Oleh: Jannes Eudes Wawa

Setelah hampir tiga bulan warga dipaksa untuk bertahan di rumah saja menyusul meluasnya wabah virus corona 19, kini pemerintah hendak melonggarkan aktivitas di sejumlah wilayah zona hijau dan biru disertai penerapan protokol kesehatan yang ketat. Kebijakan itu di satu sisi disambut positif, tetapi pada sisi lain dikhawatirkan menimbulkan penularan baru.

Kekhawatiran itu sungguh beralasan. Karena masih banyak warga yang selama ini tidak taat protokol kesehatan Covid-19. Mereka tidak menggunakan maskser saat berada di luar rumah, tidak menjaga jarak, jarang mencuci tangan pakai sabun, dan lain sejenisnya. Tidak mengherankan, di Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat ditemukan warga yang positif tertular Covid-19 dalam jumlah yang besar.

Namun demikian, sampai kapan masyarakat harus diminta untuk bertahan di rumah saja? Pertanyaan ini sepertinya sulit dijawab secara pasti. Mengapa? Karena banyak kalangan, termasuk para ahli meyakini bahwa virus ini hanya bisa ditangkal dengan vaksin. Tetapi, kapan vaksin itu mulai dipasarkan di Indonesia juga tidak diketahui secara pasti. Jika vaksin ditemukan pun tidak otomatis membuat dunia ini langsung aman, dan semua manusia bisa bebas seperti sebelumnya.

Beberapa waktu lalu, sejumlah lembaga di Indonesia, seperti PT Bio Farma, BPPT, Lembaga Eijkman dan lainnya dikabarkan sedang membuat vaksin penangkal Covid-19. Ada memperkirakan vaksin itu baru bisa ditemukan pada tahun 2021. Tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa vaksin itu takkan mungkin ada, seperti virus ebola, virus zika,  SARS, dan virus lassa.

Sementara itu, fakta lain juga menunjukkan wabah Covid19 telah merontokan seluruh lini ekonomi. Jutaan pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), para pekerja sektor informal kehilangan penghasilan. Jumlah keluarga miskin pun meningkat.

Para peserta Jelajah Sepeda Flores sedang berjalan kaki menuju kampung adat Waerebo di Kabupaten Manggarai

Kelamaan di rumah sudah bikin hidup kita menjadi begitu ambyar. Tidak bisa berkumpul dengan teman sekantor, teman seprofesi, teman pesepeda, teman ngakak, bahkan tidak bisa kerja dan berusaha dengan lancar. Apalagi, semua event, termasuk olahraga luar ruangan, seperti jelajah sepeda pun terpaksa dibatalkan dan ditunda. Kondisi ini benar-benar bikin ambyar. Saya pun sudah tiga bulan harus menahan sakit gigi karena dokter yang bersangkutan yang berpraktek tidak jauh dari rumah saya menutup tempat praktek sejak awal Maret karena khawatir tertular Covid-19.

Adaptasi baru

Harus diingat hidup ini terus berjalan. Perjalanan waktu ini tidak bisa dihentikan. Maka tidak ada pilihan bagi kita untuk segera keluar rumah dan beraktivitas kembali. Tidak mungkin kita terus bertahan di rumah hingga sekarat, keluarga kelaparan dan depresi. Dapur harus segera ngepul lagi. Kita perlu berolahraga lagi seperti biasa untuk menjaga kebugaran dan meningkatkan imunitas.

Kondisi ini memaksa dilakukan pelonggaran agar aktivitas ekonomi hidup kembali. Warga diminta melakukan adaptasi terhadap kebiasaan baru sehingga keterpurukan ini perlahan-lahan dapat terpulihkan.

Kendati demikian, kekhawatiran penularan baru juga jangan sampai disepelehkan. Salah satu yang potensial adalah angkutan umum yang biasanya mengangkut penumpang yang banyak. Di kota besar seperti Jakarta, angkutan masala seperti kereta rel listrik, Moda Raya Terpadu (MRT), atau TansJakarta tentu menjadi pilihan terbaik untuk perjalanan menuju ke, dan kembali dari tempat kerja.

Sejumlah peserta Jelajah Sepeda Papua sedang bersepeda dari Sarmi menuju Jayapura, beberapa waktu lalu

Akan tetapi, pilihan itu serba risiko juga. Sebab kita tidak pernah tahu semua orang yang menggunakan angkutan massal itu benar-benar terbebas dari virus corona 19. Masih ingat kejadian pada beberapa waktu lalu dimana ditemukan beberapa penumpang KRL yang positif tertular virus mematikan itu.

Lantas adakah transportasi yang bisa meminimalisir bahaya tertular Covid-19? Salah satu yang bisa dipertimbangkan adalah bersepeda. Beberapa waktu lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun menganjurkan warga agar lebih banyak menggunakan bersepeda atau berjalan kaki saat keluar rumah untuk bekerja atau keperluan lainnya dalam jarak pendek.

Anjuran tersebut didasarkan pada pertimbangan untuk menghindari kontak fisik sehingga terhindari dari penularan Covid19. Selain itu, juga untuk menekan polusi udara. Fakta menunjukkan selama masa penutupan wilayah kualitas udara membaik, dan langit pun membiru, dan bersih.

Kualitas udara membaik

Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), sebuah organisasi penelitian polusi udara menyebutkan bahwa setelah adanya kebijakan penutupan wilayah di China akibat Covis19, emisi CO2 selama 3 Februari hingga 1 Maret 2020, turun sekitar 25 persen. Selama ini, China merupakan salah satu negara dengan polusi udara yang terparah di dunia, atau menyumbang 30 persen emisi CO2 dunia. Itu sebabnya, penurunan itu berdampak besar bagi dunia meski dalam waktu yang singkat. CREA memperkirakan penurunan emisi itu setara 200 juta ton karbon dioksida.

Di New York, Amerika Serikat juga terjadi hal yang sama. Karbon monoksida terutama dari mobil dan kendaraan bermotor lainnya berkurang hampir 50 persen pada Maret 2020 dibanding periode yang sama tahun 2019. Bahkan, emisi CO2 dan metana juga berkurang 5-10 persen.

“New York memiliki jumlah karbon monoksida yang sangat tinggi selama 1,5 tahun terakhir. Dan (yang terjadi) ini adalah yang terbersih yang pernah saya lihat. Ini kurang dari setengah dari apa yang biasanya kita lihat pada bulan Maret,” kata Prof Roisin Commane dari Universitas Columbia yang melakukan pemantauan udara di New York.

Kota New Delhi, India, yang merupakan kota dengan kualitas udara terburuk di dunia juga polusinya menurun hingga 75 persen karena kemacetan lalu lintas berkurang 59 persen. Di Paris, Perancis tingkat nritrogen oksida beracun turun 70 persen. Dengan jumlah kendaraan di jalanan berkurang hingga 73 persen, emisi beracun di London, Inggris juga turun 50 persen.

Sementara di Jakarta, menurut CREA, tingkat gas nitrogen dioksida pada April turun sekitar 40 persen dibanding level gas polutan itu pada periode yang sama tahun 2019. Kondisi ini, menyusul berkurangnya lalu lintas sejak pertengahan Maret 2020. Langit di Jakarta pun membiru. Namun demikian sebaran PM2,5 (partikular halus berukuran kurang dari 2,5 mikron) pada periode itu masih tinggi.

Melihat membaiknya kualitas udara, pemerintah di Perancis, misalnya, terus mendorong warga setempat untuk terus bersepeda. Bahkan, disediakan dana bantuan sekitar 21,7 juta dollar AS sebagai stimulus. Dana ini untuk pelatihan bersepeda, termasuk Latihan memahami  aturan dan etika bersepeda, lalu penyediaan tempat parkir, servis sepeda. Saat ini, Paris sudah tersedia sekitar 370 kilometer jalur sepeda.

Bersepeda menjadi pilihan terbaik untuk melakukan perjalanan jarak pendek. Terhindar dari kerumuman dan lebih bagus untuk meningkatkan imunitas tubuh

Di Italia, Jerman, Belgia dan Inggris pun, pemerintah setempat telah menambah jalur sepeda baru. Di Brussels dibangun 40 kilometer jalur sepeda baru, sementara di Milan memperluas trotoar dan menambah 35 kilometer jalur sepeda. Di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson berjanji mendorong perjalanan menggunakan sepeda agar kualitas udara yang semakin baik ini tetap terjaga. Bahkan, diharapkan setelah kebijakan pembatasan wilayah dicabut, diharapkan bersepeda akan menjadi daya tarik baru.

Manfaatkan momentum

Khusus di Jakarta dan sekitarnya, sejauh ini minat masyarakat untuk bersepeda cukup besar. Bahkan, jumlahnya cenderung meningkat. Ambil contoh sepeda lipat Brompton, misalnya, pengguna terbanyak di Asia ternyata di Indonesia. Bahkan, hampir setiap dua pekan selalu ada event touring sepeda untuk durasi sehari dan dua hari. Pesertanya pun cukup banyak datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Tetapi, belum banyak yang mau bersepeda ke tempat kerja. Sedikit sekali yang setiap hari bersepeda. Ada yang hanya dua atau tiga sekali dalam sepekan. Ada lagi yang hanya tiga sampai empat kali selama sebulan.

Momentum Covid-19 yang menuntut antara lain jaga jarak dan menghindari kerumunan tentu menjadi peluang bagi warga yang tinggal di DKI Jakarta dan sekitarnya serta kota-kota besar lainnya untuk memilih bersepeda ke tempat kerja atau perjalanan jarak pendek daripada angkutan umum. Bersepeda menjadi pilihan yang aman untuk menghindari penularan wabah virus tersebut. Selain itu meningkatkan imunitas tubuh.

Dikutip dari cyclingweekly.com menyebutkan bahwa bersepeda selama satu jam, maka pada menit ke-10, perasaan bebas langsung dirasakan pesepeda. Senyum gembira pun melebar seiring kayuhan peda yang semakin cepat. Pada menit ke-20, tubuh membersihkan diri dari kortisol, hormone stres akibat susah tidur nyenyak. Memasuki menit ke-40, aliran darah dan oksigen ke otak melonjak. Jika Anda rutin bersepeda rutin, maka Anda akan jarang sakit.

Lalu pada menit ke-45, waktunya serotonin dan endrofin dilepaskan ke dalam aliran darah. Mood meningkat menjadikan perasaan bahagia. Anda akan merasa benar-benar bahagia. Setelah bersepeda selama 60 menit, berarti Anda telah menempuh jarak belasan hingga 20an kilometer. Tiap kayuhan yang dilakukan hingga menit ke-60 ini secara tidak langsung Anda sudah mengurangi risiko penyakit jantung hingga 50 persen.

Namun bersepeda selama masa Covid-19 ini wajib menaati protokol kesehatan. Harus tetap jaga jarak fisik minimal satu meter, menghindari kerumunan, menggunakan masker, dan selalu cuci tangan pakai sabun. Langkah ini sebagai upaya mencegah terjangkit atau tertular virus corona 19.

Touring sepeda menjadi salah satu yang dirindukan para pesepeda saat ini. Mereka berharap Covid-19 ini segera berlalu agar perjalanan bersepeda dapat dilakukan lagi.

Perlu diingat bahwa biaya pengobatan penderita Covid-19 tergolong mahal. Menteri BUMN Eric Thohir dalam sebuah diskusi virtual beberapa waktu lalu menyebutkan ongkosnya mencapai Rp 105 juta per orang. Jika penderita memiliki penyakit bawaan, biayanya lebih besar lagi, mencapai Rp kurang lebih 215 juta per orang.

Itu sebabnya, selama masa adaptasi kebiasaan baru ini masyarakat perlu lebih disiplin menaati protokol kesehatan Covid-19. Lebih baik mencagah daripada mengobati. Ayo bersepeda saja!

Jannes Eudes Wawa
Wartawan, Pegiat Touring Sepeda

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here