Sepeda Dahon Classic tahun 1982-1999. Foto dokumentasi Komunitas ID Dahon

Oleh: Jannes Eudes Wawa

Dari sekian banyak merek sepeda yang kini digunakan masyarakat di Indonesia, barangkali Dahon, merek sepeda berbasis di Amerika Serikat ini boleh dibilang mendapatkan momentum yang pas di tahun 2020. Pionor sepeda lipat dunia ini, selain kecipratan atas membludaknya permintaan sepeda yang terjadi di mana-mana, juga mulai tahun ini diproduksi lagi di Indonesia untuk ekspansi pasar dalam negeri dan Asia Tenggara.

Pabrik sepeda Dahon yang berada di Kendal, Jawa Tengah ditangani PT Roda Maju Bahagia (MRB) sebagai pemegang lisensi dengan label Dahon Ion sudah beroperasi beberapa bulan lalu. Ini adalah bagian dari jaringan produksi Dahon Global. Selama ini, PT RMB telah memproduksi sejumlah merek sepeda lipat antara lain Element. Pengalaman ini menjadi salah satu pertimbangan utama.

Negosiasi dalam pemberian lisensi tersebut tentu bukan berlangsung dua sampai tiga kali pertemuan, tetapi lebih dari itu. Kesepakatan akhirnya dihasilkan pasti dengan pertimbangan yang matang dari segala aspek. Secara bisnis, Dahon sudah melihat prospek jauh ke depan. Apalagi, minat orang di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara untuk bersepeda terus meningkat.

Beberapa tahun silam, Dahon pernah diproduksi di Indonesia hasil kerja sama dengan salah satu perusahaan produsen sepeda. Namun tak lama kemudian, kerja sama tidak dilanjutkan lagi, dan Dahon untuk Indonesia harus diimpor.

Saling menguntungkan

Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh kedua pihak atas kerja sama itu. Pertama, terjadi penghematan sejumlah biaya produksi, pengiriman, serta bea masuk atas pengiriman dari luar negeri. Selama ini pabrik sepeda lipat Dahon terpusat di Taiwan yang didukung pabrik perakitan di China, Makau dan Bulgaria.

Pabrik-pabrik tersebut dikabarkan sedang fokus memenuhi permintaan pasar di Eropa dan kawasan lainnya yang juga terus membludak. Penghematan dari hadirnya pabrik di Kendal dapat menekan lagi harga penjualan Dahon di Indonesia.

Kedua, kehadiran pabrik di sentra penjualan membuat harga bakal lebih kompetitif. Dengan harga yang terjangkau, penerimaan pasar bakal lebih masif. Hal ini memberikan peluang bagi Dahon untuk masuk lebih dalam di kalangan kelas menengah ke atas.

Ketiga, kawasan Asia Tenggara terdiri atas 11 negara dengan total jumlah penduduk sekitar 668.619.840 jiwa. Jumlah ini tentu menjadi pasar yang sangat besar dan prospektif bagi Dahon. Itu sebabnya, Dahon ingin menggarap lebih serius dengan meningkatkan volume produksi sekaligus penjualan sehingga tidak hanya menjadi pionir, tetapi menguasai pasar sepeda lipat dunia.

Bagi Indonesia, langkah Dahon ini akan memberi manfaat yang banyak. Selain tenaga kerja terserap, ada pula proses alih teknologi, dan pemasukan devisa bagi negara terlebih menjadi basis ekspor bagi Asia Tenggara.

CEO PT Roda Maju Bahagia, Hendra memastikan akan memproduksi dan memasarkan Dahon Ion secara masif. “Saat ini pabrik Dahon di Shenzhen China sudah penuh dan mereka fokus ekspor ke Eropa. Maka melalui kerja sama ini, RMB akan menjadi penghubung (hub) ekspor Dahon ke semua negara di Asia Tenggara,” jelasnya.

Pabrik sepeda milik RMB di Kendal saat ini memproduksi sepeda lipat 1.000-1.200 unit per hari. Kapasitas ini akan terus ditingkatkan, dan ditargetkan pada akhir tahun 2020 dapat memproduksi 1.500 unit per hari. Saat ini, manajemen Dahon terus mendampingi sekaligus mengawasi secara ketat proses produksi sepeda lipat itu di Kendal agar kualitas benar-benar terjaga.

“Kami sangat senang karena proses alih teknologi sepeda lipat terjadi dengan sangat baik dan kami dapat menimbah banyak ilmu dari Dahon. Kami akan bekerja keras agar kerja sama ini memberi manfaat besar bagi kedua pihak dan masyarakat,” kata Hendra yang mengaku mendapat lisensi untuk memproduksi delapan tipe Dahon di Indonesia.

Sejumlah anggota Komunitas Dahon mengunjungi pabrik Dahon di Kendal beberapa waktu lalu. Foto: Dokumentasi Komunitas ID Dahon.

Pada tahun-tahun pertama Dahon Ion hanya diproduksi sekitar 10-15 persen dari kapasitas pabrik yakni 2.000 unit per hari. “Tuntutan Dahon dalam tahap awal ini adalah kualitas. Karena itu, seluruh proses produksi yang terus diawasi secara ketat. Tahap berikutnya barulah diberikan target produksi dan pemasaran,” jelasnya.

Hendra mengungakpan, PT MRB telah memiliki fasilitas distribusi, dealer dan ritel hampir di semua kota besar, termasuk pasar modern dan penjualan daring. Semua lini  akan digerakkan guna meningkatkan penjualan Dahon. Momentum antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap sepeda menjadi peluang yang baik bagi Dahon menggarap pasar di Indonesia dan Asia Tenggara. Ada tiga tipe Dahon Ion yang mulai diproduksi di Kendal, yakni Chicago, Eugene dan Denver. Seiring dengan itu, Dahon Ion pun mulai mengampanyekan kembali ke Dahon (Back to Dahon).

Harga kompetitif

Yusri Yusuf Daeng, pesepeda dari komunitas Kompas Gramedia Cyclist (KGC) menilai merek Dahon sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat Indonesia. Jika ada orang yang ingin memembeli sepeda lipat dengan modal berkisar Rp 5 juta-Rp 8,5 juta, maka pilihan pertama selalu Dahon.

“Mengapa? Karena Dahon selalu kokoh dan stabil saat digowes di jalan datar, tanjakan dan turunan. Saya sudah lama menggunakan Dahon MU P8 dan dipakai dalam berbagai event, seperti Tour de Ambon Manise, Jelajah Rote, Jelajah Sabang, touring Purwokerto-Dieng, dan masih banyak lagi. Sangat nyaman dan tangguh,” ungkap Yusri.

Hal yang sama juga dikatakan Rachmani Endrawati alias Endi, pemilik salah satu butik di Jakarta. Di mata dia, tidak ada sepeda lipat yang lebih bagus selain Dahon. Banyak kelebihan yang dimiliki, antara lain harga yang terjangkau, ukurannya tersedia beberapa versi antara lain size 20 dan 22, dan lipatannya juga tidak terlalu ribet.

Selain itu, giginya bisa ditingkatkan sesuai keinginan pemiliknya sehingga nyaman melewati tanjakan-tanjakan tajam atau gowes jarak jauh. Terlebih lagi, dapat dipasang rak untuk tas di bagian depan dan rak belakang untuk membawa barang tanpa membebankan punggung pegowes saat bersepeda ke tempat kerja atau bersepeda jarak jauh selama beberapa hari.

“Saya juga punya sepeda lipat yang mahal, tetapi saya lebih nyaman menggunakan Dahon untuk perjalanan ke mana saja. Banyak banget kelebihannya,” ungkap Endi yang sudah 15 tahun setia menggunakan Dahon, termasuk dalam berbagai touring sepeda baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa, seperti Sumatera, Papua, Bali, Lombok dan Maluku.

Harapan agar harga Dahon di Indonesia lebih murah lagi juga ditekankan Albertus Ong, pesepeda di Kelapa Gading, Jakarta. Kehadiran pabrik Dahon di Kendal bagi dia harus diikuti dengan pengurangan harga jual produk Dahon. “Hanya dengan harga yang lebih kompetitif, Dahon dapat lebih membumi di Indonesia. Apalagi, saat ini semakin banyak merek sepeda lipat yang dipasarkan di Indonesia. Modelnya bagus dengan harga lebih murah,” ujarnya.

Baca juga:

Sepeda Dapatkan Momentum

Mengelola komunitas

Saat ini pesepeda Dahon di Indonesia memiliki beberapa komunitas sepeda. Tetapi yang terbesar ID Dahon (Indonesia Dahon Community). Menurut Presiden ID Dahon Shinta Idriyanti, meski banyak komunitas, tetapi semua anggotanya memiliki semangat yang sama, sehingga di antara mereka selalu berkoordinasi. ID Dahon yang dalam group facebook memiliki 13.279 anggota dengan pengikut di Instagram ada 6.500 orang.

Pada Mei lalu, ID Dahon melakukan pooling secara daring tentang jenis sepeda yang dimiliki yang diikuti 1.496 pesepeda Dahon. Hasilnya, pengguna Dahon Boardwalk sebanyak 18,58 persen, disusul Dahon Speed 14,43 persen, Dahon Da Bike 12 persen, California 5,6 persen, Vitese 5 persen, Curve D3 dan MU masing-masing 4,8 persen, Vigor 3,6 persen, Dahon III 3,7 persen, Eco 2,8 persen. Sisanya ada belasan jenis Dahon di bawah dua persen.

Menurut Shinta, hasil pooling ini menunjukkan dua hal utama. Pertama, gambaran jenis sepeda Dahon yang beredar di Indonesia, termasuk yang paling diminati masyarakat. Kedua, hasil ini juga menggambarkan bahwa sepeda Dahon yang ada di Indonesia tidak semuanya dibeli melalui distributor di Indonesia. Ada beberapa jenis yang dibeli langsung penggunanya di luar negeri sebab belum pernah dipasarkan di dalam negeri.

Dia mengangku pihaknya terus mengelola komuntas pengguna sepeda Dahon, baik melalui media sosial maupun berbagai event. “Kami selalu ada acara kumpul-kumpul sambil gowes bareng, sebab ada juga yang pesepeda pemula. Kadang bikin touring bareng. Hal-hal seperti ini bagus untuk saling menguatkan. Kita bersepeda kan untuk berbahagia,” papar Shinta.

Hasil pooling jenis sepeda Dahon yang dimiliki anggota komunitas Dahon. Pooling dilakukan pada Mei 2020 diisi 1.496 orang.

Perhatian terhadap komunitas pesepeda Dahon di Indonesia juga dilakukan Bike Colony selama lima tahun terakhir. Dion Romano dari Bike Colony mengaku sebelum adanya pendemi, pihaknya selalu melakukan kegiatan melibatkan pesepeda Dahon di berbagai tempat. Namun sejak maraknya wabah Covid-19, pelayanan terhadap komunitas Dahon hanya dilakukan melalui virtual, antara lain pelatihan atau diskusi dengan tema yang beragam.

Dia juga mengaku terkejut dengan fenomena permintaan sepeda yang begitu membludak di seluruh dunia, termasuk di semua kota di Indonesia. Pengelola industri sepeda umumnya tidak siap. Produksi sempat menurun akibat karyawan diliburkan. Begitu pula dengan toko sepeda ditutup. Tak heran, banyak permintaan tidak bisa terpenuhi akibat stok yang terbatas.

“Penjualan Dahon di Indonesia naik 50 persen, bahkan lebih. Sekarang, hampir semua toko nyaris tidak punya stok lagi. Ini sesuatu yang luar biasa. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bakal terjadi peristiwa seperti ini. Benar-benar di luar ekspektasi,” jelas Dion.

Yang menarik adalah banyak pembeli yang terpaksa melakukan pemesanan terlebih dahulu. Fakta inden ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah penjualan sepeda di Indonesia.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here