“Virus” Sepeda Di Tengah Virus Covid-19

 

Ratusan pesepeda dari berbagai daerah mengikuti touring sepeda di Sumatera Barat, beberapa waktu lalu sebelum dilanda wabah Covid-19. Mereka meluapkan kegembiraan saat tiba di monumen Jam Gadang di Bukit Tinggi. Foto: Dokumen Kompas Bike

Oleh: JANNES EUDES WAWA

Dalam dunia persepedaan, serangan wabah pendemi virus corona 19 selama ini bukan semata-mata sebagai tragedi yang memilukan. Covid-19 justru menjadi momentum kebangkitan dunia sepeda. Warga semakin giat bersepeda. Permintaan sepeda melonjak tajam.

Hingga awal Maret 2021 tercatat sekitar 2,5 juta penduduk dunia yang meninggal akibat serangan wabah Covid-19. Setiap hari korban masih terus berjatuhan. Warga yang dinyatakan positif terkena virus itu pun masih bermunculan. Namun, hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk menangkal wabah mematikan tersebut.

Salah satu cara untuk menekan dan mengendalikan laju penyebaran wabah Covid-19 adalah vaksinasi. Sejak pertengahan Januari 2021, Indonesia mulai melakukan vaksinasi Covid-19. Yang didahulukan adalah tenaga kesehatan, warga lanjut usia (lansia), tenaga pendidik, pelayan publik, tokoh agama,pejabat pemerintah, aparatur sipil negara, pekerja media, kemudian masyarakat umum.

Hingga 14 Maret 2021, tercatat sebanyak 4,02 juta orang yang telah divaksinasi dosis pertama. Jumlah ini baru sekitar 2,2 persen dari target vaksinasi sebanyak 181.554.465 penduduk Indonesia. Sedangkan, yang telah mendapatkan suntikan dosis kedua vaksin covid-19 sebanyak 1,46 juta orang. Presiden Joko Widodo menginginkan vaksinasi ini tuntas dalam setahun sehingga roda ekonomi pun mulai bergerak lebih cepat.

Kebangkitan sepeda

Sejak merebak kasus covid-19, sebagian besar kegiatan lumpuh. Aktivitas perkantoran, bisnis, sekolah dan lainnya umumnya dilakukan dari rumah melalui daring. Produktivitas merosot tajam. Di mana-mana terjadi pengurangan tenaga kerja.

Sebaliknya, dunia persepeda mengalami kemajuan signifikan. Selama April sampai Desember 2020, pertumbuhan sepeda di seluruh dunia diperkirakan empat hingga enam kali lipat dari kondisi sebelum adanya wabah pendemi covid-19.

Kenaikan paling signifikan terjadi pada April dan Mei 2020. Saat itu penjualan sepeda di Indonesia, misalnya, meningkat 10 kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2019. Stok yang ada di gudang dikeluarkan guna memenuhi permintaan yang begitu luar biasa. Eforia tinggi ini di luar dugaan sehingga semua pelaku industri persepedaan pun kelabakan.

Harga di pasaran pun melonjak gila-gilaan, di luar batas kewajaran. Berapa pun harga yang ditawarkan selalu terjual. Itu sebabnya, hampir semua toko sepeda sempat kehabisan stok selama beberapa bulan. Bengkel sepeda pun tidak pernah sepi setiap hari. Pendapatan meroket.

Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) menyebutkan penjualan sepeda di Indonesia pada tahun 2020 mencapai kurang lebih 8 juta unit. Ini terjadi peningkatan sekitar empat kali lipat dari tahun 2019. Dari 8 juta unit itu, yang dipenuhi dari produksi dalam negeri berkisar 3 juta unit hingga 3,5 juta unit. Selebihnya diimpor dari Taiwan, China dan sejumlah negara lainnya.

Yang menarik lagi, penjualan sepeda itu mengalahkan sepeda motor. Selama tahun 2020, sepeda motor yang laku terjual sebanyak 4.361.008 unit meliputi penjualan domestik 3.660.616 unit dan ekspor 700.392 unit. Jumlah penjualan sepeda motor ini turun 43,57 persen dibanding tahun 2019 mencapai 6.487.460 unit.

Lebih mengagetkan lagi berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor sepeda Indonesia selama Januari-November 2020 meningkat 27,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Nilainya mencapai 103,37 juta dollar AS. Kontribusi terbesar atas nilai ekspor sepeda ini adalah jenis sepeda balap sebesar 32,85 persen dan sepeda lainnya sebesar 30,6 persen.

Negara tujuan ekspor antara lain Inggris, Australia, Denmark, Swedia, Kanada, Belanda, Singapura, Malaysia dan Jepang. Ekspor ini dimaklumi, sebab ada sejumlah pabrik sepeda di Indonesia telah dipercaya memproduksi sejumlah merek terkenal di Eropa dan Amerika Serikat.

Touring sepeda adalah salah satu kegiatan untuk merawat semangat bersepeda. Olahraga yang memadukan dengan wisata ini makin diminati pesepeda. Seperti dalam foto, sejumlah pesepeda dari Jakarta dan sekitarnya sedang bersepeda di Banda Aceh, dan menyinggahi Masjid Agung Baiturrahman. Foto: Jannes Eudes Wawa

Event mandek

Ironinya, meski semangat bersepeda di kalangan masyarakat begitu tinggi, tetapi tidak otomatis para pesepeda bersedia mengikuti event sepeda yang ditawarkan penyelenggara selama masa pendemi ini. Selama satu tahun terakhir, nyaris tidak ada event besar, seperti touring jarak jauh atau touring sehari yang melibatkan ratusan orang.

Sejumlah event besar yang telah disiapkan matang untuk dilakukan pada tahun 2020 terpaksa dibatalkan atau ditunda, mengingat kasus positif covid-19 terus meningkat. Ada pula yang tetap digelar, tetapi jumlah pesertanya terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat.

Yang ada hanya kegiatan-kegiatan kecil melibatkan peserta dalam jumlah terbatas, seperti gowes sambil berkemah (bike camp) atau gowes bareng. Kegiatan ini lebih bertujuan untuk menjaga relasi antarpesepeda, atau internal komunitas. Banyak pesepeda agak parno jika melihat orang dalam jumlah banyak. Ada pula yang tidak diizinkan keluarga.

Saya teringat ketika Jelajah Susur Persada (JSP) hendak menggelar acara bersepeda dan kemping (bike camp) di Hutan Wisata Bukit Waruwangi, Kabupaten Serang, Banten, pada  17-18 Oktober 2020. Saat dibuka pendaftaran pada awal Agustus 2020, peminatnya mencapai 130 orang.

Namun, di akhir Agustus 2020, kasus harian positif covid-19 tiba-tiba melonjak tajam melewati 3.000 orang per hari.  Satu demi satu calon peserta mengundurkan diri. Setelah itu, diberlakukan lagi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta dan sekitarnya. Bertambah pula yang membatalkan kepesertaannya sehingga menyisahkan 58 orang yang mengikuti acara Waruwangi Bike Camp.

Bersepeda sambil berkemah (bike camp) menjadi pilihan menarik bagi pesepeda. Memadukan wisata, olahraga dan petualangan. Kegiatan Waruwangi Bike Camp ini dilakukan pada 17-18 Oktober 2020 di Hutan Wisata Alam Bukit Waruwangi, Kabupaten Serang. Foto: Jannes Eudes Wawa

Pasar mulai lesu

Memasuki tahun 2021, transaksi sepeda mulai lesu. AIPI memprediksi permintaan sepeda selama tahun 2021 takkan sekencang tahun 2020. Bahkan, diperkirakan terjadi penurunan penjualan berkisar lima persen hingga delapan persen.

Ada sejumlah alasan yang memunculkan asumsi penurunan itu. Salah satunya kesibukan masyarakat yang kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Aktivitas ini semata-mata untuk menjaga pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Pemicu lain adalah peningkatan kasus harian positif covid-19, curah hujan, penurunan daya beli, dan sepeda bukan lagi menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Lebih dari itu, orang Indonesia juga terkenal sebagai masyarakat yang cepat bosan.

Pekan lalu, saya sengaja mendatangi dua bengkel sepeda yang terletak di kawasan Pondok Indah, Jakarta, dan di Jatiwarna, Kota Bekasi dalam hari yang berbeda. Kedua bengkel itu pada masa booming sepeda, pengunjungnya berjubel. Tiap hari minimal 10 unit sepeda laku terjual. Belum lagi permintaan servis atau perawatan, dan pembelian peralatan sepeda. Karyawan selama siang hingga sore hari nyaris tidak punya waktu untuk beristirahat

Kini, suasananya bertolak belakang. Selama seminggu sepeda yang laku terjual tidak lebih dari lima unit. Permintaan servis atau perawatan pun jarang. Kalau pun ada setiap hari hanya sekitar 10 pengunjung.

Bagaimana selanjutnya?

Hingga kini, kasus harian positif covid-19 masih tinggi. Pada 31 Januari 2021 sempat mencatat rekor tertinggi yakni mencapai 14.518 orang. Tetapi, dalam dua pekan terakhir, kasus positif cenderung turun. Pada  13 Maret 2021 sebanyak 4.607 orang, kemudian sehari setelahnya tercatat 4.714 kasus positif.

Melihat perkembangan kasus positif covid-19 dalam beberapa pekan terakhir dapat dikatakan telah terjadi penurunan yang signifikan. Kita berharap kondisi ini terus membaik seiring makin banyaknya masyarakat yang mengikuti vaksinasi dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Lalu timbul pertanyaan, apa yang perlu dilakukan bagi para pesepeda setelah virus corona berkurang atau terkendali? Pertanyaan ini penting, sebab eforia bersepeda selama pendemi covid-19  merupakan fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Virus” bersepeda sudah menyebar kemana-mana, dan menjangkiti semua lapisan masyarakat.

Sebagai makluk sosial, pesepeda pun pasti bosan jika setiap akhir pekan bersepeda di rute yang sama atau di wilayah yang sama. Mereka selalu menginginkan suasana baru dengan tantangan yang baru untuk menguji kemampuan sekaligus relaksasi psikis.

Suasana baru tersebut dapat diperoleh dengan mengikuti event-event  sepeda yang ditawarkan penyelenggara. Ada touring sehari, dua hari, tiga hari, atau lebih. Ada bersepeda sambil berkemah (bike camp). Ada pula  touring dengan pembatasan waktu, dan aneka macam kegiatan bersepeda lainnya.

Sejauh ini para penyelenggara event bersepeda pasti sudah menyiapkan sejumlah kegiatan yang telah dan akan ditawarkan kepada pesepeda. Ini sebagai bagian dari inovasi dan adaptasi terhadap situasi saat ini seraya mulai menghidupkan ekonomi masyarakat melalui wisata olahraga.

Registrasi Jelajah Bali Bike 2021

 

Untuk itu, dibutukan kolaborasi dan sinergi dengan semua elemen terkait, termasuk perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar kegiatan berwisata dengan sepeda berjalan lancar dan memberikan hasil optimal. Di sinilah peran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dinantikan untuk memadukan simpul-simpul yang ada guna saling menopang dan menghidupkan. ***

Jannes Eudes Wawa
Wartawan, Pegiat Touring Sepeda

Catatan: Tulisan ini sudah dipublikasikan harian Kompas melalui portal kompas.id pada Selasa, 16 Maret 2021 pukul 09.05 WIB

Sandiaga, Olahraga dan Wisata

BERITA TERKAIT

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

TERPOPULER