Sebagian peserta Jelajah Sabang di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dalam perjalanan menuju pelabuhan kapal cepat untuk menuju ke Pulau Weh

Wajah Sumardi (52), pesepeda asal Jayapura, Papua, begitu sumringah saat pertama kali menginjakkan kakinya di kawasan tugu kilometer nol Indonesia di Kota Sabang, Pulau Weh, Provinsi Aceh. Dia seolah tidak percaya, akhirnya datang ke tugu itu dengan bersepeda pula.

“Sudah puluhan tahun saya memendam rindu menginjakkan kaki di Tanah Sabang. Setelah saya bersepeda di Merauke beberapa waktu lalu, dan sampai di titik nol kilometer Indonesia, timbul niat yang semakin besar untuk datang ke kilometer nol di Sabang. Niat itu akhirnya terwujud juga, meski harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Saya sungguh bahagia,” kata Sumadi, lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur, yang sudah 28 tahun menetap di Papua.

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan Andre Rumantir (63), Direktur PT Matahari Department Store. Dia mengaku sudah berkali-kali mengunjungi Banda Aceh untuk urusan bisnis maupun pribadi. Tetapi, belum sekali pun mendatangi Sabang.

“Mencoba melangkahkan kaki dari Banda Aceh ke Sabang terasa begitu berat, meski sejak kecil saya sudah mengenal Sabang melalui pelajaran di sekolah. Maka, saat tahu ada acara bersepeda ke Sabang ini saya tidak berpikir panjang lagi. Ini kesempatan langka. Saya harus ambil,” ujar Andre. 

Wilayah terbarat RI

Pulau Weh di Provinsi Aceh merupakan wilayah paling barat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pulau dengan luas wilayah sekitar 156,3 kilometer persegi itu juga memiliki pesona alam yang beragam dan menarik. Banyak pantai indah, berpasir putih yang memanjang, dengan keindahan bawah laut yang menakjubkan.

Salah satu titik panorama di Sabang, Pulau Weh.

Di pulau itu terbentuk sebuah pemerintahan otonom yang diberi nama Pemerintah Kota Sabang. Melalui pemerintahan itu pula dikembangkan berbagai potensi ekonomi dan sosial budaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Sisi lain, Sabang atau Pulau Weh juga memiliki potensi besar pada sektor pariwisata. Sejumlah obyek yang diminati antara lain Tugu Kilometer 0 Barat Indonesia. Tahun 2017, jumlah wisatawan nusantara yang mengunjungi Sabang sebanyak 736.275 orang, sedangkan wisatawan asing 2.981 orang.

Tahun 2018 wisatawan asing meningkat tajam mencapai 29.827 orang, sementara wisatawan nusantara 709.508 orang. Sabang juga selalu menjadi tempat persinggahan kapal-kapal persiar dengan jalur segitiga yakni Kochi (India)-Sabang-Malaysia.

“Pertumbuhan wisatawan ini menunjukkan Pulau Weh memiliki keunggulan, atau daya tarik. Salah satu yang diandalkan yakni keindahan bawah laut. Disamping tugu Km 0 Indonesia. Tantangan terbesar bagi kami adalah menjamin adanya keamanan wilayah serta menyiapkan akses infrastruktur yang baik menuju lokasi-lokasi wisata,” ujar Wali Kota Sabang, Nazaruddin.

Dia memberi apresiasi yang tinggi kepada peserta Jelajah Sabang 2019 yang datang merayakan hari ulang tahun RI ke-74 di kawasan tugu kilometer nol. Apalagi peserta jelajah ini dari berbagai kota di Indonesia, yakni Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Cirebon, Depok, Bandung, Surabaya, Pangkalpinang, Jayapura, Manokwari, Sorong, Medan, Banda Aceh dan Kuala Lumpur (Malaysia).

“Setiap 17 Agustus selalu ada kegiatan di sekitar tugu Km 0. Tetapi, sejauh ini agak jarang ada komunitas yang merayakan HUT RI atau penyambutan tahun baru di kawasan tugu itu. Semoga adanya Jelajah Sabang ini ikut menambah daya pikat untuk Sabang,” kata Nazaruddin.

Para peserta Jelajah Sabang

Jelajah Sabang yang digelar pada 15-17 Agustus 2018 ini merupakan perjalanan bersepeda yang digagas komunitas Kompas Bike. Kegiatan selama tiga hari itu dimulai dari Banda Aceh, kemudian menyeberang ke Pulau Weh dan menuju ke kilometer nol. Setelah itu kembali lagi ke Banda Aceh. Jelajah Sabang diikuti 94 peserta. Sekitar 97 persen di antaranya baru pertama kali ke Sabang.

Hari pertama begitu tiba di Banda Aceh, sore harinya, peserta bersepeda keliling kota, terutama menyinggahi sejumlah tempat yang masih menyimpan kenangan atas bencana tsunami di Aceh pada tahun 2004, antara lain Museum Tsunami, kawasan pantai dan Masjid Raya Baitul Rahman.

Keesokan harinya bersepeda menuju PelabuhanUlee Lheue, Kota Banda Aceh, lalu menggunakan kapal cepat menuju Pelabuhan Balohan, Kota Sabang. Kemudian bersepeda menuju pusat kota, dilanjutkan lagi, dan berakhir di kawasan Iboh. Dalam perjalanan dari kawasan kota menuju Iboh, kami menyinggahi dua sekolah dasar (SD), yakni di Anoek Laot Balohan, dan di Kelurahan Iboh dengan menyerahkan 350 pasang sepatu dan peralatan sekolah untuk siswa di kedua sekolah tersebut.

Bantuan itu atas kerjasama komunitas Kompas Bike dan perusahaan sepatu Fladeo. Penyerahan disaksikan Wali Kota Sabang Nazaruddin, dan Direktur Utama Fladeo Onnes Kamil Kok alias Ayung. “Saya menaruh hormat dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada para peserta Jelajah Sabang. Datang ke Sabang untuk berwisata menggunakan sepeda, dan memberikan bantuan sepatu bagi siswa sekolah dasar. Ini aksi yang luar biasa,” kata Nazaruddin.

Engkun Kurnia, pesepeda asal Bandung, Jawa Barat, mengaku sejak memastikan mengikuti Jelajah Sabang, dirinya beberapa kali meminta informasi kepada teman-temannya yang pernah menggunakan sepeda motor menjelajahi Sabang. Dari cerita mereka, dia mengetahui bahwa jalur di Sabang cukup berat dan menantang meski jalannya beraspal mulus. “Teman-teman pemain sepeda motor touring di Bandung sampai bilang kepada saya, gelo loe mau bersepeda di Sabang,” ungkap Donkun sapaan Engkun Kurnia.

Informasi itu benar adanya. Saat baru keluar dari Pelabuhan kapal cepat, sekitar 200 meter di depannya langsung menghadapi tanjakan yang lumayan tajam. Setelah itu sempat melewati jalan menurun, tetapi kemudian nanjak lagi. Itu berkali-kali tiada henti.

“Untung saja dibantu pemandangan alam terutama laut dan pesisir yang menarik sehingga kelelahan melewati jalan rolling itu terobati. Makanya, saya bahagia banget bisa menuntaskan perjalanan di Sabang dengan lancer dan tidak mengalami gangguan. Apalagi saya menggunakan sepeda Brompton,” tambah Donkun.

Berbeda dengan Malaysia

Khushairi Muhammad, asal Malaysia mengaku sangat berbahagia bisa bersepeda di Sabang. Ini seolah melengkapi perjalanan bersepeda di Indonesia. Sebelumnya, Khushairi pernah mengikuti sejumlah touring sepeda yang dilakukan harian Kompas, seperti Bali Bike, Minang Bike, Tambora Bike, dan Jelajah Sepeda Papua.

Salah satu tanjakan dengan tikungan tajam di Pulau Weh. Jalur ini menghubungkan Kota Sabang dengan tugu kilometer nol

Di Malaysia, lanjut Khus, jarang sekali ada event touring sepeda selama minimal tiga hari. Kegiatan sepeda umumnya fokus di jalan utama dengan menggunakan sepeda jenis road bike. Itu sebabnya, bagi para pesepeda di Malaysia yang ingin touring, maka umumnya datang ke Indonesia.

“Di Indonesia, banyak daerah yang menarik, baik keindahan alam, tradisi masyarakat maupun jalur yang menarik dan nyaman untuk bersepeda. Salah satu contoh di Sabang atau Minangkabau atau Bali. Itu yang membuat pesepeda Malaysia sering melakukan touring di Indonesia,” jelas Khushairi yang juga dibenarkan Amir, pesepeda lain dari Kuala Lumpur.

Kawasan Iboh berjarak sekitar delapan kilometer dari tugu kilometer nol Indonesia, atau sekitar 30 kilometer dari pusat pemerintahan Kota Sabang. Iboh termasuk salah satu titik tujuan wisata di Pulau Weh. Berada di tepi pantai dengan laut yang bersih dan tenang. Umumnya menjadi untuk aktivitas penyelaman.

“Wisatawan asing yang datang ke Sabang lebih memilih menginap di kawasan Iboh. Tersedia banyak penginapan yang bersih dikelola warga setempat. Mereka bisa menginap selama tiga hingga lima hari,” jelas Azhar, pengemudi mobil travel di Sabang.

Pada Sabtu, 17 Agustus 2019, setelah sarapan sekitar pukul 06.25 WIB, peserta pun langsung bersepeda menuju tugu kilometer nol Indonesia. Di sana, kami ingin merayakan HUT Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia.

Peserta Jelajah Sabang menikmati gowes di jalur yang sepi di tengah rimbunan hutan belukar dengan jalan beraspal mulus.

Bersepeda pagi itu sungguh menyenangkan. Melewati hutan dengan pohon-pohon yang masih padat sejauh kurang lebih delapan kilometer dengan jalan beraspal hotmix yang mulus serta udara yang segar membuat perjalanan ini sungguh istimewa. Beberapa tanjakan yang dilewati seolah bukan hal yang berat.

“Saya senang banget bersepeda di jalur seperti ini. Benar-benar menghirup oksigen yang berkualitas tinggi. Sungguh menyenangkan dan sangat berkesan.  Gowes ke Sabang ini takkan terlupakan,” ujar Amelia Damayanti, peserta asal Jakarta yang juga baru pertama kali bersepeda di Sabang. (Jannes Eudes Wawa)

1 COMMENT

  1. Terima kasih Om Jannes, betul-betul mengesankan, sy mau membuktikan lagu Dari Sabang sampai Marauke, ternyata benar adanya lagu tersebut, dan pengalaman tak terlupakan sampai kapanpun, apakah saya masih bisa ke Sabang lagi dengan bersepeda ? Wallahu a’lam 🙏

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here