Jangan Jual Sepedamu!

tanggal:

Share post:

Tahun 2020 saat Covid-19 mulai meningkat, permintaan sepeda pun meningkat. Gowes dinilai sebagai alat transportasi yang efektif menaati protokol kesehatan. Foto: Dokumen Jelajah Bike

Di penghujung Agustus lalu, saya berjumpa dengan dua pesepeda di sebuah bengkel sepeda di kawasan selatan Jakarta. Keduanya bernama Koko (35) dan Dana (38), tinggal tidak jauh dari bengkel itu. Koko hendak membetulkan rem sepedanya, sedangkan Dana ingin menambah angin ban sepedanya akibat lebih dari lima bulan tidak pernah digunakan.

Keduanya merupakan karyawan perusahaan swasta multinasional yang berkantor di kawasan Jakarta Pusat. Koko mengaku belum lama bermain sepeda. Dirinya baru membeli sepeda pada awal Juni 2020.

“Saat itu orang ramai-ramai beli sepeda untuk menghindari penyebaran virus Covid-19. Saya pun tergoda membeli sepeda agar bisa jalan-jalan, berolahraga dan terhindar dari kerumuman. Saya beli sepeda road bike (sepeda balap) merek Trek,” kata Koko.

Sebaliknya, Dana bersepeda sejak lima tahun silam. Saat ini, dia memiliki satu sepeda lipat merek Dahon, dan satu sepeda balap. Awalnya dia mengoleksi sepeda gunung, tetapi tiga tahun lalu beralih menggunakan sepeda lipat. Pertimbangannya lebih praktis dan simpel.

Sepeda balap baru dibelinya pada pertengahan 2019. “Sebelum wabah Covid-19, ada banyak event yang melibatkan sepeda roadbike. Beberapa teman sering ikut membuat saya pun tergoda dan tertantang. Gowes pakai roadbike seru banget,” ungkap Dana yang pernah ikut event di Lombok, Bali, dan Yogyakarta.

Mulai dilema

Di tengah obrolan itu, saya kemudian bertanya kepada Koko, mengapa sudah lima bulan dirinya tidak gowes? Apakah sempat mengalami cidera serius atau ada gangguan lain sehingga waktu istirahat gowes begitu lama?

Koko pun menegaskan dia sama sekali tidak cidera atau menderita gangguan apa pun. Gowesnya terhenti begitu lama akibat kehilangan semangat. “Ruang untuk gowes di Jakarta dan sekitarnya semakin terbatas. Car free day ditutup. Mau gowes keliling Jakarta juga tidak leluasa karena kendaraan bermotor semakin padat. Event gowes pun tak ada gara-gara kasus Covid-19 yang masih tinggi. Lama kelamaan gairah bersepeda hilang,” ujar Koko.

Mengikuti event touring sebagai salah satu pilihan terbaik bagi pesepeda untuk meningkatkan hoby. Seperti dalam foto, para pesepeda mengikuti Jelajah Bali Bike pada 19-20 Juni 2021. Foto: Dokumen Jelajah Bike.

Dia mengaku sempat gowes beberapa kali di kawasan Sentul dan Puncak Bogor, tapi lama kelamaan bosan dan jenuh juga karena jalur yang dilewati sama saja. “Saya tuh pingin banget gowes di  Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, Toba dan daerah lainnya. Ada suasana baru. Panoramanya bagus dan jalannya tidak terlalu padat. Tetapi niat itu belum terwujud akibat Covid-19 yang masih banyak,” jelasnya.

“Makanya, dalam beberapa bulan terakhir saya ngak gowes lagi karena timbul rasa jenuh dan bosan,” tambah Koko yang mengaku sedang terlintas dalam benaknya ingin menjual sepedanya.

Koko juga mengakui dirinya sedang menghadapi dilema. Apakah tetap melanjutkan lagi gowes atau kembali ke hobby sebelumnya yakni lari dan gym. Bahkan, sejak Juni lalu dia mulai giat berlari lagi. Seminggu sekitar tiga kali. Dia bergabung dalam komunitas lari yang dibentuk beberapa temannya.

Mendengar itu, Dana mengingatkan Koko agar mempertimbangkan matang sebelum memutuskan hoby yang ingin ditekuni. Jika ingin menekuni lari dan gowes juga tidak masalah. Yang penting dijalani dengan serius, kontinyu, dan sepenuh hati.

“Sepertinya Anda lebih suka lari dibanding gowes. Itu tidak masalah. Lebih baik fokus saja pada olahraga lari yang dianggap paling nyaman dan menyenangkan. Tetapi, saya berharap jangan jual sepedamu. Barangkali suatu saat Anda berniat gowes kembali,” tegas Dana.

Sebetulnya dilema ini tidak hanya dialami Koko, tetapi banyak pesepeda yang baru terlibat sejak masa Covid-19. Ketika itu, mereka ramai-ramai beli sepeda untuk gowes agar bisa eksis di luar rumah, tetapi tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19: jaga jarak, hindari kerumuman dan menggunakan masker serta olahraga teratur sehingga terjaga imunitas tubuh.

Namun, niat bersepeda itu hanya pelarian sehingga pilihan itu tidak abadi. Memasuki tahun 2021 mulai  timbul rasa bosan, sehingga gowes kian mengendor, dan sepeda pun tidak terpakai lagi. Bahkan, ada pula yang mulai menjual sepedanya.

“Sekarang banyak sepeda lipat dan road bike bekas yang dijual pemiliknya. Ada yang jual melalui lapak online. Ada pula yang menitipkan pada bengkel atau toko sepeda,” kata Arie Budhiono, pemilik bengkel sepeda Sampurna Bike di Kalibata, Jakarta.

Perlu refleksi

Melihat kenyataan ini, timbul pertanyaan mengapa minat sebagian warga terhadap sepeda hanya berlangsung sesaat? Apa yang terjadi sehingga sebagian di antaranya menjual kembali sepedanya?

Sejumlah peserta Jelajah Bali Bike 2021 sedang berfoto bersama di tepi Danau Bratan, Bedugul, Bali. Bersepeda bersama jadi pilihan terbaik agar tidak bosan dan jenuh. Foto: Dokumen Jelajah Bike.

Fenomena kebangkitan sepeda yang mendadak itu memberikan nilai positif. Jumlah pesepeda bertambah, dan industri sepeda pun berkembang lebih baik. Bahkan, belakangan ini bersepeda juga bukan lagi sebatas olahraga, melainkan juga gaya hidup, dan penggerak pariwisata.

Namun demikian kebangkitan itu muncul pada momentum yang tidak tepat, yakni saat dimana dilakukan pembatasan pergerakan masyarakat untuk menekan penularan wabah Covid-19 gelombang kedua. Itu sebabnya, event sepeda pun tidak bisa terselenggara.

Belum lagi selama kasus covid-19 masih tinggi, di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya, misalnya, tidak ada lagi jalur bebas kendaraan (car free day) pada Minggu pagi. Akibatnya, ruang untuk bersepeda pun terbatas. Semangat pun perlahan-lahan memudar.

Akan tetapi, di sinilah tantangannya. Apakah para pesepeda baru mampu mengelola gairah dan semangat bersepedanya secara optimal dalam ruang yang terbatas?

Melihat biaya cukup besar dikeluarkan untuk membeli sepeda saat wabah Covid-19 tahun 2020, seharusnya gairah bersepeda tersebut harus terjaga baik. Keterbatasan ruang untuk gowes tidak boleh menjadi penghalang untuk berhenti bersepeda.

Inilah momentum merefleksi diri. Mengapa saya rela membeli sepeda saat harganya melangit? Apa motivasi saya sesungguhnya saat membeli sepeda: sekedar ikut ramai atau untuk kesehatan?

Memang, di antara begitu banyak warga yang rela beli sepeda pada saat pemintaan yang tinggi, ada yang sekedar ikut ramai. Hanya ingin tampil bahwa dirinya pun termasuk pribadi yang selalu mengikuti perkembangan. Ketika kecenderungan itu menurun, gairah yang bersangkutan pun perlahan-lahan sirna.

Menghadapi situasi seperti itu, ada dua pilihan yang bisa dilakukan. Pertama, bagi pesepeda baru perlu membentuk komunitas untuk mengelola minat gowes secara lebih baik dan optimal. Membuat jadwal serta memilih tempat dan jalur gowes, entah di sekitar kota domisili atau menjajaki daerah yang menarik.

Ini penting, sebab kalau gowes sendirian lama kelamaan akan jenuh dan bosan. Akan tetapi, jika dilakukan bersama-sama bakal lebih seru, saling mendukung, dan saling menyemangati. Kebahagiaan dari bersepeda dapat dirasakan dan dinikmati. Seperti kata Presiden Amerika Serikat John F Kennedy, “Tidak ada kesenangan yang sebanding dengan kesenangan yang dirasakan ketika bersepeda”.

Kedua, pesepeda baru juga dapat mendekatkan diri dengan pesepeda lama yang telah memiliki komunitas yang kuat dan rutin melakukan gowes bersama. Dengan terlibat secara aktif akan menimbah banyak pengalaman dan kesaksian tentang kebahagiaan gowes. Apalagi, di kalangan pesepeda, solidaritasnya mengental tanpa memandang kelas sosial dan asal usul. Semua merasa sebagai satu keluarga.

Harus diakui, antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap sepeda pada tahun 2020 merupakan anugerah luar biasa. Tidak pernah dalam sejarah perkembangan dunia sepeda selama ini permintaan sepeda yang meroket tinggi melampaui persediaan. Warga pun rela membeli tanpa peduli harga yang mahal.

Sebagian pesepeda sedang berfoto bersama di kaki Gunung Kerinci di Kayu Aro, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. Mereka baru selesai mengikuti Jelajah Lima Danau, bersepeda selama lima hari dari Padang hingga Sungai Penuh. Foto: Dokumen Jelajah Bike.

Di balik itu terselip tanggung jawab yang besar bagi semua orang yang telah lebih dahulu terlibat dalam dunia sepeda. Mereka wajib menjaga dan merawat semangat warga agar tetap membara. Semakin banyak orang Indonesia bersepeda tidak saja membuat hidup mereka lebih sehat. Tetapi polusi udara pun lebih terkendali, dan langit membiru.

Jadi benar kata Godo Stoyke, peneliti, presenter lingkungan pemenang penghargaan dan penulis buku terlaris solusi perubahan iklim, “Sepeda adalah kendaraan paling efisien di planet ini, 50 kali lebih efisien daripada mobil dan dua kali lebih efisien dari berjalan”.

JANNES EUDES WAWA
Pegiat Touring Sepeda

Baca juga:

Sepeda Kembali Menyentuh Bumi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Jelajah IKN, Melihat Kota Sepeda Masa Depan

Oleh: JANNES EUDES WAWA Nusantara, kota masa depan Indonesia di Penajam, Kalimantan Timur kini menjadi magnet baru. Magnet ibu...

Jelajah IKN, Menjawab Penasaran Pesepeda

Siapa pun dia pasti penasaran dengan Ibu Kota Nusantara, kota masa depan Indonesia. Apalagi, berkali-kali Presiden Joko Widodo...

Jelajah Toba Samosir, Ibarat Kayuh di Atas Awan

Sebagai negara tropis, mengayuh sepeda di Indonesia umumnya menghadapi cuaca panas dengan terik matahari yang menyengat. Akan tetapi,...

Registrasi Jelajah IKN 2022

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur...