Godaan Cijulang dan Laksa Legendaris Pak Inin

tanggal:

Share post:

Kami menyempatkan diri berfoto di tengah hutan pinus, tidak jauh dari Cijulang. Ada sungai kecil di tengah hutan ini membuat suasana terasa sejuk dan nyaman. Foto: Dokumen Pribadi

Oleh: YUSTINA WARDHANI

Di Bogor ada warung laksa yang telah berusia 56 tahun. Namanya Laksa Pak Imin. Warung ini sudah melegenda, dan selalu diburu para penggemar kuliner. Racikannya gurih segar dengan ketupat, tahu, oncom, bihun, tauge dan telor sebagai pelengkap. Disiram dengan kuah bumbu kuning, taburan serundeng yang manis gurih dan daun kemangi yang bikin aromanya makin segar. Keunikan laksa Pak Inin melengkapi gowes kami pada Selasa (3/8/2021).

Gowes kali ini diikuti kami berlima: saya, mbak Yayuk, mas Dewo, Erwin, dan Aldo. Kami sama-sama tinggal di wilayah Bogor. Rute yang direncanakan yakni dari Bogor menuju ke Cijulang. Lokasi ini berada di Kecamatan Cijeruk, kawasan selatan Bogor.

Rute sepeda menuju Cijulang banyak digemari pesepeda. Bisa memilih rute jalan beraspal (road), atau semi off road. Kami memilih jalur campuran yakni melewati jalan aspal, jalan tanah perkampungan, cor dan batu lepas serta melewati pematang sawah dan kebun.

Sebelum pukul 07.00 WIB, kami sudah berkumpul di rumah milik mbak Yayuk dan mas Dewo di Jalan Pandu Raya. Rumah pasangan suami-istri ini menjadi lokasi star. Sebelum memulai perjalanan, kami kembali lagi berkomitmen sesuai rencana awal bahwa gowes ini tidak memiliki target jarak tempu dan batas waktu. Semua dilakukan sesukanya. Yang terpenting bahagia, menikmati udara segar dan penorama indah.

Pukul 07.30 WIB, perjalanan dimulai. Dari Jalan Pandu Raya kami melewati beberapa perumahan untuk memotong jalan hingga bertemu jalan utama Raya Pajajaran. Setengah memutar di Kebun Raya Bogor, kemudian berbelok melewati pecinan Bogor yakni Suryakencana.

Setelah itu, belok lagi ke kanan memotong menuju Bogor Nirwana Residence (BNR). Membelah boulevard perumahan mewah itu dan kembali mencari jalan kampung menuju desa Mulyaharja. Di sini kami melewati jalan pedesaan yang kecil diselingi naik turun rolling, tetapi pemandangan Gunung Salak dari kejauhan serta udara yang bersih dan segar membuat kami begitu bersemangat mengayuh sepeda.

Kondisi jalan dari Bogor Nirwana Resort (BNR) ke Mulyaharga sudah berubah dibanding dua bulan lalu. Saat itu, kami gowes melewati jalan tanah yang diselingi bebatuan kecil. Kali ini jalan itu sudah dicor dengan semen kasar. Di kiri dan kanan jalan pun mulai terbangun bangunan kios tanaman hias. Bahkan, ada beberapa lokasi lahan persawahan sedang dialihkan menjadi perumahan kluster kecil berkisar 6-10 unit.

Beberapa kilometer di depan, kami masuk  lagi jalan kecil di kampung yang menghantar kami bertemu  pematang sawah dan kebun. Mengayuh sepeda di jalan kecil cor beton kasar berlumut, batu lepas dan kerikil serta tanah bergelombang dan rumput memaksa kami harus ekstra hati-hati dan menjaga keseimbangan agar tidak terpeleset.

Tak sampai disitu keseruannya, medan ajib tadi masih ditambah dengan elevasi yang naik turun dan ajrut-ajrutan yang memaksa kami harus rela turun dari pedal dan mendorong sepeda. Belum lagi beberapa kali berpapasan dengan sepeda motor warga setempat yang mengangkut rumput, hasil kebun dan perlengkapan bercocok tanam, membuat kami harus menepi sejenak. Tantangan-tantangan ini yang membuat gowes piknik makin seru dan asyik.

Selepas dari medan yang memacu adrenalin tadi, kami bertemu lagi jalan beraspal mulus. Tetapi langsung disuguhi tanjakan terjal dengan jarak sekitar 1,5 kilometer dengan kemiringan 8,9 derajat. Nyali kami sempat ciut dan nyaris putus asa.

Erwin, sang pemandu mencoba menguatkan dan memberi semangat.  Kami diyakinkan bahwa tanjakan itu merupakan yang terakhir. Setelah itu, akan tiba di Patung Kuda yang menjadi ikon Desa Cijulang.

Setelah mengumpulkan semangat dan tekat, kami pun mengayuh di jalan tanjakan terjal itu. Kayuhan dengan gigi kecil dan konstan. Ngos-ngosan, tetapi tekat tetap bulat harus tembus, sehingga tantangan ini bisa dilewati dengan aman dan lancar. Tabah menjadi kunci menghadapi setiap tanjakan serta menjaga heart rate dalam batas normal.

Sekitar pukul 08.45 WIB, kami pun tiba di Patung Kuda Cijulang. Patung itu menjadi ikon Cijulang. Entah mengapa kuda yang dipilih menjadi ikon Cijulang masih misteri. Belum ada pihak yang secara khusus menulis tentang latar belakang pemilihan kuda sebagai ikon.

Tetapi, yang pasti kawasan patung kuda itu sungguh menarik. Kami pun beristirahat dan menikmati sarapan untuk memulihkan fisik sekaligus meningkatkan tenaga. Kami juga sempat gowes di sekitar kawasan itu, dan menemukan lagi patung gajah putih yang letaknya tidak jauh dari patung kuda. Kami pun mengabadikan momentum ini untuk mengumpulkan kenangan.

Setelah puas berswafoto di kawasan Cijulang, kami pun memutuskan pulang. Namun, mengingat waktu baru sekitar pukul 09.30 WIB, kami berpikir terlalu cepat jika perjalanan pulang itu langsung menuju Bogor. Kami ingin mencoba jalur lain yang mungkin tidak kalah menarik.

Salah satu titik jalur dari Bogor menuju Cijulang. Jalan-jalan desa yang sepi dengan udara yang segar membuat gowes terasa nikmat. Foto: Dokumen Pribadi

Kami akhirnya memilih pulang ke Bogor melewati jalur lain.  Jalan yang ada umumnya masih berupa tanah dan kerikil kecil. Sekitar lima kilometer selepas patung kuda Cijulang, kami mulai melewati di tengah hutan pinus. Ada pula sungai kecil dengan aliran air yang sangat jernih. Sekali-kali terdengar gemercik air, terutama saat melewati jembatan. Udaranya pun begitu segar dan sejuk. Bias mentari yang menerobos pinus membuat suasana makin magis.

Memang tidak mudah gowes di jalur yang sebagian besar masih berupa tanah, berbatu, bahkan becek. Terkadang ban sepeda terselip membuat kami terpaksa hanya mendorong guna menghindari jatuh dan cedera. Tetapi, penorama yang dijumpai di tengah hutan pinus  membuat kami tidak menyelesali pilihan rute tersebut. Kami malah sangat bahagia.

Laksa legendaris

Lepas dari rute pohon pinus, kami menghadapi turunan yang cukup tajam. Kami cukup kaget, tetapi tidak ada pilihan lain kecuali harus maju terus. Kami saling mengingatkan agar ekstra hati-hati dan berkosentrasi penuh saat mengayuh. Tantangan ini pun bisa dilewati dengan aman.

“Saya pikir rute pulang ini akan aman-aman saja. Tinggal melewati turunan yang nyaman. Tetapi cukup banyak kejutan yang menantang, menguji nyali, tetapi menyenangkan. Sungguh menarik. Rute pulang sama menantangnya dengan rute berangkat,” ujar Dewo sambil tertawa ngakak.

Selepas turunan tajam itu, kami menuju ke BNR, kemudian memutar di dalam kawasan itu, lalu berbelok ke arah Cibereum. Di sana, ditemukan warung Laksa Pak Inin. Warung kecil ini berdinding dan atap menggunakan bambu. Kondisi bambu pun mulai rapuh. Bagian dalamnya tersedia lima meja lengkap dengan kursi yang terbuat dari kayu. Lantai pun masih berupa tanah.

Usaha warung laksa ini sudah memasuki generasi ketiga. Mulanya warung laksa ini dirintis kakeknya Pak Inin pada tahun 1965. Setelah sang kakek berpulang, usaha yang sama dilanjutkan ayah Pak Inin, dan dalam beberapa tahun terakhir ditangani Pak Inin. Semua beroperasi di Bogor.

Saat ini warung Laksa Pak Inin berada di dua tempat, yakni di Cihideng, Kecamatan Cijeruk yang dikelola langsung Pak Inin. Warung laksa satunya lagi berlokasi di Cibereum, dekat BNR yang dikelola putra Pak Inin.

Warung Laksa Pak Inin biasanya ramai pada hari Sabtu dan Minggu. Bisa diserbu ratusan orang dari berbagai wilayah. Bahkan, warga Jakarta dan sekitarnya pun saat berkunjung ke Bogor selalu menjadikan warung laksa Pak Inin sebagai salah satu tujuan menikmati kuliner. Mereka antara lain para pesepeda.

Kami sedang menikmati laksa di warung milik Pak Inin. Warung laksa ini sangat legendaris, beroperasi sejak tahun 1965. Foto: Dokumen Pribadi

Laksa buatan Pak Inin masih menggunakan metode tradisional. Laksa dihangatkan di atas tungku kayu bakar dibagian depan warung. Dalam mangkuk telah disiapkan irisan ketupat, tauge, sedikit oncom dan bihun. Kuah dituangkan ke atas bihun, ditiriskan dan dituangkan lagi. Proses ini dilakukan beberapa kali untuk membuat kuah laksa lebih meresap. Kemudian dituang ke atas piring. Tampak laksa dilengkapi sepotong tahu kuning, sebutir telur rebus, taburan serundeng serta daun kemangi.

Slurrrpp ! Kuah laksa terasa gurih manis begitu pertama disesap. Tekstur kuahnya pekat karena menggunakan santan segar dan kelapa parut. Sentuhan rasa segar tercecap khas dari daun kemangi. Ditambah dengan teh hangat yang dimasak diatas tungku, membuat sajian jadi makin istimewa.

Setelah menikmati laksa legendaris, kami pun gowes lagi menuju Bogor melalui jalan-jalan tikus untuk menghindari keramaian. Begitu tiba di Taman Kencana, kami pun berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Gowes kali ini sejauh 43.19 km. Sungguh nikmat dan sangat menyenangkan.

Yustina Wardhani
Pegiat Sepeda

Editor: Jannes Eudes Wawa

 

Baca juga:

Jangan Takut Gowes Seorang Diri Rute Bocimi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Registrasi Jelajah IKN 2022

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur...

Semalam di Pulau Terselatan Indonesia

  Meski berstatus sebagai pulau terselatan Indonesia, tidak satu pun warga sipil yang menghuni di Ndana. Itu sebabnya, pulau...

Sport Jantung di Perairan Terselatan Indonesia

Perairan selatan selalu memiliki ombak tinggi. Ndana, sebagai pulau terselatan Indonesia juga terkenal memiliki  gulungan ombak yang panjang,...

Air Mata Berlinang di Pulau Terselatan Indonesia

Banyak cara dilakukan masyarakat Indonesia dalam merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Puluhan pesepeda dari berbagai kota memilih...