Waruwangi “Bike Camp”, Pesepeda Beradaptasi dengan Covid-19

Foto: Jannes Eudes Wawa
Sebanyak 58 pesepeda melakukan touring sepeda dari BSD City menuju Hutan Wisata Agro Bukit Waruwangi sekaligus berkemping. Ini sebagai upaya relaksasi psikis dan badan.

Oleh Jannes Eudes Wawa

Sabtu (17/10/2020) sekitar pukul 05.00, sebanyak 58 pesepeda sudah berkumpul di halaman depan Hotel Santika ICE BSD City untuk bersepeda menuju Hutan Wisata Agro Bukit Waruwangi di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten. Mereka bukan hanya gowes, tetapi juga melakukan kemping di alam terbuka sebagai upaya relaksasi setelah tujuh bulan terbelenggu dalam ancaman wabah pendemi virus corona.

Diselenggarakan Jelajah Bike, dan didukung Paxel, perusahaan startup logistik berbasis teknologi, touring sepeda dua hari yang diberi nama Waruwangi Bike Camp itu berlangsung dengan menaati protokol kesehatan yang ketat. Sejak awal pendaftaran, penyelenggara telah mewajibkan rapid test bagi setiap peserta dan sejumlah ketentuan lain dalam protokol kesehatan Covid-19.

Sehari sebelumnya, sebagian peserta pun melaporkan hasil rapid test mandiri yang menunjukkan hasil tidak reaktif atau negatif. Bahkan, satu jam sebelum pelepasan sebagian peserta lainnya bersama-sama melakukan rapid test di Hotel Santika ICE BSD City. Tes ini difasilitasi salah seorang peserta yang kebetulan selalu menangani rapid test. Hasilnya semuanya tidak reaktif. Pagi itu, saat tiba di hotel pun, para peserta diwajibkan melakukan pengecekan suhu tubuh.

Tim pendukung dari Jelajah Bike, seperti petugas konsumsi (logistik), tim motoris dan sopir mobil logistik juga dibekali perisai wajah dan masker. Tas dan barang-barang milik peserta sebelum diangkut dengan kendaraan khusus terlebihi dahulu disemprotkan dengan disintektan. Begitu pula saat barang -barang tersebut tiba di lokasi kemping di Waruwangi juga disemprotkan kembali.

“Saya menaruh hormat yang tinggi kepada tim Jelajah Bike yang menerapkan protokol kesehatan dalam acara Bike Camp ini. Langkah ini sudah benar. Event dilakukan dengan tetap disiplin pada protokol kesehatan. Inilah yang disebut adaptasi kebiasan baru. Apalagi para ahli pun tidak tahu kapan wabah ini akan berakhir. Vaksin yang ditunggu belum tentu sebagai juru selamat membasmi virus ini dari kehidupan manusia,” ujar Taufik Mappaenre, pesepeda dari Jakarta.

Tanjakan setan

Tepat pukul 06.30 WIB, perjalanan bersepeda Waruwangi Bike Camp pun dimulai. Ke-58 pesepeda itu berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Sepeda yang digunakan pun bervariasi. Ada sepeda lipat,  sepeda gunung (mountain bike), dan sepeda jalan raya (road bike).

Para peserta Waruwangi Bike Camp berkumpul di halaman depan Hotel Santika ICE BSD, Sabtu (17/10/2020) sebelum pelepasan. Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

Hari pertama menempuh jarak sekitar 105 kilometer, sedangkan hari kedua kurang lebih 123 kilometer. Rute perjalanan saat pergi dan pulang hampir sama. Yang berbeda hanya saat pulang dari Waruwangi, peserta tidak melewati turunan terjal yang tidak jauh dari lokasi kawasan Wisata Agro Bukit Waruwangi, dan jalan makadam di Baros, serta dari Maja ke BSD City melewati Stasiun Tenjo. Perjalanan dialihkan ke jalur lain yang lebih nyaman meski lebih jauh jaraknya.

Usai pelepasan di Santika ICE BSD City, perjalanan langsung bergerak menuju barat laut ke wilayah Kadusirung, dan memasuki jalan kampung. Setelah bergerak sekitar tiga kilometer, masuk jalan raya utama yang menghubungkan wilayah Serpong dengan Parung Panjang, Taman Astor dan Maja. Beberapa kilometer ke depan, masuk kembali ke jalan kampung, kemudian jalan raya utama, termasuk dua kali melewati perlintasan kereta api rute Tanah Abang-Maja-Rangkas Bitung.

Jalan kampung dan jalan utama yang dilewati umumnya dicor. Tetapi di beberapa titik, jalan yang ada masih berlobang dan becek. Para pesepeda harus ekstra hati-hati saat mengayunkan pedal di titik-titik itu agar terhindar dari kecelakaan.

“Daerah ini sebetulnya sangat dekat jaraknya dari Jakarta. Wilayah ini masih termasuk penyangga ibukota negara. Tetapi kok jalannya rusak seperti ini. Kasihan masyarakat di daerah ini jadi korban,” ujar Le Roy Usmani, pesepeda peserta Waruwangi Bike Camp yang juga aktor senior.

Melewati stasiun Maja, perjalanan bersepeda relatif nyaman. Jalan yang dilalui tidak sering dilewati kendaraan bermotor. Suhu udara pun sedikit kalem. Sempat pula masuk jalan raya tengah di Kota Serang.

Tanjakan demi tanjakan yang dihadapi tidak membuat nyali peserta Waruwangi Bike Camp ciut. Mereka gowes terus. Foto: dokumentasi Jelajah Bike

Selepas Kota Serang, perjalanan semakin menantang. Beberapa kali menghadapi tanjakan pendek yang diselingi turunan. Semakin ke depan, tantangan itu semakin berat. Di wilayah Baros, perjalanan dialihkan melewati jalan kampung yang masih berupa batu-batu kecil (makadam) dengan tanjakan sejauh 2,5 kilometer. Pilihan ini dilakukan untuk memperpendek jarak tempuh sekitar 12 kilometer.

Setelah itu, perjalanan masih menghadapi tanjakan panjang di Jalan Raya Palka hingga di pertigaan Ciomas. Banyak yang ngos-ngosan, tetapi mampu diselesaikan dengan baik. Peserta langsung belok ke kanan meluncur melewati turunan panjang  sekitar lima kilometer hingga di Padarincang. Di sisi kiri tampak padi sawah tumbuh subur. Aktivitas masyarakat tetap normal nyaris tidak ada tanda-tanda siaga Covid-19. Memasuki Desa Waruwangi, jalan cenderung datar hingga di pertigaan menuju kawasan hutan wisata.

Tak jauh dari pertigaan itu, perjalanan harus menghadapi tanjakan terjal sejauh 1,5 kilometer. Kemiringannya diperkirakan mencapai 19 derajat. Namun pesepeda pun pantang menyerah. Mereka tetap memilih melewati “tanjakan setan” itu. Padahal, sebelumnya panitia menawarkan menggunakan jalur lain dengan kondisi jalannya lebih landai dengan jarak yang lebih jauh sekitar delapan kilometer.

Banyak peserta terpaksa menuntun sepedanya saat melewati tanjakan terjal itu. Tetapi, beberapa di antaranya mampu menuntaskan dengan sempurna. “Saya hampir putus asa melihat tanjakan dengan kemiringan yang begitu tajam. Ban depan sepeda nyaris terangkat. Nafas pun ngos-ngosan. Tetapi, syukurlah, ternyata saya mampu melewatinya dengan baik,” ujar Yoga Dwi Cahyono, pesepeda lainnya.

Sekitar pukul 16.00 WIB satu demi satu pesepeda tiba di kawasan hutan wisata agro bukit Waruwangi. Mereka langsung menikmati panorama sore dan petang yang indah dengan cuaca yang cerah dan udara yang bersih.

Hutan Wisata Agro Bukit Waruwangi menyajikan keindahan alam yang luar biasa. Udaranya segar. panoramanya menarik dan tersedia berbagai fasilitas untuk kegiatan luar ruangan, termasuk untuk kemping. Foto: Dokumentasi Jelajah Bike

“Saya tidak menyangka ada kawasan hutan wisata dengan lingkungan yang asri, udara bersih dan fasilitas bagus seperti ini yang letaknya tidak jauh dari Jakarta. Lokasi ini bisa menjadi alternatif bagi masyarakat Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi hingga wilayah lainnya untuk berwisata,” kata Yoke Haulani Latif, pesepeda dari Kelapa Gading yang juga pimpinan salah satu perusahaan multinasional di Jakarta. (bersambung)

 

BERITA TERKAIT

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

TERPOPULER