Sejumlah peserta Waruwangi Bike Camp sedang menikmati kopi. Foto: Jannes Eudes Wawa

Oleh: JANNES EUDES WAWA

Begitu tiba di lokasi kemping kawasan Hutan Wisata Agro Bukit Waruwangi, Sabtu (17/10/2020) sore, para pesepeda Waruwangi Bike Camp seketika membentuk kelompok-kelompok kecil di antara puluhan tenda dome yang telah terpasang. Kebersamaan selama seharian bersepeda sejak dari BSD City seolah belum puas. Mereka benar-benar ingin melepas kangen setelah begitu lama tidak berdaya menghadapi wabah virus corona.

Ada yang mulai bercerita dengan mengenang kembali perjalanan bersepeda selama sehari itu. Cerita paling seru seputar jalur jalan berbatu di Baros, tanjakan panjang di Jalan Raya Palka, termasuk “tanjakan setan” menjelang finish. Hari itu jarak tempuh sekitar 105 kilometer.

“Kita ini dikerjai om Jannes. Bilangnya jalurnya landai, saat menjelang finish baru ada sedikit tanjakan. Nyatanya, tanjakannya berkali-kali. Malah ada yang tanjakannya panjang banget, ada makadam pula. Tapi kok kita senang-senang saja ya. Heran aku,” ujar Devi Chan, pesepeda yang tinggal di wilayah Jakarta Barat, sambal tertawa.

Stefanus Tejo, peserta lainnya langsung menimpali. “Bukannya dari dulu selalu begitu. Selalu bilang landai, tetapi sebetulnya banyak tanjakan. Kita pun tidak kapok juga karena sangat menikmati perjalanannya. Selalu ada kesan yang tak terlupakan dari touring yang dilakukan. Selalu ada hal yang baru,” tambah Stef, pesepeda tinggal di Kelapa Gading.

Beberapa di antara mereka bahkan mulai menanyakan kapan ada event berikutnya setelah Waruwangi Bike Camp. Bagi mereka, kunci menghadapi wabah virus corona adalah taat protokol kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh. Selama protokol ditaati serta selalu bahagia, maka berpeluang terbebas dari serangan wabah tersebut.

“Menjaga jarak itu gampang. Yang sulit itu menjaga timbangan. Makanya, kita butuh kegiatan seperti ini. Bersepeda selama sehari bisa habiskan 2.500-3.000 kalori. Itu sangat luar biasa. Sangat bermanfaat bagi tubuh,” tegas Octovianus Noya, pegiat sepeda tinggal di Cinere.

Suasana kemping pada malam hari. Sejumlah peserta sedang menikmati alam terbuka sebagai upaya relaksasi. Foto: Jannes Eudes Wawa

Dalam kamping ini, setiap peserta mendapatkan satu tenda dome berkapasitas 4-5 orang. Sedangkan, bagi pasangan suami-istri inap dalam tenda yang lebih besar berkapasitas 6-7 orang. Pilihan menggunakan tenda dome sebagai upaya menjaga jarak antarpeserta.

Ngopi dan ngakak

Di antara kelompok-kelompok itu ada pula yang dimotori Hengkie Benjamin alias Cincau dan Le Roy Usmani yang sibuk menyeduh kopi. Cincau membawa kopi pilihan yang sudah di-roasting dan digiling sebelum mengikuti acara ini. Termasuk kompor portable dan peralatan lainnya.

Satu demi satu kopi racikannya ditawarkan kepada para peserta kemping yang singgah ke tempat mereka berkumpul. “Ayo om, nyicip ya. Kopinya enak banget om,” begitu gaya Cincau saat menawarkan kopi racikannya.

Vera Rumampouw, Joniah dan Devi Chan, tiga perempuan tangguh yang selalu terdepan selama gowes sejak pelepasan hingga finish juga terus bertahan tidak jauh dari tenda Cincau. Sekali-kali ketiganya tertawa ngakak mendengar sejumlah celoteh dari aktor kawakan Le Roy Usmani. Om kumis yang rajin gowes ini memiliki selera humor yang tinggi. Dia seolah tidak kehabisan bahan untuk membuat orang tertawa.

Tak jauh dari mereka, tampak Alexy Yesherry bersama Andrew Setiawan dan Tomi Pratomo membentuk kelompok kecil lagi menikmati minuman hangat sambil bercerita tentang hal-hal ringan dan lucu. Semua tertawa ngakak seolah melepaskan kepenatan dan keletihan setelah tujuh bulan tertekan dalam ancaman wabah pendemi Covid-19.

“Hidup kita sudah ribet dengan Covid-19 yang tidak tahu kapan berakhir. Sekarang, kita relaksasi saja, menenangkan jiwa dan raga seraya meningkatkan imunitas,” ujar Tomi Pratomo, pesepeda yang tinggal di Alam Sutera, Tangerang Selatan.

Menikmati alam terbuka pada malam hari menjadi salah satu sensasi yang menarik. Apalagi di alam terbuka dengan udara yang sejuk dan lingkungan yang bersih. Foto: Jannes Eudes Wawa

Di tenda lain juga beberapa peserta pun melakukan hal serupa. Malam itu suasana kekeluargaan begitu mengental. Ada rasa bahagia yang luar biasa karena bisa berjumpa lagi dengan sesama penggemar touring sepeda.

Selama ini ada yang berkomunikasi melalui media sosial. Ada pula yang sempat bersepeda bersama di kawasan Sentul City atau lokasi lain, tetapi sepertinya belum lengkap jika tidak touring ke luar kota. “Bahagia banget bisa berjumpa lagi. Suasana seperti ini sudah lama ditunggu, tetapi baru sekarang terwujud,” kata Mohammad Roghibi alias Rocky, pesepeda asal Bekasi.

Malam itu mereka seolah menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang. Saking semangatnya, mereka lupa kalau waktu sudah mendekati pukul 22.00 WIB. Saatnya harus istirahat, sebab esok harinya bersepeda lagi dari Waruwangi menuju BSD City.

Udara malam itu pun cerah dan segar. Ada rasa dingin, tetapi masih wajar. Mungkin dingin ini dipengaruhi hujan yang turun di wilayah Waruwangi pada Sabtu siang hingga sore. Hujan itu pun tidak membuat becek lokasi kemping, sebab ditumbuhi rumput tebal dan tertata rapi. Rumput yang hijau ini menambah keindahan kawasan tersebut.

Lokasi kemping Jelajah Bike letaknya tidak jauh dari kolam renang sehingga peserta diberikan akses untuk memanfaatkan fasilitas kamar mandi dan toilet di kamar bilas yang bersih dan cukup mewah. Persediaan air pun melimpah. Lokasi ini juga tergolong favorit. Di atas ruang bilas dibangun sebuah pelataran yang dilapisi rumput. Dari tempat itu, orang bisa melakukan swafoto atau memotret dengan latar belakang panorama yang menawan.

Peserta Waruwangi Bike Camp menikmati udara pagi yang segar di tengah tenda-tenda. Foto: Jannes Eudes Wawa

Hutan wisata seluas 180 hektar ini benar-benar bersih, hijau dan tertata bagus. Ramput yang ada pun ditanam dan dirawat setiap hari. Di dalamnya tersedia pula pusat penangkaran sapi dan rusa timor. Ada fasilitas kolam renang, penginapan dan kemping. Terbentang padang rumput yang sangat luas untuk kegiatan luar ruang. Sejumlah fasilitas aktivitas outdoor dikabarkan segera ditambah guna menarik minat pengunjung.

Bukit wisata ini belakangan selalu menjadi tujuan kamping. Sekitar 500-600 tenda yang terpasang pada setiap akhir pekan. “Sejauh ini yang kemping umumnya datang dari wilayah Banten. Ini wajar karena tempat ini baru beroperasi pada akhir tahun 2019. Mudah-mudahan ke depannya banyak juga warga Jabodetabek yang akan kamping di Waruwangi ini,” jelas Nico Sonyenzelld, pengelola Wisata Agro Bukit Waruwangi.

Minggu (18/10/2020) pagi, sambil berkemas menyiapkan diri untuk bersepeda lagi, beberapa pesepeda mengingatkan pengelola Jelajah Bike agar mengabarkan mereka event-event touring yang akan digelar. Hal yang sama diingatkan kembali saat tiba di finish di Hotel Santika ICE BSD City setelah bersepeda sejauh 123 kilometer. Mereka tidak rela momen-momen bahagia dari touring sepeda terlewatkan begitu saja. (habis)

Baca juga:

Waruwangi “Bike Camp”, Pesepeda Beradaptasi dengan Covid-19

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here