. Ada lagi peserta yang dituntun peserta lainnya sekitar 50an meter.

“Jalur ini benar-benar edan. Ramai-ramai tuntun sepeda. Jalan kaki tanpa sepatu di tanjakan dan turunan. Ini baru seru. Benar-benar seru. Tetapi sangat pedes. Pedesnya bisa mencapai level 10,” ungkap Arie Kurnianingsih, peserta dari Jakarta.

Di jalur ini, peserta yang gowes dituntut harus ektra hati-hati dan penuh konsentrasi serta tidak boleh terpengaruh pesepeda lainnya yang melaju kencang saat menurun. Rem sepeda dalam kondisi terbaik. Yang ragu-ragu disarankan menuntun saja sepedanya.

Seorang peserta terpaksa mendekatkan sepedanya ke tebing di sebelah kanan jalan saat mengetahui rem sepedanya bermasalah.  Itu dilakukan guna menghindari risiko lebih besar.

Selepas turunan itu, beberapa kali menghadapi tanjakan-tanjakan pendek diselingi turunan. Sekitar tujuh kilometer menjelang makan siang atau memasuki kilometer 40, gowes harus melewati tanjakan lagi yang cukup panjang sekitar tujuh kilometer dengan kemiringan sekitar 15 derajat. Makan siang di kilometer 47.

Meski berat, rombongan terdepan, yakni Kang Coe sebagai marshal mendampingi sejumlah peserta antara lain Mariany Pironi, Yitno, Fadli tiba di lokasi makan siang sekitar pukul 10.45. “Setelah turunan di kilometer 29, saya sengaja menarik peserta terdepan untuk gowes pada kecepatan sekitar 10 kilometer per jam. Beberapa peserta bisa mengikuti sehingga kami bisa tiba di tempat makan siang sebelum jam 11.00,” jelas Kang Coe.

Sementara itu, peserta paling terakhir masuk lokasi makan siang sekitar pukul 13.15. Bahkan, beberapa di antaranya terpaksa meminta dilakukan evakuasi di kilometer 40 hingga kilometer 45, sebab energi mereka telah terkuras sangat banyak ketika melewati beberapa tanjakan dari kilometer 30.

Sebetulnya lokasi makan siang baru sekitar 47 persen dari total perjalanan dalam Susur Borobudur. Meski demikian, sebagian peserta tidak bergegas untuk melanjutkan gowes. Mereka ingin menikmati kawasan Pegunungan Menoreh yang sejuk dan tenang, jauh dari bising kendaraan bermotor.

Amat berkesan

Pegunungan Menoreh membentang di wilayah barat Kabupaten Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebelah timur Kabupaten Purworejo dan sebagian wilayah selatan Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Puncak tertinggi berada di Gunung Ayamayam yang memiliki ketinggian 1.021 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Di masa silam, Pegunungan Menoreh dikenal sebagai basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam Perang Jawa (1825-1830) saat melawan Hindia Belanda. Salah satu putra Pangeran Diponegoro dari istri R Ay Mangkorowati, yakni Bagus Singlon atau Raden Mas Sodewa memimpin perlawanan di wilayah itu. Raden Mas Sodewo atau Ki Sodewa bertempur di wilayah Kulon Progo mulai dari pesisir selatan hingga di Bagelen dan Samigalih.

Selepas makan siang, perjalanan dilanjutkan melewati hutan pinus nan syahdu. Di antara hutan-hutan itu ada rumah-rumah penduduk. Jumlahnya terbatas. Namun jalan raya yang ada  beraspal mulus. Jalan raya itu menghubungkan beberapa daerah di sekitar pegunungan.

Perjalanan terus melaju hingga mendekati Goa Kiskendo. Konon, goa ini ditemukan pada 200 tahun silam. Dulu, para leluhur disebut-sebut memanfaatkan goa tersebut untuk bertapa mencari ketenangan dan pencerahan. Terdapat sembilan gua kecil yang di masa silam dijadikan sebagai ruang untuk bertapa. Pemerintah DI Yogyakarta mengelolanya sejak tahun 1979.

Kriskendo merupakan sepenggal cerita dalam pewayangan. Kriskendo sebutan sebuah kerajaan di bumi yang dikendalikan manusia berkepala kerbau dan sapi yakni Maerasura dan Lembusasura.

Sugriwo dan Subali pemilik asli kerajaan itu datang merebutnya. Kedua dalam wujud setengah kera dan setengah manusia lalu menghancurkan Maerasura dan Lembusasura. Terjadilah pertempuran sengit. Subali terkubur dalam tanah, dan Sugriwo kembali ke langit. Subali akhirnya bisa keluar dari lobang dengan cara menjebol tanah, dan terciptalah goa.

Kini, kawasan Goa Kriskendo tidak hanya menyuguhkan wisata goa. Di sana juga ada terater terbuka di tengah taman yang sering dimanfaatkan untuk menggelar pelbagai jenis pertunjukan kesenian dan budaya.

Dari Goa Kriskendo, Susur Borobudur turunan tajam di Bibis. Turunan bertingkat tiga ini mula-mula hanya sekitar 100 meter. Setelah itu memasuki jalan landai sekitar 50 meter, lalu masuk turunan berikutnya disertai satu tikungan, kemudian menghadapi turunan yang cukup panjang sekitar empat kilometer dengan beberapa tikungan.

Pihak panitia sudah menempatkan sejumlah petugas di sejumlah titik untuk terus mengingatkan peserta agar berhati-hati saat melewati turunan itu. Selalu mawas diri dan tetap mengendalikan diri. Bagi yang tidak percaya diri lebih baik dievakuasi menuju jalan datar. Ada dua peserta sempat mengalami insiden.

Oon Nusihono, pesepeda asal Tangerang Selatan, Banten, menilai jalur Susur Borobudur ini sangat luar biasa. “Jaraknya pendek, tetapi sangat berat. Tanjakannya luar biasa. Ke depan, jika ada turunan yang tajam, peserta perlu terus diingkatkan lagi tentang kewajiban safety equipment (perlengkapan keselamatan),” ujarnya.

Setelah melewati turunan Bibis, perjalanan melewati jalan datar dengan sedikit tanjakan halus sejauh kurang lebih 35 kilometer hingga masuk finis di Candi Pawon. Peserta terdepan masuk finish sekitar pukul 15.25 WIB, dan peserta terakhir tiba pukul 19.40.

Rute Susur Borobudur ini sebetulnya tidak berat sepanjang jalan. Yang berat hanya dari kilometer 27 hingga kilometer 65. Dalam rentang jarak sekitar 38 kilometer tersebut ada sejumlah tanjakan dan turunan yang berat yang menguras energi, menuntut mawas diri dan konsentrasi tinggi.

Suasana di tempat start Susur Borobudur, persis di depan Candi Pawon. Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

“Susur Borobudur ini walau hanya touring sehari, tetapi amat berkesan. Mulai dari start hingga finish sangat menarik. Panorama alamnya keren. Jalurnya benar-benar takkan terlupakan,” ujar David Sutanto, pesepeda asal Kelapa Gading, Jakarta. ***

JANNES EUDES WAWA
Pengelola Jelajah Bike

Baca juga:

Gowes ke SHSD Ciganea, Tergoda Presiden Jokowi

4 KOMENTAR

  1. Suka sama ulasannya, seperti berasa ujut dalam rombongan dan komplit dengan dokumentasi keakraban antar peserta khas Jelajah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Jelajah IKN, Melihat Kota Sepeda Masa Depan

Oleh: JANNES EUDES WAWA Nusantara, kota masa depan Indonesia di Penajam, Kalimantan Timur kini menjadi magnet baru. Magnet ibu...

Jelajah IKN, Menjawab Penasaran Pesepeda

Siapa pun dia pasti penasaran dengan Ibu Kota Nusantara, kota masa depan Indonesia. Apalagi, berkali-kali Presiden Joko Widodo...

Jelajah Toba Samosir, Ibarat Kayuh di Atas Awan

Sebagai negara tropis, mengayuh sepeda di Indonesia umumnya menghadapi cuaca panas dengan terik matahari yang menyengat. Akan tetapi,...

Registrasi Jelajah IKN 2022

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur...