Reptil raksasa komodo. Satu-satunya hewan purba di dunia yang hanya hidup di Pulau Komodo, Pulau Rinca dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Fofo: Jannes Eudes Wawa

Oleh: JANNES EUDES WAWA

Sepekan terakhir di media sosial ramai beredar sebuah foto, dimana seekor komodo menghadang sebuah truk yang mengangkut bahan bangunan untuk pembangunan Jurassic Park di Pulau Rinca, Flores, Nusa Tenggara Timur. Reaksi masyarakat pun beragam. Ada yang mendukung proyek itu, tetapi tidak sedikit pula yang mengutuk. Aktivitas itu dinilai sebagai bentuk keserakahan manusia yang tidak peduli dengan keberlangsungan hidup makluk lain.

Reaksi Komodo dalam foto itu juga memberi kesan bahwa reptil langka ini marasa tidak nyaman dengan aktivitas konstruksi di dalam habitatnya. Bahkan, untuk pertama kalinya hewan purba ini mendengar suara bising kendaraan bermotor dan menghirup bau asap dari truk bahan bangunan. Kebisingan dan hiruk pikuk kendaraan proyek  itu bisa jadi dianggap telah mengganggu keharmonisan dan kenyamanan hidup mereka.

Gangguan semacam ini menimbulkan stres. Ketika stres itu berlarut, maka komodo cenderung kehilangan nafsu makan. Semakin lama tidak makan, maka potensi kematian pun semakin besar.

Seerokor komodo sedang menghadang truk yang mengakut bahan bangunan di Pulau Rinca.

Reaksi ini sesungguhnya menjadi sebuah peringatan bagi manusia, terutama pihak-pihak yang merencanakan proyek di Pulau Rinca. Habitat komodo sangat terbatas di dunia ini. Lokasinya pun hanya di Pulau Komodo, Pulau Rinca dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Itu sebabnya, komodo menjadi satu-satunya hewan langka di dunia dan hanya ada di Indonesia, persisnya di kawasan tersebut. Tidak ada lagi kawasan lain di dunia ini yang cocok untuk menjadi tempat hidup dan berkembang biak bagi  reptil raksasa komodo.

Ketika antusiasme masyarakat dunia yang meninggi untuk melihat dari dekat hewan komodo itu, pemerintah pusat pun langsung menyambutnya dengan rencana menjadikan Komodo sebagai kawasan wisata super premium. Sejumlah proyek pun dibangun di Labuan Bajo dan sekitarnya, termasuk di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Komodo.

Bahkan, dengan dalih untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara G-20 pada tahun 2023, pemerintah juga mau merombak kawasan Loh Buaya di Pulau Rinca, salah satu pulau yang menjadi habitat utama hewan komodo. Penataan tersebut dengan cara merobohkan semua bangunan di Loh Buaya, diganti dengan sarana dan prasana baru yang mengambil model bangunan Jurassic Park.

Proyek itu dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Infrastruktur dasar yang dibangun antara lain dermaga, sistem pengelolaan air minum, jalan gertak, pusat informasi, pos istirahat, pos jaga dan pengaman pantai. Total dana yang dianggarkan sekitar Rp 902,47 miliar.

Infrastruktur yang dibangun pemerintah ini sebagai pintu masuk. Maklum, telah ada pemberian izin investasi pengelolaan Pulau Rinca kepada perusahaan swasta, yakni PT Sagara Komodo Lestari. Berdalil investasi sarana pariwisata alam, perusahaan itu mendapatkan hak penguasaan lahan seluas 22,1 hektar. Di atas lahan itu, investor swasta ini ingin membangun kurang lebih sembilan jenis fasilitas antara lain villa, restoran, dan penginapan kategori super premium dan kantor perusahaan.

Pulau Padar di kawasan Taman Nasional Komodo, termasuk salah satu destinasi favorit wisatawan. Pulau ini amat menarik untuk berswa foto. Fofo: Jannes Eudes Wawa

Pertanyaan mendasar

Timbul pertanyaan, apakah  kawasan taman nasional, pihak swasta dibolehkan untuk berinvestasi? Apakah sejumlah fasilitas untuk mendukung kawasan wisata super premium itu harus dibangun di dalam areal konservasi Taman Nasional Komodo? Bukankah di luar kawasan konservasi itu masih ada pulau-pulau yang menarik dan indah yang bisa dibangun fasilitas penunjang tersebut?

Harus dipahami bersama bahwa Pulau Rinca merupakan bagian dari Kawasan Taman Nasional Komodo. Luas pulau ini hanya 198 kilometer persegi. Jika dikurangi lahan yang dikuasai investor, lahan proyek pemerintah dan kawasan permukiman yang telah ada selama ini, maka habitat komodo di Pulau Rinca pun kian menyempit. Ruang gerak menjadi sangat terbatas lagi.  Begitu pula tempat kawinnya, sebab Loh Buaya yang menjadi titik perkawinan hewan komodo bakal dipenuhi bangunan.

Belum lagi adanya proyek pembangunan sumur bor untuk mendukung Jurassic Park akan sangat berdampak bagi sumber mata air yang selama ini menjadi sumber hidup satwa-satwa di Pulau Rinca. Ancaman kepunahan Komodo dan satwa lainnya pun semakin di depan mata.

Data Taman Nasional Komodo menyebutkan pada 2018 populasi hewan ini sebanyak 2.897 ekor. Jumlah ini menurun dibanding tahun 2014 sebanyak 3.093 ekor. Dari populasi itu, sekitar 36 persen tersebar di Pulau Rinca, sedangkan di Pulau Komodo sekitar 59 persen. Sisanya berada di Pulau Gili Motang, Pulau Nusa dan Pulau Padar.

Saat ini, daya tarik komodo sungguh luar biasa. Hewan purba yang sangat langka ini telah menjelma menjadi magnet besar yang menyedot minat wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Hal itu ditunjang lagi dengan adanya ratusan pulau kecil di sekitarnya yang memiliki laut yang bersih, pantai yang indah, dataran yang unik dan taman laut yang menawan.

Wisatawan datang dari Labuan Bajo menggunakan kapal motor dari kayu dalam aneka model dengan beragam fasilitas, termasuk penginapan. Model wisata yang unik yang sungguh menggambarkan Indonesia sebagai negeri bahari. Keunikan ini sama sekali tidak dijumpai di wilayah mana pun di Indonesia, termasuk Bali yang merupakan pusat pariwisata Nusantara.

Dominasi wisatawan asing

Keunikan itu pula membuat Komodo telah menjadi magnet besar bagi wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Hebatnya lagi, jumlah wisatawan asing yang mengunjungi wilayah itu jauh lebih besar dari wisatawan nusantara.

Suatu senja di Labuan Bajo, Flores. Lokasi ini jadi tempat favorit wisatawan yang ingin mengantar senja kembali ke peraduannya. Foto: Jannes Eudes Wawa

Lihat saja tahun 2016, misalnya, dari 83.712 wisawatan yang mengunjungi Komodo, sebanyak 54.335 orang atau 64,9 persen di antaranya merupakan wisatawan asing. Setahun berikutnya, tahun 2017, jumlah wisatawan asing mencapai 66.601 orang atau 59,6 persen dari total wisatawan yakni 111.749 orang.

Kemudian tahun 2018, sebanyak 163.807 wisatawan yang mengunjungi Komodo, dan 91.712 orang atau 55,98 persen merupakan wisatawan asing. Tahun 2019 juga wisatawan asing masih mendominasi kunjungan ke wilayah itu. Dari wisatawan sebanyak 184.208 orang, sebanyak 102.619 orang atau 55,7 persen adalah wisatawan asing. Dari total wisatawan asing yang berkunjung ke Komodo, sekitar 9,17 persen di antaranya datang menggunakan kapal pesiar (cruise) berukuran besar.

Data ini memberi gambaran kepada kita bahwa Komodo terus memikat wisatawan dunia. Fakta ini juga seolah menjadi gula yang menggoda para investor untuk menyerbu di kawasan Komodo. Segala cara ditawarkan dan diyakinkan kepada pemerintah agar bersedia mengizinkan mereka berinvestasi. Tidak peduli dampak yang akan timbul di balik itu. Selama memiliki prospek bisnis yang besar, mereka akan maju terus.

Investasi untuk pengembangan pariwisata di Labuan Bajo dan sekitarnya sama sekali tidak dilarang. Malah, semua pihak mendukung penuh. Termasuk membenahi infrastruktur dasar, seperti loket informasi, kamar kecil, kamar mandi dan rumah penjaga.

Yang menjadi keberatan banyak pihak adalah ekspansi bisnis kalangan swasta  dengan membangun sarana wisata di dalam kawasan habitat hewan komodo. Mereka tidak rela habitat yang terbatas itu dipersempit lagi. Ini sama dengan membunuh komodo secara terselubung.

Kita mungkin belum melupakan tragedi yang gajah di Sumatera. Ribuan hektar hutan yang dibabat untuk kepentingan bisnis, seperti perkebunan kelapa sawit. Ekspansi bisnis yang masif membuat satwa-satwa langka itu kehilangan habitatnya. Ruang gerak pun makin sempit dan terbatas.

Ketidakadilan ekologi ini telah menimbulkan tragedi memilukan. Satu demi satu hewan langka pun mati dan punah. Apakah nasib hewan purba komodo pun kelak akan seperti itu?

Catatan:
Tulisan ini sudah dipublikasikan harian Kompas melalui kompas.id pada 28 Oktober 2020 pukul 12.05 WIB.

Baca juga:

Waruwangi “Bike Camp”: Hadapi Covid-19, Jangan Lupa Bahagia

 

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here