Perjalanan sepeda jarak jauh merupakan salah satu event yang diminati para pesepeda. Selain untuk kesehatan, mereka juga bisa mengenal dari dekat masyarakat dan kekayaan alam setempat. Foto ini diambil saat Jelajah Sepeda Manado-Makassar tahun 2014 yang dilakukan harian Kompas. Foto dokumentasi Kompas

Oleh: Jannes Eudes Wawa

Masa pelonggaran aktivitas saat serangan wabah virus corona 19 dimulai Senin (15/6/2020). Perkantoran, industri, pusat perbelanjaan dan lainnya mulai dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat. Angkutan umum juga demikian. Anehnya, toko sepeda diserbu pembeli. Jumlah pesepeda pun meningkat. Dunia persepedaan seolah menghadapi anomali.

Hasil survei yang dilakukan The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mengungkapkan sejak dimulai masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta telah terjadi peningkatan penggunaan sepeda sekitar 10 kali lipat dibandingkan pada Oktober 2019 saat uji coba jalur sepeda 63 kilometer. Survei difokuskan di beberapa titik antara lain Dukuh Atas, Sudirman-Thamrin, Gelora Bung Karno dan Sarinah pada pukul 06.30-08.00 WIB.

Pada segmen Dukuh Atas dari arah selatan ke utara yakni Bundaran Senayan menuju Bundaran Hotel Indonesia, misalnya. Pada periode Oktober 2019, selama pukul 06.30-08.00 WIB hanya 21 pesepeda yang bersepeda melewati jalur itu. Namun, pada awal diberlakukan masa transisi PSBB ternyata ada 235 pesepeda yang bersepeda pada jalur yang sama. “Jadi, ada peningkatan yang signifikan mencapai 10 kali lipat,” kata Direktur ITDP Faela Sufa seperti dikutip kantor berita Antara.

Peningkatan pengguna sepeda juga terjadi pada segmen Sudirman-Thamrin dan Gelora Bung Karno. Tercatat sebanyak 249 persepeda yang melewati jalur tersebut atau terjadi peningkatan 93 persen dibanding Oktober 2019 sebanyak 129 pesepeda.

Fenomena ini juga terjadi di sebagian besar kota, antara lain Yogyakarta, Surabaya, Solo, Samarinda, Makassar, Bogor, Bandung, dan Kota Medan. Di sana,  toko-toko sepeda diserbu pembeli. Permintaan diperkirakan melonjak beberapa kali lipat. Sepeda yang paling diminati antara lain sepeda gunung dan sepeda lipat.

Polygon, salah satu merek sepeda nasional yang kini makin diminati warga. Selain sepeda gunung, jenis lain yang diserbu warga adalah sepeda lipat karena praktis dan mudah dibawah kemana saja.

Lonjakan permintaan ini di luar prakiraan pengelola toko sepeda. Stok pun terbatas, apalagi sejak pertengahan Maret 2020 sebagian besar toko ditutup. Belum lagi pabrik-pabrik sepeda baik di dalam maupun luar negeri juga ditutup dan karyawan diliburkan sejak merebaknya wabah Covid-19. Itu sebabnya,  sejumlah pembeli terpaksa harus melakukan pemesanan melalui online dan inden.

Antusiasme masyarakat membeli sepeda ini tentu bukan semata-mata untuk gaya hidup, tetapi untuk berolahraga sebagai upaya meningkatkan imunitas tubuh. Lebih dari itu, mereka juga ingin bersepeda menuju tempat kerja sebagai pilihan yang paling aman guna menghindari penularan virus corona (Covid)-19. Apalagi sesuai protokol kesehatan, warga diminta tetap jaga jarak fisik minimal satu meter dan menghindari kerumunan.

Fenomena dunia

Maraknya permintaan terhadap sepeda ini sesungguhnya bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi merata hampir di semua negara. Di Atlantik, misalnya, penjualan sepeda untuk kepentingan olahraga serta komuter naik 66 persen pada Maret 2020. Menurut perusahaan penelitian pasar, NPD Group, penjualan naik 121 persen untuk sepeda santai dan 85 persen untuk sepeda listrik.

Voice of America (VOA) Indonesia juga melaporkan bahwa permintaan sepeda selama masa pendemi Covid-19 di Amerika Serikat juga meningkat sekitar 50 persen. Tanpa disebutkan jumlah detail, namun kenaikan tersebut tergolong luar biasa, dan baru pertama kali terjadi selama 20 tahun terakhir.

Namun di sana pun toko-toko sepeda tidak sanggup memenuhi permintaan warga, sebab stok sepeda yang terbatas. Banyak pula toko sepeda yang belum dibuka kembali. Kondisi ini sempat mengecewakan para calon pembeli, tetapi akhirnya dapat memahami juga.

Stok persediaan sepeda pada toko-toko sepeda di negara-negara di Eropa dan Amerika Utara juga dilaporkan kosong.  Menurut Asosiasi Penjual Sepeda, di Inggris sedikitnya 20.000 sepeda yang masih dalam tahap produksi dan pengiriman. Itu pun sudah dipesan orang atau terjual. “Pascakarantina corona, tiba-tiba banyak orang naik sepeda. Banyak yang baru pakai sepeda karena butuh alat transportasi lain yang aman, terjauhkan dari potensi penyebaran virus Covid-19,” kata Lincoln Romain, Direktur Brixton Cycles di London, Inggris.

Baca juga:

Tatanan Baru Covid-19, Bersepeda Saja!

Lonjakan permintaan itu membuat pabrik-pabrik sepeda di Taiwan menggenjot produksi. Perusahaan sepeda terbesar di dunia, Giant, misalnya, dalam beberapa bulan terakhir telah dibikin kelimpungan dengan membludaknya pemesanan. “Kami bergerak cepat dan meminta semua pabrik bergerak demi memenuhi kebutuhan konsumen,” kata CEO Giant Bonnie Tu di kota industry Taichung, Taiwan (Kompas, 16/6/2020).

Merawat momentun

Antusiasme masyarakat yang tinggi untuk bersepeda tentu patut diacungi jempol. Semakin banyak orang rutin bersepeda pasti membuat kesehatan masyarakat semakin baik. Polusi udara juga bisa terkendali. Langit biru yang begitu menawan sejak adanya pembatasan sosial berskala besar tetap terjaga.

Tetapi di sisi lain ada kekhawatiran jangan sampai semangat ini hanya berlangsung sesaat. Setelah wabah Covid-19 mereda, atau lenyap, semangat bersepeda pun sirna. Inilah tantangan yang sesungguhnya bagi dunia persepedaan.

Lalu apa yang perlu dilakukan agar semangat bersepeda yang meninggi ini awet selamanya? Pihak mana saja yang patut berada di garis depan dalam merawat momentum ini?

Apa pun alasannya pemerintah wajib menangkap momentum baik ini. Langkah awal yang perlu dikerjakan adalah membuka dan memperbanyak jalur sepeda di tengah kota. Sejauh ini DKI Jakarta sudah memiliki jalur sepeda sejauh kurang lebih 63 kilometer. Namun, jalur ini seringkali digunakan moda transportasi lain, seperti sepeda motor.

Sejumlah kota di Eropa, seperti Paris, pemerintah setempat menangkap momentum minat bersepeda yang membludak selama pendemi Covid-19 dengan menambah lagi jalur sepeda sehingga kini mencapai 370 kilometer. Bahkan, warga setempat didorong untuk terus bersepeda. Pemerintah Kota Paris juga mengalokasikan dana dana bantuan sekitar 21,7 juta dollar AS sebagai stimulus. Dana ini untuk pelatihan bersepeda, termasuk Latihan memahami  aturan dan etika bersepeda, kemudian penyediaan tempat parkir, servis sepeda.

Sementara itu, perusahaan produsen sepeda perlu melakukan dua hal. Pertama, menyokong berbagai aktivitas bersepeda, seperti sepeda gembira (funbike), perjalanan (touring) bersepeda jarak menengah dan jarak jauh, serta berbagai event sepeda lainnya. Kedua, memberikan potongan harga dalam pembelian sepeda.

Permintaan sepeda yang meningkat saat ini perlu didukung dengan penyelenggaraan event sepeda. Dengan begitu, semangat yang ada tetap terjaga. Foto diambil saat Jelajah Sepeda Bali-Komodo pada tahun 2012 yang dilakukan harian Kompas. Foto: dokumentasi Kompas

Semakin banyak event sepeda, semangat bersepeda di kalangan pesepeda pemula akan selalu terjaga, bahkan ditingkatkan. Secara bisnis pun memberikan keuntungan berlipat ganda bagi industri sepeda.

Kehadiran  para pesepeda baru ini otomatis menambah keanggotaan komunitas sepeda. Itu sebabnya mereka yang telah lama bersepeda diharapkan menjadi motivator guna meyakinkan para pemain pemula ini agar semangat yang ada terus terjaga, dan segera menemukan manfaat sesunguhnya dari bersepeda. Setelah manfaat itu didapatkan, yang bersangkutan pun menjadikan bersepeda sebagai pilihan utama.

Semakin jauh bersepeda semakin banyak hal menarik dan unik yang ditemui. Entah pesona alam, tradisi masyarakat ataupun kuliner. Apalagi di negeri ini yang kekayaannya yang begitu beragam. Pilihan bersepeda sudah tepat. Bersepeda memang tiada duanya.

Jannes Eudes Wawa
Wartawan, Pegiat Touring Sepeda

4 COMMENTS

  1. Luar biasa memang kenaikan jumlah pesepeda tapi perlu juga edukasi mengenai bersepeda yg santun, taat aturan dan keselamatan diri dlm bersepeda

  2. Artikel yg ditulis Bung Jannes memberi semangat utk publik dlm kebosanan dirmh krn Covid-19. Teruslah berjuang utk publik menyukai olah raga sepeda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here