Inden Sepeda, Fenomena Yang Tidak Biasa

Sepeda lipat termasuk yang paling diburu para pembeli sejak April 2020. Foto: Komunitas ID Dahon

Oleh: Jannes Eudes Wawa

Dalam industri otomotis, pembeli melakukan pemesanan terlebih dahulu atas mobil yang ingin dibeli merupakan hal lumrah. Tetapi, jika hal itu terjadi pada sepeda menjadi hal luar biasa. Dalam masa pendemi Covid 19 saat industri lain  berupaya dengan segala cara agar bisa bertahan, justru dunia persepedaan malah mengalami sebaliknya.

Pembelian sepeda di banyak kota terpaksa melalui inden. Masa tunggu atas sepeda yang diinginkan berlangsung selama beberapa pekan, bahkan ada pula hingga beberapa bulan. Ini sebuah anomali.  Fenomena ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah penjualan sepeda di Indonesia.

Sebut saja sepeda lipat Kreuz yang diproduksi di Bandung. Sepeda mirip Brompton buatan Inggris itu kini pemesanannya untuk sementara disetop produsen, sebab permintaanya sudah begitu luar biasa. Daftar inden pada beberapa bulan lalu tercatat hingga Februari 2021, kini telah mencapai September 2021.

Pemesannya dari berbagai lapisan masyarakat, dari Sabang hingga Merauke, perempuan dan laki. Ada yang pesan melalui akun media sosial. Ada pula yang langsung mendatangi lokasi produksi di Bandung. Sepeda ini dibandrol seharga Rp 8 juta per unit, sedangkan frameset seharga Rp 3,5 juta per unit. Sementara harga Brompton saat ini minimal Rp 35 juta per unit.

“Saya tidak menduga respon masyarakat begitu luar biasa, sampai kami pun kewalahan melayani pemesanan. Makanya, daripada daftar inden terlalu panjang dan lama, pemesanan melalui daring untuk sementara kami tutup. Kami hanya layani pemesanan secara langsung di Bandung. Jika daftar inden mulai berkurang barulah kami buka pemesanan lagi,” jelas Yudi Yudiantara (50), pemilik Kreuz seperti dikutip Kompas.com 26 Juni 2020.

Faisal Rauf, pemilik toko sepeda di Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat mengaku, demam sepeda juga melanda di wilayah itu. Warga setempat paling minati sepeda jenis road bike dengan harga berkisar Rp 10 juta-Rp 20 juta per unit. Namun sejak awal Mei 2020 sudah habis terjual, dan tidak ada lagi stok baru yang masuk di wilayah itu. “Saya sudah beberapa kali kontak ke pabrik-pabrik sepeda di Pulau Jawa, tetapi tidak ada jaminan kapan akan dikirimkan ke Papua Barat,” ungkapnya.

Jangan dilewatkan

Inden sepeda tidak hanya terjadi pada Kreuz, tetapi juga pada merek lain. Fenomena ini timbul karena permintaan yang jauh melampaui persediaan. Setelah berbulan-bulan di rumah saja selama pendemi wabah virus corona (Covid) 19, masyarakat harus keluar untuk bekerja, mencari penghasilan dan lainnya. Namun tetap dalam protokol kesehatan yang ketat antara lain jarak jarak fisik minimal satu meter, meningkatkan imunitas, dan menjauhi kerumuman agar tidak tertular wabah mematikan tersebut.

Kekayaan alam dan tradisi yang dimiliki Indonesia cocok untuk wisata olahraga seperti bersepeda. Seperti dalam gambar, sejumlah pesepeda sedang menuju Kota Sabang di Pulau Weh dalam pelayaran dari Banda Aceh. Foto: Jannes Eudes Wawa

Pilihannya adalah bersepeda. Tidak mengherankan permintaan terhadap sepeda langsung meledak di seluruh dunia. Toko sepeda diserbu pembeli. Sementara stok terbatas karena pabrik pun sempat menghentikan produksi akibat wabah Covid-19.

“Jujur, kami kelimpungan menghadapi permintaan sepeda yang begitu besar. Bayangkan, beli sepeda sudah seperti beli sembali. Ngantri lama pun tidak masalah. Sepeda yang kami produksi tidak sempat masuk gudang untuk disimpan. Dari pabrik langsung dikirimkan ke toko-toko sepeda,” ungkap Hendra CEO PT Roda Maju Bahagia (RMB), perusahaan produsen sepeda lipat Element, dan Dahon Ion.

Selama lima bulan pertama tahun 2020, produksi sepeda di Indonesia meningkat sekitar 20 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. Kenaikan paling mencolok mulai terjadi pada April, berlanjut pada Mei hingga Juni. Saat ini di Indonesia ada 12 perusahaan produsen sepeda dalam berbagai merek dan tipe dengan kapasitas produksi sekitar 2,5 juta unit per tahun.

Lonjakan permintaan terjadi pada hampir semua merek. Penjualan sepeda Pasific, misalnya, menurut laporan tabloid Kontan edisi 22-28 Juni 2020, meningkat 30-40 persen. Sedangkan, sepeda Polygon, di beberapa toko dilaporkan mengalami kenaikan berkisar 200 persen hingga 300 persen.

“Para pekerja kami di pabrik sudah kayak kesetanan bekerja siang malam tanpa henti untuk memproduksi sepeda. Kami menambah lagi satu line menjadi tiga lina untuk proses produksi. Omzet kami pada lima bulan pertama 2020 sudah melampaui total omzet pada tahun 2019,” jelas Hendra.

Dia mengaku hampir semua pabrik sepeda tidak siap menghadapi lonjakan permintaan yang begitu tinggi akibat pendemi wabah Covid-19. Namun, semuanya langsung bergerak cepat begitu melihat fenomena itu dengan menambah jumlah karyawan dan line produksi sehingga waktu tunggu pemesanan sepeda tidak terlalu lama.

“Momentum seperti ini tidak pernah datang dua kali. Itu sebabnya jangan dibiarkan lewat begitu saja, tetapi harus ditangkap dan dikelola dengan baik sehingga memberikan manfaat bagi semua orang,” ujar Hendra yang kini memegang linsensi untuk memproduksi delapan jenis sepeda lipat Dahon di Kendal, Jawa Tengah.

Jangan sesaat

Franes Susanto, pesepeda asal Jakarta juga terheran-heran dengan antusiasme warga membeli sepeda yang membludak ini. “Tetangga rumah saya di kiri dan kanan semua beli sepeda. Hoby ga hoby mereka tetap beli. Luar biasa sekali,” kata Franes.

Budi Tanzil, sepeda yang tinggal di Sorong, Papua juga mengungkapkan demam sepeda itu melanda hingga di wilayahnya. Sepeda yang paling dicari adalah sepeda lipat. “Sekitar tahun 2017, hanya saya dan beberapa teman yang pakai sepeda lipat di Sorong. Sekarang semakin banyak yang kena ‘racun’ sepeda lipat. Saya senang sekali semakin banyak warga Sorong yang bersepeda,” ungkapnya.

Di Indonesia, permintaan sepeda terbanyak adalah jenis sepeda lipat. Setelah itu menyusul sepeda gunung. Pilihan pada sepeda lipat karena dinilai simple dan praktis untuk di bawah kemana saja, termasuk saat naik kereta api atau kendaraan umum.

Sudah banyak merek sepeda lipat yang dimiliki masyarakat di Indonesia, antara lain Dahon, Element, Pasific, Exotic, FlodX, Policy, BNB, Bike Friday, Birdy, Tyrell, dan Alex Moulton. Lalu ada pula sepeda lipat yang disainnya mirip Brompton, antara lain 3sixty, Element Pikes Gen 2, Proaction, United Trifold dan Kreuz.

Target pasar sepeda mirip brompton berbeda sehingga harga yang ditawarkan pun jauh lebih murah yakni rata-rata di bawah Rp 10 juta per unit. Orang yang memiliki banyak uang tentu akan mengincar Brompton. Tetapi bagi yang tidak memiliki banyak uang, namun ingin memiliki sepeda sejenis yang berkualitas bisa membeli yang level di bawahnya.

Sejumlah pesepeda dari Jakarta sedang touring di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Bersepeda memberi peluang untuk mengenal Nusantara. Foto: Jannes Eudes Wawa

Banyak orang bertanya berapa lama booming sepeda ini akan berlangsung? Banyak yang meyakini hanya sesaat. Alasannya, masyarakat tertarik bersepeda karena dengan lalu lintas mobil yang sedikit, jalan terasa lebih aman. Minat mereka akan berkurang ketika lalu lintas mulai padat kembali.

Namun, beberapa kota di dunia, pemerintah setempat mulai melakukan antisipasi. Mereka merealokasi ruang jalan untuk jalur sepeda agar semangat bersepeda ini terus terjaga lebih lama dan menjadi kebiasaan baru masyarakat. Kita berharap di Indonesia pun pemerintah pusat dan daerah terbuka mata untuk memberi ruang yang lebih besar untuk masyarakat bersepeda dengan nyaman.

Jannes Eudes Wawa
Wartawan, Pegiat Touring Sepeda

Baca juga:

Seli Dahon Kembali Lagi

BERITA TERKAIT

3 COMMENTS

  1. Berita yg menarik sekali sangat informatif semoga menjadi awal yg baik untuk industri, hobi dan kegiatan olahraga sepeda di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

TERPOPULER