Perkenalkan nama saya Grady. Saya penggemar berat sepeda tua. Kegemaran ini sudah saya lakoni sejak lama. Lama sekali. Saya juga sering terlibat dalam berbagai kegiatan sepeda tua baik di dalam maupun di luar negeri. Itu sebabnya di kalangan teman-teman pesepeda saya selalu dipanggil dengan Grady Onthel.

Kali ini saya tidak mau membahas tentang sepeda. Apalagi sepeda tua. Percuma kita bahas sepeda di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kita tidak bisa gowes juga. Mau bahas soal cuci dan perbaiki sepeda pun sudah terlalu sering sehingga bakal membosankan juga. Lama-lama bisa tambah bete, tambah pusing.

Saya hanya mau membahas soal wabah yang kini menggerogoti dunia: virus corona (covid) 19. Virus yang mematikan tersebut telah memakan banyak korban. Di Indonesia, hingga Sabtu, 2 Mei 2020 sudah 10.843 orang positip terjangkit Covid-19, 831 orang meninggal dan 1.665 orang sembuh. Kasus kematian di seluruh dunia telah mencapai 238.826 orang. Jumlah itu terus bertambah setiap hari, dan belum ada tanda-tanda kapan wabah ini akan berakhir. Seolah berjalan di dalam lorong yang teramat gelap tanpa menemukan setitik cahaya.

Sabtu, 2 Mei 2020 sekitar pukul 14.35 WIB, saya bersama dua teman tiba di Taman Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Kami membawa 650 potongan (pcs) penutup wajah untuk diserahkan kepada petugas makam, sumbangan sejumlah pesepeda dalam Komunitas Kompas Bike.

Sebelumnya, Rabu, 29 April 2020, sumbangan yang sama sebanyak 500 pcs juga diserahkan di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat. Penggalangan donasi dilakukan om Jannes Eudes Wawa selaku koordinator komunitas. Komunitas Kompas Bike adalah kumpulan para pesepeda yang pernah mengikuti berbagai event perjalanan bersepeda yang dilakukan harian Kompas. Total bantuan 1.150 pcs penutup wajah.

Bantuan itu diterima ibu Lis dan pak Teguh, pengelola TPU Pondok Ranggon. Keduanya sangat berterima kasih atas donasi ini. “Petugas kami sangat membutuhkan penutup wajah. Di sini, setiap hari kami memakamkan cukup banyak jenazah korban Covid-19. Penutup wajah menjadi kebutuhan vital untuk petugas makam. Mohon sampaikan terima kasih kami kepada mereka yang telah mengulurkan tangannya,” kata Teguh.

Bantuan penutup wajah dari sejumlah pesepeda Komunitas Kompas Bike diserahkan kepada petugas TPU Pondok Rangon.

Sungguh memilukan

Sehabis menyerahkan bantuan, kami sempat mendatangi lokasi pemakaman para korban Covid-19. Ada ratusan makam baru. Yang mengagetkan saya yakni di antara ratusan makam itu ada makam yang hanya tertulis tanggal pemakaman. Ada pula yang cuma ditulis asal rumah sakit yang mengirimkan jenazah. Semua itu tanpa disertai nama jenazah.

Bukan itu saja. Bahkan, ada makam yang sama sekali tidak tertulis apa pun pada batu nisan atau salib pusara. Saya sangat terharu melihat begitu banyak pusara tanpa nama. Saya kaget, dan mata berkaca-kaca. Saya membayangkan bagaimana keluarga korban yang datang untuk nyekar, tetapi mereka pun tidak bisa mengenali makam orang yang dicintainya. Ini sungguh tragis. Sungguh memiluhkan.

Sabtu sore itu, ada satu keluarga asal Depok juga datang ke TPU Pondok Ranggon. Mereka ingin nyekar anggota keluarga mereka korban Covid-19 yang dimakamkan sehari sebelumnya yakni Jumat (1/5/2020). Saat dimakamkan tidak ada keluarga yang mendampingi. Jenazah itu diangkut dari salah satu rumah sakit di Jakarta oleh petugas menuju TPU Pondok Rangon. Begitu tiba, jenazah pun diusung petugas makam menuju liang lahat yang telah disiapkan, dan langsung dimakamkan.

“Pak, dimana makam jenazah yang dimakamkan kemarin,” tanya salah satu anggota keluarga dari Depok tersebut kepada petugas TPU Pondok Ranggon.

“Kalau (jenazah) yang (dimakamkan) kemarin silakan dicek di sebelah sana. Ada tiga makam yang berdekatan. Mungkin salah satunya,” jawab petugas tersebut.

Setelah lokasi pemakaman itu didatangi ternyata ketiga makam yang dimaksud sama-sama tidak bernama. Keluarga itu tampak bingung, heran dan sedikit emosi. Beberapa orang di antaranya menangis karena tidak menemukan makam orang yang dicintainya tersebut.

Salah seorang anggota keluarga mencoba meminta informasi kepada petugas TPU tentang cara untuk mengetahui makam keluarganya? Menurut petugas makam, bagi makam yang tanpa nama pihaknya hanya bisa memastikan lokasi sesuai waktu pemakaman. Sedangkan untuk identitas jenazah silakan mendatangi rumah sakit yang merawat korban hingga meninggal. Di sana, data-data korban tercatat dengan baik, termasuk waktu dan tujuan pengiriman jenazah untuk dimakamkan.

Makam tidak bernama di komplek pemakaman Kristen TPU Pondok Rangon

Imam Maulana, Ketua Tim Pemakaman TPU Pondok Ranggon menjelaskan, sesuai instruksi dari tim medis bahwa setiap jenazah korban virus corona (Covid) 19 yang tiba di TPU harus langsung dimakamkan. “Instruksi itu yang kami lakukan selama ini. Kami tidak tahu soal nama jenazah yang dimakamkan. Itu bukan urusan kami. Silakan tanyakan saja ke tim medis,” jelas Imam.

Menjelang sore, datang sebuah mobil ambulance mengangkut satu jenazah korban Covid-19 untuk dimakamkan di TPU Pondok Ranggon. Begitu mobil ambulance tiba, petugas langsung mengeluarkan peti jenazah yang terbungkus plastik, kemudian diusung menuju lokasi pemakaman, dan langsung dimakamkan. Tidak satu pun keluarga yang hadir dalam pemakaman tersebut. Makam ini pun tidak bernama lagi.

Tragedi wabah Covid-19 sungguh mengerikan dan menyakitkan. Dia telah mengisolasi korban dari orang-orang terkasih begitu yang bersangkutan dinyatakan positif terjangkit hingga ajal menjemput. Dia juga melarang siapa pun untuk mendekati jenazah hingga pemakaman, kecuali petugas. Bahkan, ada korban yang setelah dimakamkan pun tidak diketahui yang mana pusaranya. Pendemi ini benar-benar pembunuh yang sangat kejam.

Bagi yang telah wafat, segala penderitaannya telah selesai. Tetapi duka itu terus menghimpit keluarga yang ditinggalkan. Sungguh menyedihkan! Jadi, jangan main-main dengan pendemi Covid-19. (Gredy)

editor:  Jannes Eudes Wawa                 

 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here