Gowes Berburu Magnet Kopi Tubing

Kopi Tubing di Ciasihan, Kabupaten Bogor, hadir dengan konsep yang unik. Kafe dan restoran ini berada di tepi tebing dan tepi sungai. Ini menjadi daya tarik yang menarik. Foto: Jannes Eudes Wawa

Oleh: JANNES EUDES WAWA

Tiga bulan terakhir, kafe dan restoran Kopi Tubing di kawasan Gunung Bundar, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi viral di media sosial. Viral itu bukan karena baru beroperasi, tetapi menampilkan konsep yang unik dan menarik. Ada restoran dan kafe di tepi sawah dan tepi sungai yang bersih serta tertata rapi.

Viral itu membuat Kopi Tubing menjadi magnet yang besar. Setiap akhir pekan atau hari libur nasional, ribuan orang dari Jakarta dan sekitarnya berbondong-bondong ke lokasi itu. Mereka ingin menikmati suasana yang berbeda dari kafe dan restoran sekaligus ingin mengumpulkan kenangan hidup.

Kami termasuk yang sedikit dari ribuan orang yang telah terprovokasi oleh informasi media sosial tentang Kopi Tubing. Sabtu (27/3/2021), sepuluh pesepeda dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mendatangi lokasi istimewa tersebut dengan bersepeda. Kami gowes dari Botani Square di Kota Bogor sekitar pukul 07.15 WIB.

Kami memilih jalur yang lebih ringan, yakni melewati Bogor Nirwana Residence (BNR), Curug Nangka, Curug Luhur dan Kopi Tubing. Pada jalur ini memang berkali-kali menghadapi tanjakan, tetapi relatif pendek-pendek. Tidak terlalu intimidatif.

“Saya kalau ke Gunung Bundar lebih suka melewati jalur ini. Pada titik tertentu ada arus lalu lintas yang ramai, tetapi secara umum lebih longgar. Tanjakan-tanjakanya pun tidak terlalu berat. Cocoklah untuk pesepeda sepeda saya,” kata Yoke Haulani Latif (57), pesepeda yang tinggal di Kepala Gading, Jakarta.

Para pesepeda ini bersepeda dari Botani Square Kota Bogor ke Kopi Tubing, Sabtu (27/3/2021). Foto: Stefanus Tejo

Kurang lebih tiga kilometer menjelang Kopi Tubing, kami berpapasan dengan beberapa pesepeda yang baru saja kembali dari kafe dan restoran tersebut. Ada yang menggunakan sepeda balap (road bike), ada pula sepeda gunung, dan ada juga sepeda lipat (seli).

Sekitar pukul 11.30 WIB, kami pun tiba di Kopi Tubing. Lokasinya berada pada ketinggian sekitar 1.103 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di sana, saat itu sudah dipadati pengunjung. Mereka datang menggunakan mobil dan motor, dan hanya sebagian kecil yang bersepeda. Saat itu, masih ada belasan pesepeda yang bertahan.

Begitu hendak masuk ke restoran, petugas mengabarkan bahwa kursi-kursi sudah terisi penuh. Kami diminta menunggu. Tetapi, mengingat gowes dari Bogor telah menguras cukup banyak energi, dan perlu segera diisi. Kami pun memutuskan makan di warung yang berada persis di seberang jalan, depan Kopi Tubing. Ada menu soto ayam, sate ayam, dan sate kambing. Harganya pun murah. Tarif makan kami sembilan orang hanya Rp 180.000.

Konsep yang unik

Setelah makam, kami pun masuk kembali ke restoran Kopi Tubing menikmati kopi dan aneka hidangan ringan. Suasananya memang beda. Ada sawah, sungai dengan aliran air yang bersih di sela-sela batu besar dan kecil. Ada pula hutan di sisi kiri.

Restoran dan kafe ini tidak sekedar tempat singgah. Lokasi ini menawarkan konsep yang menarik dan unik. Memadukan panorama alam, suasana pegunungan dan restoran dengan lokasi yang berada di tepi sungai dan tepi tebing.

Kopi Tubing memanfaatkan aliran sungai sebagai salah satu kekuatan dalam menarik pengunjung. Foto: Jannes Eudes Wawa

Bahkan, tebing ditata sesuai kontur tanah yang ada. Tanah yang miring ditanami rumput nan hijau, pada titik tertentu dibuat tangga yang menarik. Pohon-pohon yang ada di tepi sungai tetap dijaga dan dirawat.

Pada bagian yang memiliki ruang sedikit datar ditata lebih menarik dan dibangun restoran dan kafe. Termasuk ada beberapa titik yang berada persis di tepi sungai terletak di bagian belakang kawasan Kopi Tubing. Di sana, dibangun beberapa unit restoran kecil yang dinaungin rindangan pohon. Letaknya pun persis di tepi aliran air sungai sehingga para pengunjung bukan hanya menikmati sajian makanan, tetapi juga merasakan kesejukan alam dan gemercik air sungai.

Di bagian tengah di antara restoran dan sungai ada lahan mendatar sekitar 2.000 meter persegi dibikin sawah yang ditanami padi. Untuk menuju ke tengah sawah dibangun jembatan dari kayu. Tinggi jembatan tidak melebihi padi. Kini, padi yang ada telah berbulir dan menguning. Beberapa pekan lagi bakal dipanen.

Di tengah lahan sawah juga ditempatkan beberapa kursi gantung yang menyerupai ayunan. Ada pula sepasang bangku dan meja kecil serta kursi santai dihiasi paying warna putih. Baik jembatan, bangku maupun kursi gantung sengaja dihadirkan untuk menjadi tempat untuk swafoto bagi para pengunjung. Disain dan penataan ruang dalam area Kopi Tubing sungguh menarik. Difoto dari sisi mana saja tetap menarik.

Di kawasan Kopi Tubing juga disediakan tempat untuk bersantai seraya menikmati panorama alam. Lokasi ini terletak persis di tepi sungai. Foto: Instagram Kopi Tubing

Area sungai yang ada juga ditata. Pada bagian tepi yang menyatu dengan kawasan Kopi Tubing dibangun jembatan yang menghubungkan sawah dan restoran. Pada jembatan itu juga dipasangi lampu hias sehingga menambah daya tarik.

Di tempat tersebut juga dijadikan sebagai pusat aktivitas arung jeram yang menjadi bagian dari unit usaha Kopi Tubing. Ada juga arung jeram untuk anak bertujuan melatih dan menumbuhkan keberanian masuk ke sungai.

“Konsep dan disain yang ditonjolkan Kopi Tubing sangat menarik. Ada suasana desa melalui sawah dan pegunungan, ada hutan, dan yang lebih menarik lagi adalah posisinya di tepi sungai. Ini yang membuatnya punya keunikan dan kelebihan sehingga menjadi magnet yang besar dan terus diburu warga, Tidak banyak restoran yang beroperasi di tepi sungai,” ujar Iskandar Tjang, pesepeda yang tinggal di Tangerang.

Arung jeram menjadi salah satu aktivitas yang ditawarkan Kopi Tubing. Ada juga paket untuk anak dan dewasa. Foto: Instagram Kopi Tubing

Sekitar pukul 14.00 WIB, kami pun kembali. Perjalanan pulang melewati wilayah Darmaga dan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat itu, langit sedang mendung. Dari Kopi Tubing hingga Darmaga melewati jalan menurun sejauh kurang lebih 10 kilometer.

Tak lama setelah meninggalkan Kopi Tubing, hujan pun turun dengan sangat deras. Kami sempat berhenti sesaat karena beberapa teman ingin mengenakan jas hujan. Setelah itu, kami melanjutkan gowes.

Mengingat hujan semakin deras, laju sepeda benar-benar dalam kontrol yang ketat, sebab khawatir jalan licin, dan air hujan menggenangi jalan sehingga kondisi jalan pun tidak tampak jelas. Sesampai di Darmaga, hujan belum reda juga. Arus lalu lintas semakin padat.

Tetapi, kami terus melaju. Kota Bogor memang selalu melekat dengan kemacetan. Di akhir pekan, kemacetan selalu lebih parah. Menunggu lalu lintas longgar di Bogor itu bagai pungguk merindukan bulan.

Menjelang masuk pusat Kota Bogor, hujan mulai redah. Sekitar pukul 15.25 WIB, kami tiba kembali di Botani Square. Semua tiba dengan selamat dan penuh suka cita. Total jarak yang ditempuh sejauh 64,29 kilometer, dan membakar sekitar 1.886 kalori. Gowes hari itu sungguh menarik dan berkesan. ***

Jannes Eudes Wawa
Wartawan, Pegiat Touring Sepeda

Baca juga:

Setelah Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua

 

 

BERITA TERKAIT

6 COMMENTS

  1. Sukses terus untuk sharing pengalaman trip bersepeda dan edukasi yg sangat bermanfaat , terimakasih sahabatku Om Jannes .

    Mandez Suko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

TERPOPULER