Jangan Takut Gowes Seorang Diri Rute Bocimi

tanggal:

Share post:

Penulis berswafoto di Lampur Gentur, Bundaran Landmark Cianjur. Foto: Dokumen Pribadi

Oleh: YUSTINA WARDHANI

Rabu (19/5/2021) pagi sebetulnya hanya berencana gowes dari kawasan Bogor Utara ke Puncak sekaligus halal bihalal di Mang Ade, Posko MTB. Tetapi, setelah tiba di sana, muncul niat untuk meneruskan hingga Sukabumi, dan Bogor lewat jalur yang berbeda. Niat itu pun terwujud sehingga jadilah hari itu bersepeda hingga sejauh 162 kilometer dalam waktu 9,5 jam.

Sekitar pukul 05.10 WIB, saya memulai bersepeda dari komplek perumahan di kawasan Bogor Utara menuju Tugu Kujang Bogor. Jalur landai dan menanjak tipis sepanjang 7,5 kilometer dilalui dengan lancar walau hari masih gelap. Lima lampu merah yang dilalui tampak lengang pada pagi yang dingin itu. Sempat bertemu seorang pesepeda di lampu merah  Jambu Dua, lalu kami gowes bersama hingga lampu merah Lodaya.

Udara yang segar dan lalu lintas sepi pagi itu membuat gairah gowes meninggi. Tanpa henti, terus mengayuh menuju Ciawi. Jalan tanjakan yang dihadapi tidak menjadi halangan serius. Sekitar pukul 06.00, saya sudah tiba di perempatan Ciawi.

Perempatan Ciawi merupakan titik pertemuan jalur menuju puncak, jalur dari Sukabumi dan jalur exit tol Jagorawi. Perempatan besar ini biasanya padat dengan kendaraan besar menuju Sukabumi, keramaian pasar Ciawi, serta keruwetan angkutan dari semua jurusan yang sering ngetem menunggu penumpang. Saat berhenti di lampu merah, saya manfaat waktu minum dan makan kurma.

Perjalanan berlanjut hingga di Posko MTB Mang Ade Puncak. Saya menghabiskan waktu 2 jam untuk jarak 25 kilometer itu dari Ciawi hingga Puncak. Rute ini selalu menjadi pilihan pesepeda balap (roadbike) dari Jakarta. Mereka umumnya gowes dari SPBU Ciawi atau  Vimala HIill dengan rute Masjid Gadog – Puncak pergi pulang.

Ruas jalan Ciawi menuju Puncak menjadi rute menantang karena tanjakannya panjang dengan suhu udara yang kalem. Untuk para pemula, butuh rehat beberapa kali untuk mencapai Puncak. Bagi yang rutin bersepeda, selalu  berusaha gowes tanpa henti. Mereka ingin mengukur waktu yang dihabiskan.

Jalur puncak ini terbagi dalam 3 tanjakan utama. Pertama adalah tanjakan Gadog hingga Bavarian Haus. Kedua, tanjakan Bagol (Bakmi Golek) melewati Bina Warga dan berakhir di Hotel Grand Diara. Ketiga adalah lepas Cisarua melewati The Grand Hill.

Melalui tiga tanjakan paling tinggi sepanjang rute Ciawi –Puncak ini perlu ketabahan dan kesabaran mengayuh sepeda. Kuncinya adalah gowes sabar, konstan, jangan berhenti, jangan nafsu atau terlalu bersemangat. Jika terlalu bersemangat, tenaga akan habis terkuras sebelum tiba di Puncak.

Selain itu,  di jalur ini juga banyak ruas jalan yang membuat kaki dapat berakselerasi dengan baik. Jalur menanjak panjang di sekitar Cimory, jalur datar panjang seperti di Cipayung, jalur menurun sedikit selepas Cisarua Taman Safari, serta tanjakan berkelok sejauh 7 kilometer dari Gunung Mas menuju Puncak. Keragaman medan ini menjadi keunikan jalur Puncak yang digemari para pesepeda.

Sekitar pukul 08.10 WIB, saya pun tiba di Puncak. Di sana, disambut Mang Ade dengan ramah dan penuh senyum. Saya langsung pesan sarapan pagi dengan menu pilihan yakni indomie telor dan teh manis hangat.

Kena gosokan Mang Ade

Sambil menikmati sarapan pagi, saya dan Mang Ade terlibat obrolan santai. Mang Ade pun bertanya, “Habis ini (sarapan) mau kemana? Hari masih pagi, sayang banget kalau langsung pulang (ke Bogor)”.

Obrolan singkat itu seolah menggosok saya untuk bersepeda lebih jauh lagi. Pilihannya adalah melanjutkan menuju ke Cianjur. Memperhitungkan jarak ke Cianjur dari Puncak sekitar 25 km, dimana melewati jalan rolling dan turunan, akhirnya memutuskan berangkat.

Penulis saat berada di Puncak, persisnya di Puncak Pas, Bogor. Foto: Dokumen Pribadi

Gowes pun dimulai. Dari Puncak menuju CIpanas melewati medan yang rolling dengan dominasi turunan hingga di RSUD Cimacan. Lalu rolling lagi beberapa kali hingga Sate Maranggi Sari Asih. Setelah itu turunan panjang hingga di landmark Cianjur Lampu Gentur. Tiba di Cianjur pukul 09.00 WIB.

Persis di bundaran Cianjur tampak lalu lintas kendaraan yang cukup padat. Ternyata saat itu dilakukan pemeriksaan terhadap setiap kendaraan yang hendak keluar kota. Saya pun berhenti sejenak untuk berswafoto.

Rasanya masih terlalu pagi juga. Setelah kalkulasi jarak dan waktu, akhirnya diputuskan gowes berlanjut ke Sukabumi. Selepas itu, perjalanan dilanjutkan dengan menghadapi tanjakan menuju Gekbrong sejauh 15 kilometer. Di depan mata di sebelah kiri jalan tampak rambu lalu lintas yang bergambar mobil di atas sudut tanjakan. Gambar yang sangat intimidatif itu tidak mematahkan semangat saya untuk terus mengayuh. Beberapa pengendara sepeda motor yang mendahului meneriakkan “Semangat” dan memberikan jempolnya.

Banyak tenaga terkuras di tanjakan menjengkelkan itu. Begitu tiba di Pasar Gekbrong langsung dilampiaskan dengan sepiring nasi padang dan segelas teh manis hangat. Nasi hangat, cincang sapi, dan dendeng kering dipadu daun singkong dan sambal hijau dihalap habis dalam  5 menit. Di depan jalan raya tampak beberapa roadbikers melintas dari arah Sukabumi menuju Cianjur. Mereka memilih jalur Gepang Loop.

Sehabis makan waktu menujukkan pukul 10.45 WIB. Berhitung pun dimulai. Gowes sudah menghabiskan 80 km dengan waktu 5 jam 35 menit. Setelah itu, menghadapi turunan 10 km  menuju  Kota Sukabumi, lalu 10 km berikutnya jalan landai menuju batas kota. Kemudian 45km jalur rolling dari Cibadak hingga Ciawi. Dan ditutup 15 km turunan Ciawi hingga finish di rumah. Dengan sisa jarak 80 km itu saya memprediksi dapat menghabiskan waktu 4 hingga 5 jam.

Pedal terasa ringan saat dikayuh sehabis makan nasi padang. Gekbrong menuju Sukabumi terasa ringan walau beberapa ruas tampak macet dilewati kendaraan besar. Tiba di Kota Sukabumi, kemacetan tampah parah. Melewati simpangan stasiun kereta menuju landmark Kota Sukabumi kecepatan dikurangi mewaspadai sepeda motor dan lalulintas siang hari yang ramai. Memasuki kota Sukabumi ada beberapa jalur membuat bingung. Arah menuju Jakarta terkadang diputar.

Sekitar pukul 13.00 WIB setelah melewati kemacetan di ruas Cisaat, Cibadak, Parung Kuda dan Cicurug hingga Cigombong atau tepatnya  pertigaan tol Bocimi. Ruas jalan ini sangat rawan macet dengan kendaraan besar macam transformer yang tak kenal waktu dan tidak ada obatnya.

Tantangan di rute ini adalah tanjakan Pocari, tanjakan panjang Mayora dan tanjakan simpang Pancawati. Selepas itu turunan hingga lampu merah Ciawi. Sempat berniat istirahat, tapi melihat tidak banyak kendaraan bermotor, rencana itu diurungkan. Gowes tetap melaju hingga tiba di rumah pukul 14.40 WIB. Lelah, panas dan haus hilang sirna begitu tiba di rumah dengan selamat dan penuh sukacita . Semua terbayar indah.

Rute Bogor, Puncak, Cianjur, Sukabumi, Bogor atau sebaliknya cukup  pupuler di kalangan para pesepeda di Jakarta, Bogor dan sekitarnya. Setiap pekan, selalu ada yang bersepeda pada rute yang melewati tiga kota tersebut. Mereka umumnya gowes berkelompok, dan hanya sedikit yang gowes seorang diri.

Tapal Kuda, sekitar 6 kilometer sebelum Cianjur, Lokasi ini selalu selalu menarik orang untuk berswafoto.

Loop kembar

Rute Bogor, Puncak, Cianjur, Sukabumi, Bogor disebut Bocimi Loop. Sebaliknya, rute Bogor, Sukabumi, Cianjur, Puncak, Bogor diberi nama Gepang atau Gede Pangrango Loop. Total jaraknya pun sama yakni sekitar 162 kilometer. Bahkan, keduanya sama-sama mengitari Gunung Gede Pangrango. Tetapi, oleh sebagian orang sengaja membedakan namanya agar memudahan pemahaman wilayah kedua yang dilewati setelah Bogor.

Gepang Loop atau Bocimi Loop membentuk peta melingkar dan kembali ke kota yang sama, yakni Bogor.Keduanya memberi tantangan tersendiri bagi para pesepeda. Terlebih mereka yang suka bersepeda jauh dan mencari pengalaman seru.

Gepang Loop memberikan pengalaman rolling sejak Ciawi hingga Sukabumi, lalu menguji otot paha di tanjakan Cianjur menuju Puncak sepanjang 25km. Sebaliknya, Bocimi Loop diawal trek sudah menguji otot paha di tanjakan Ciawi menuju Puncak, dan rolling Sukabumi menuju Ciawi menjadi penutup rute.

Baik Gepang Loop maupun Bocimi Loop sama-sama memacu adrenalin. Rute loop kembar ini mulai dari Tugu Kujang Bogor dan kembali ke tempat sama mencapai jarak 145km dengan elevasi sekitar 2500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Elevasi ini sungguh menggoda para pesepeda khususnya yang menyukai tantangan tanjakan.

Kali ini merupakan yang ketiga kalinya saya gowes mengitari Gunung Gede Pangrango. Pertama kali dilakukan 21 Oktober 2020 dengan memilih Bocimi Loop, tetapi rutenya melewati perkebunan teh, yakni Bogor, Puncak, Tapal Kuda, belok kanan memotong menuju Gekbrong, lalu Sukabumi, dan Bogor. Kali kedua pada 16 November 2020 juga seorang diri dengan memilih Gepang Loop, yakni Bogor, Sukabumi, Cianjur, Puncak, Ciawi dan Bogor.

Gowes rute Bocimi kali ini menyenangkan sekaligus mendebarkan. Selain rutenya yang menantang, juga dilakukan seorang diri. Ini membutuhkan mental yang kuat, nyali yang besar dan kondisi sepeda yang prima, termasuk penyiapan peralatan sepeda, seperti ban dalam, kunci, rantai dan perlengkapan standar lainnya.

Baca juga:

Rela Gowes 150 Km, Demi Pasir Putih PIK 2

Bersepeda  seorang diri memberikan kebebasan banyak hal. Leluasa menentukan waktu gowes, bebas menentukan waktu istirahat; berapa lama dan berapa kali. Bebas juga menentukan rute, mengubah rute ataupun kembali segera jika ada situasi khusus. Kecepatan dan waktu tempuh pun disesuaikan dengan kemampuan diri.

Tantangan yang terbesar adalah ketika muncul rasa jenuh tak ada orang yang mendorong atau memotivasi. Jika kejenuhan itu tidak dilawan, maka segala rencana bisa buyar. Kuncinya berpegang teguh pada niat dan konsisten menjalaninya.

Saya telah menuntaskan Bocimi Solo Riding. Total jarak sejauh 162.10km dengan waktu tempuh 9 jam dan 30 menit membakar 3.839 kalori. Solo riding kali ini sungguh menyenangkan, berkesan, dan tentunya memberi pengalaman berharga. Ayooo, jangan takut!!

Yustina Wardhani
Pegiat Sepeda

Editor: Jannes Eudes Wawa

12 KOMENTAR

  1. Kereenn ibuu tulisanya…, info jalur yg dilalui sangat komplit dengan tidak melupakan detail2 di area tertentu 🤩🤩🤩
    Jd pengin ituuttt…..🥰( tp saya naik mobil yaaakk….☺☺)

  2. Mulai dari awal tulisan cerita sudah bagus, menarik untuk di baca, dengan pemilihan kata yang cukup ringan.
    ada beberapa kata saja dengan salah pengetikan huruf sehingga menjadi typo.
    Selebihnya keren, semangat terus untuk penulis.

  3. Kereen…….you are the best lah……
    Tulisan enak dibaca..rinci dan lugas…membuat kita bisa membayangkan pengalaman solo ridenya.
    Stamina prima mendukung kegiatanmu…luar biasa….

  4. Wahhh, luar biasa… kereeennn… smangat GoWes dan nyali yang tinggi sangat mendukung ya, nte Dhani… saluuttt… sangat memotivasi diri untuk bisa GoWes sorangan tanpa harus takut ya, nte.. apalagi didukung perhitungan yang matang … smangaaaatttt…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Registrasi Jelajah IKN 2022

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur...

Semalam di Pulau Terselatan Indonesia

  Meski berstatus sebagai pulau terselatan Indonesia, tidak satu pun warga sipil yang menghuni di Ndana. Itu sebabnya, pulau...

Sport Jantung di Perairan Terselatan Indonesia

Perairan selatan selalu memiliki ombak tinggi. Ndana, sebagai pulau terselatan Indonesia juga terkenal memiliki  gulungan ombak yang panjang,...

Air Mata Berlinang di Pulau Terselatan Indonesia

Banyak cara dilakukan masyarakat Indonesia dalam merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Puluhan pesepeda dari berbagai kota memilih...