Semangat bersepeda yang kian tinggi di kalangan masyarakat saat itu patut diapresiasi. Tetapi, para pesepeda perlu tertib bersepeda agar terhindar dari kecelakaan lalu lintas. Foto: Dokumen Jelajah Sabang

Oleh: Jannes Eudes Wawa

Tiga bulan terakhir, dunia persepedaan mengalami kebangkitan luar biasa. Dimana-mana di seluruh dunia, orang berburu sepeda. Bahkan, permintaan jauh melampui persediaan. Para pegiat sepeda pun sangat senang melihat fenomena ini.

Namun demikian, timbul sejumlah kekhawatiran. Khawatir eforia ini hanya berlangsung sesaat. Khawatir pula jangan-jangan semakin banyak pesepeda yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas, sebab tidak tertib bersepeda di jalan raya.

Beberapa pekan lalu beredar sebuah video yang memperlihatkan puluhan pesepeda di Kota Tegal, Jawa Tengah, yang tetap melaju bersepeda meski saat itu lampu lalu lintas pada arah yang dilalui sedang berwarna merah. Mereka seolah tidak peduli dengan rambu lalu lintas yang ada.

Video ini pun mendadak viral di media sosial. Banyak komentar miring menanggapi sikap arogan para pesepeda tersebut. Pelanggaran itu telah menganggu arus lalu lintas di perempatan tersebut. Pengguna kendaraan lainnya pun kesal dan jengkel. Tindakan tidak terpuji ini sebetulnya juga telah  membahayakan diri sendiri.

“Apa yang dilakukan gerombolan pesepeda di Tegal itu sangat memprihatinkan. Itu bukan sikap yang terpuji. Pengendara mobil dan lainnya selalu menghormati orang bersepeda di jalan raya. Tetapi pesepeda juga wajib menaati aturan di jalan raya, sebab jalan raya milik publik,” kata Chandra Widyanto, pegiat sepeda di Yogyakarta.

Chandra mengaku peristiwa di Tegal itu yang kini menjadi kekhawatiran dirinya di tengah permintaan sepeda yang begitu luar biasa. Ada kesan di kalangan pesepeda pemula bahwa aturan lalu lintas seolah hanya berlaku bagi pengendara kendaraan bermotor. Apa yang dipraktekan para pesepeda di Tegal membuktikan adanya kesan tersebut.

Puluhan pesepeda menerobos lampu merah di Kota Tegal, Jawa Tengah, beberapa waktu. Kasus ini sempat viral di media sosial. Foto: Chandra Widyanto

Berdasarkan data Bike to Work Indonesia (B2W) yang dikeluarkan pada 6 Juli 2020 menyebutkan, selama enam bulan pertama tahun 2020  telah terjadi 53 insiden yang melibatkan pesepeda di Indonesia. Rinciannya adalah 22 pesepeda (41,5 persen) tewas akibat kecelakaan di jalan raya, 16 pesepeda  (31,1 persen) tewas karena masalah kesehatan, dan 15 pesepeda (28,3 persen) luka-luka akibat kecelakaan di jalan raya. Artinya, dari 37 pesepeda (69,8 persen) yang mengalami kecelakaan di jalan raya, 59,4 persen berakhir dengan kematian. Angka ini bukan sedikit, bahkan termasuk mengerikan.

Fakta ini, menurut B2W menunjukkan bahwa pesepeda menempati hirarki paling rendah di jalan raya, sebuah cerminan bahwa kebijakan yang diambil negara terkait lalu lintas dan angkutan jalan masih berorientasi pada penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Terbukti, dalam naskah akademik RUU Revisi UU No. 22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sama sekali tidak membahas pesepeda dan pejalan kaki.

Harus diakui dimana-mana, pemerintah pusat maupun daerah di negeri selalu terlambat beberapa langka dalam mengantisipasi sebuah perkembangan. Fenomena kebangkitan sepeda juga nyaris tak diberi perhatian serius. Malah yang muncul adalah keinginan menerapkan pajak pada sepeda, sedangkan kewajiban utama pemerintah, seperti menyediakan jalur sepeda dan mengedukasi agar pesepeda agar bersepeda dengan tertib dan beretika terabaikan.

Ini bertolak belakang dengan di Paris, Perancis. Di sana, begitu melihat minat masyarakat bersepeda meningkat tajam selama pendemi virus corona (Covid) 19, pemerintah kota setempat langsung menambah jalur sepeda sehingga kini menjadi 370 kilometer. Bahkan, dikucurkan pula dana bantuan sekitar 21,7 juta dollar AS sebagai stimulus. Dana tersebut digunakan untuk pelatihan bersepeda, termasuk pengenalan aturan dan etika bersepeda di jalan raya, kemudian penyediaan tempat parkir, dan servis sepeda.

Taat berlalu lintas

Lantas timbul pertanyaan aturan seperti apa yang wajib ditaati pesepeda dalam bersepeda? Bukankah dalam Undang-Undang tentang Lalu Linas sepeda tidak menjadi bagian dari aturan itu?

Secara umum memang sejauh ini UU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sama sekali belum memberi perhatian pada sepeda dan pesepeda. Akan tetapi, yang perlu diingat adalah jalan raya merupakan area publik dan milik publik. Di jalan raya, semua jenis kendaraan bermotor lalu lalang setiap saat.

Sejauh ini sudah banyak aturan yang mengatur tentang tata cara dan etika berlalu lintas di jalan raya. Aturan ini secara umum berlaku untuk kendaraan bermotor, tetapi angkutan lain seperti sepeda pun perlu menyesuaikan.  Pertama, saat bersepeda pesepeda wajib menggunaan helm. Penggunaan helm bukan untuk penampilan, tetapi untuk melindungi kepala dari kemungkinan mengalami benturan jika tiba-tiba terjadi kecelakaan. Helm juga dapat melindungi kulit kepala dari sengatan sinar matahari.

Meski jalan lengkang, sejumlah pesepeda tetap mengambil jalur kiri saat bersepeda di tepi Danau Singkarak, Sumatera Barat, dalam Jelajah Lima Danau, beberapa waktu lalu. Foto: Jannes Eudes Wawa

Kedua, bersepeda di sebelah kiri jalan raya yang dilalui. Tujuannya agar terhindari dari arus kendaraan bermotor yang bergerak dari belakang dengan kecepatan bervariasi.

Ketiga, bersepeda tidak boleh dalam gerombolan besar dan menguasai lebih dari dua baris sejajar sehingga nyaris menguasai semua lajur kendaraan. Hal ini akan mengganggu dan menghambat akses dan arus lalu lintas kendaraan bermotor lainnya.

Keempat, wajib berhenti saat jalur jalan yang dilalui menghadapi lampu merah. Perlu diingat bahwa peringatan untuk berhenti saat lampu merah bukan hanya berlaku bagi kendaraan bermotor, melainkan semua pengguna jalan raya, termasuk pejalan kaki dan pesepeda. Karena saat yang sama kendaraan dari arah yang lain perlu melewati jalan tersebut. Jika pesepeda ngotot menerobos, seperti dalam kasus di Tegal dan banyak tempat lainnya, maka terbuka kemungkinan terjadi kecelakaan.

Kelima, apabila bersepeda pada malam hari, maka sepeda wajib dipasang dan dinyalahkan lampu. Tujuannya agar pesepeda mengetahui kondisi jalan yang dilewati. Perjalanan Anda diketahui pengendara lainnya sehingga terhindari dari kecelakaan. Di luar negeri, bersepeda pada malam hari, selain menyalakan lampur, pesepeda juga diwajibkan mengenakan pakaian berwarna terang yang dapat menjadi penanda bagi pengguna jalan lainnya.

Edukasi pesepeda

Adrian Rusmana, pesepeda di Jakarta melihat fenomena sepeda saat ini mirip dengan  sepeda motor pascakrisis monoter tahun 1998/1999. Saat itu penjualan sepeda motor pun meroket dimana-mana. Tetapi, pemerintah sama sekali tidak melakukan antisipasi. Akibatnya, kemacetan lalu lintas pun seketika mulai terjadi di semua kota besar. Tingkat kecelakaan sepeda motor pun meningkat tajam.

Kini, hal serupa terjadi pada sepeda. Antisipasi terhadap melonjaknya penggunaan sepeda sama sekali tidak siapkan dengan baik. Padahal, tingkat kecelakaan bersepeda juga bakal meningkat, sebab  banyak pesepeda yang tidak memahami aturan bersepeda di jalan raya sehingga dapat mengganggu pengguna jalan lainnya, termasuk mobil, sepeda motor dan kendaraan umum lainnya.

“Itu sebabnya dibutuhkan edukasi tentang aturan dan etika bersepeda di jalan raya dan tempat umum dari awal. Sosialisasi dan kampanye itu perlu segera dilakukan berkelanjutan agar korban tidak berjatuhan  di waktu mendatang,” ujarnya. Dia juga mengharapkan pemerintah mulai menyiapkan infrastruktur tata kota dan sarana publik lainnya yang baik dan nyaman bagi pesepeda serta memperbanyak taman agar masyarakat pun dapat menikmatinya secara optimal.

Edukasi ini dapat dilakukan pihak Kepolisian dan Dinas Perhubungan dibantu pihak terkait lainnya, seperti komunitas sepeda atau para pegiat sepeda atau industri sepeda. Edukasi bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi harus terus-menerus.

Event bersepeda juga menjadi salah satu wisata minat khusus. Seperti dalam gambar, sejumlah pesepeda dari sejumlah kota besar di Indonesia, peserta Jelajah Sepeda Flores-Timor yang dilakukan harian Kompas, sedang merayakan 17 Agustus di Danau Kelimutu, Flores, beberapa tahun lalu. Foto: Jannes Eudes Wawa

Melihat antusiasme masyarakat menggunakan sepeda meningkat tajam, beberapa waktu lalu sejumlah komunitas sepeda di Kota Bandung tergerak melakukan kampanye keselamatan bersepeda di jalan raya. Mereka mengajak dan mengedukasi masyarakat agar bersepeda dengan tertib di jalan raya. Misalnya, wajib menggunakan helm, tidak boleh bersepeda dalam gerombolan dengan menguasai sebagian, atau seluruh badan jalan.

“Kami ingin mengajak teman-teman pesepeda sadar bahwa saat bersepeda jalan raya punya aturan. Jalan raya merupakan ruang publik yang penggunaannya bersama, sehingga kita harus saling berbagi. Wajib bagi pesepeda mematuhi aturan lalu lintas. Kita perlu memproteksi diri dengan baik agar terhindari  dari kecelakaan,” jelas Windu Mulyana, anggota Ecotransport Indonesia, pegiat kampanye keselamatan berlalu lintas bagi pesepeda melalui youtube.

Terkait soal sepeda ini, saya teringat pesan yang selalu disampaikan mantan Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Irjen Royke Lumowa yang kini Kapolda Sulawesi Utara kepada para pesepeda. “Kalau ada pesepeda pemula, jangan biarkan dia sendirian. Temani dia, dan selalu beri semangat agar dia terus bersepeda dengan tertib dan nyaman”.

Jannes Eudes Wawa:
Wartawan, Pegiat Touring Sepeda

Baca juga:

Inden Sepeda, Fenomena Yang Tidak Biasa

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here