Tiga Jam 44 Menit Mendaki Ciremai

tanggal:

Share post:

Empat pendaki saat berada di Puncak Gunung Ciremai pada ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl). Foto: Dokumen Pribadi

Oleh : YUSTINA WARDHANI

Puncak Gunung Ciremai di Jawa Barat berada pada ketinggian 3.078 meter dari permukaan laut. Dari bumi perkemahan Ipukan pada ketinggian 1.200 mdpl hingga di puncak gunung sejauh 9 kilometer. Dalam jarak seperti itu ada ketinggian 1.878 mdpl. Kami mampu menuntaskan pendakian tersebut dalam waktu 3 jam dan 44 menit.

Bumi Perkemahan Ipukan di Kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat, Sabtu (29/5/2021) sekitar pukul 06.20 WIB terasa masih dingin. Padahal, mentari sudah menampakkan senyumnya. Saat itu 13 pendaki dari Jakarta dan Bogor telah bersiap diri untuk melakukan pendakian tektok atau trail run di gunung tersebut.

Tak lama kemudian, Hengki Benjamin alias Cincau selaku ketua rombongan meminta kami berkumpul dan berdiri melingkar. Dia memberikan briefing singkat mengingatkan kembali seputar motivasi dan komitmen melakukan pendakian ini. Disusul pengarahan dari kang Dadan, guide lokal yang hari itu mendampingi kami. Dia memberi gambaran seputar tantangan-tantangan yang bakal dihadapi selama perjalanan.

Tim dibagi dalam tiga formasi yakni: depan, tengah dan belakang. Dadan menjadi sweeper mengawal tim belakang, sedangkan Imam berada paling depan dan fleksibel mengawal tim tengah. Pengaturan formasi penting dalam setiap pendakian guna memastikan semua anggota sampai puncak dan kembali dengan lancar dan selamat.

Para pendaki sedang diberi pengarahan singkat dari ketua rombongan Hengki Benyamin, dan pimpinan guide, Dadan. Foto: Dokumen Pribadi

Lima menit menjelang pukul 07.00 WIB, kami telah selesai doa bersama dan langsung memulai pendakian. Langkah awal dimulai dengan semangat luar biasa. Keceriaan terpancar dari raut wajah masing-masing pendaki.

Perjalanan pertama yang dimulai dari ketinggian 1.200 mdpl itu menuju ke Pos I di Cigowong. Jaraknya sekitar tiga kilometer. Tetapi, trek ini cukup berat. Awal pendakian menjadi waktu adaptasi kaki dan nafas, juga menjadi periode aklimatisasi tubuh terhadap suhu di pegunungan.

Kami teringat pengalaman pendakian sebelumnya di berbagai gunung bahwa di awal pendakian sebaiknya jangan terlalu cepat melangkah, tetapi juga jangan terlalu pelan. Secara bertahap menaikkan kecepatan dan mengatur nafas. Trek pertama Ipukan menuju Pos 1 Cigowong ditempuh selama 50 menit. Pos 1 ini berada pada ketinggian 1.450 mdpl.

Pos 1 Cigowong merupakan pos paling besar dari sembilan pos sepanjang rute pendakian Palutungan. Areanya sangat luas berupa tanah lapang datar dengan empat bangunan yang berdiri. Dua transit shelter di samping gerbang dan tengah lokasi, satu mushola berbentuk rumah joglo kecil bersebelahan dengan toilet. Menurun sedikit ada sungai mengalir dengan mata air jernih yang tidak berhenti meluap. Kami beristirahat sejenak sembari  berfoto dan makan kurma.

Tim terdepan sedang berada di Pos I. Foto: Dokumen Pribadi

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Pos 2 Kuta. Kami melewati sungai kecil, melipir di samping mata air disertai jalan becek berbatu. Naik lagi melewati beberapa anak tangga berbatu dan menanjak menyusuri jalan setapak. Dari Pos 1 menuju Pos 2 berjarak 500 m, dengan elevasi 1.713 mdpl. Kami menghabiskan waktu 13 menit.

Pos 3 Pangguyangan Badak berada pada 1.848 mdpl, berjarak 600 m dari Pos 2. Konon tempat ini pada masa lalu merupakan lokasi badak berkubang. Tapi keberadaan badak di Gunung Ceremai masih menjadi misteri hingga saat ini. Waktu tempuh menuju Pos 3 adalah 19 menit, atau 11 menit lebih cepat dari estimasi awal, 30 menit.

Mengenal Ciremai

Gunung Ceremai, termasuk salah satu gunung yang selalu dijadikan tujuan pendakian. Ceremai berasal dari aksara baku sunda cereme (Phyllanthus acidus), sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rasa asam. Penyebutan Ciremai terjadi karena gejala hiperkorek akibat banyaknya nama tempat di tanah pasundan yang diawali dengan “Ci”. Buah cereme biasanya dikonsumsi langsung atau diolah menjadi manisan cereme.

Gunung Ceremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung berapi kerucut jenis stratovolcano ini secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupatan Kuningan dan Majalengka. Gunung ini memiliki kawah ganda, sisi barat dengan radius 400 meter terpotong oleh kawah timur dengan radius 600 meter. Pada ketinggian 2.934 mdpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Goa Walet. Kini, Gunung Ceremai termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektar.

Jalur pendakian Gunung Ceremai ada 3 yakni jalur Linggarjati, Palutungan dan Apuy. Jalur Linggarjati merupakan jalur awal yang berada di Desa Linggarjati Kecamatan Cilimus. Saat ini, ada jalur kembar yang berdekatan dengan jalur Linggarjati, yakni jalur Linggasana. Jalur kedua adalah jalur Palutungan dari Desa Cisantana Kecamatan Cigugur, yang kami lewati dalam  pendakian ini. Kemudian jalur ketiga adalah jalur Apuy dari Majalengka yang merupakan jalur terpendek 6 kilometer.

Sehari sebelumnya, kami sudah tiba di Kuningan dan menginap semalam. Semua peserta yang berasal dari Jakarta dan Bogor berangkat pada Jumat (28/05/2021). Kelompok pertama sebanyak 11 orang berangkat pukul 09.00 WIB dan sempat kuliner empal gentong yang terkenal di Cirebon. Kelompok kedua sebanyak dua orang berangkat jam 10.50 WIB dan langsung menuju hotel di Kuningan. Di sekitar hotel cukup banyak pertokoan dan restoran.

Pukul 18.00 WIB, kami makan malam, dilanjutkan briefing singkat bersama team guide yang akan mengawal pendakian ini. Team Guide yakni Dadan guide utama, Imam, dan Akoy team support di Basecamp Ipukan. Setelah itu, istirahat malam.

Sabtu (29/5/2021) pukul 04.30 WIB, kami sudah bangun. Pemanasan, mandi dan bersiap turun menuju restoran. Sarapan tersedia mulai pukul 05.30 WIB. Tak membuang waktu, semua peserta menyantap sarapan dengan nikmat. Tepat pukul 06.00 WIB kami menggunakan mobil menuju titik start pendakian di bumi perkemahan Ipukan, Palutungan Kuningan.

Cahaya Ilahi dan Tanjakan Asoy

Berada di Pos 3 Pangguyangan Badak pada ketinggian 1.848 mdpl baru sebagian kecil dari jarak pendakian  trail run kami ke puncak Gunung Ciremai hari itu. Tantangan yang dihadapi pun semakin berat, tetapi keindahan alam yang tersajikan membuat segala rintangan tersebut menjadi godaan yang ingin terus dinikmati.

Cahaya yang muncul dari sela-sela pohon menjadi salah satu daya tarik dalam pendakian ini. Ada rasa bahagia melihat keunikan ini, apalagi sambil menghirup udara bersih. Foto: Dokumen Pribadi

Pendakian kami pun berlanjut menuju Pos 5. Arban adalah nama Pos 4 yang berada pada ketinggian 2.064 mdpl. Pos ini menjadi pos favorit bagi penulis. Di sini, pepohonan tampak tinggi besar dan berlumut tebal serta banyak akar gantung menjuntai.

Kabut pagi menyelimuti pepohonan dan sinar mentari menembus di celah pepohonan, menyerupai cahaya Ilahi. Kami serasa berada di negeri dongeng. Jarak dari Pos 3 hanya 900 meter,  kami tempuh dalam waktu 21 menit.

Walau ingin berlama-lama menikmati cahaya Ilahi dan tenggelam dalam rasa syukur yang tak bisa dijelaskan, kami bertiga yang ada di formasi depan melanjutkan perjalanan menuju Pos 5 Tanjakan Asoy. Pos ini hanya berjarak 700 meter dari pos sebelumnya,  berada di ketinggian 2.168 mdpl. Kami menuntaskan perjalanan dari pos 4 ke pos 5 dengan waktu tempuh 14 menit.

Setiba di sini kami baru paham apa arti nama Tanjakan Asoy. Ternyata di depan kami sudah menghadang tanjakan vertikal dengan undakan tanah dan tanggul kayu yang memang terlihat sangat asoy alias menguras energi jika dilalui.

Sembari memandang Tanjakan Asoy, kami kembali makan kurma dan coklat serta minum air mineral. “Ayo jalan, mumpung kaki masih panas. Tanjakan Asoy sudah menanti,” ajak saya kepada teman-teman. Ajakan ini memacu semangat kami untuk melewati tantangan menuju Pos 6.  Saat dijalani dengan gembira, ternyata tanjakan ini tidak menakutkan seperti tampak dari bawah. Kami bahkan sempat  berfoto di bawah batang pohon tumbang yang melintang di tengah jalan. Kami tiba di Pos 6 Pasanggrahan 2336 mdpl pukul 09.16, atau 24 menit dari Pos 5 yang berjarak 1.3km.

Di Pos 6 Pasanggrahan kami menjumpai bangunan bambu dengan teras dari flying sheet biru. Pos ini sering dipakai sebagai sub-camp area bagi para pendaki. Tampak beberapa tenda berdiri, tapi tanpa penghuni. Saat tiba di puncak, kami bertemu dengan pemilik tenda. Memperhitungkan jarak tempuh menuju Pos 7 Sanghyang Ropoh hanya sekitar 500 meter, kami langsung melanjutkan perjalanan. Pos 7 pada ketinggian 2.584 mdpl.

Udara yang bersih di tengah rimba hutan di Gunung Ciremai. Foto: Dokumen Pribadi

Saat  briefing pagi dengan kang Dadan dan Imam sudah mengingatkan agar berhati-hati di simpang Apuy. Di sana ada pertigaan Simpang Apuy yang merupakan titik temu jalur pendakian dari Palutungan Kuningan dan Apuy Majalengka. Kami diminta memperhatikan area ini untuk memastikan saat turun agar tidak salah. Plang tulisan Simpang Apuy cukup jelas, dan simpangan besar. Namun demikian karakteristis jalur hampir sama. Penanda utamanya adalah saat turun nanti, jalur Palutungan ada disebelah kiri.

Melewati Simpang Apuy, kami bergerak konstan menuju Pos 8 Goa Walet. Selepas Pos 7 Sanghyang Ropoh, area menjadi terbuka dan berbatu seperti jalan lahar. Tidak ada lagi vegetasi yang memayungi jalan kami. Jalan menanjak berbatu dan kerikil, banyak batu lepas dan ada beberapa pilihan jalan dengan muara sama mewarnai jalur menuju Pos 8.

Pos 7 menuju Simpang Apuy ditempuh dalam waktu 28 menit, sedangkan Simpang Apuy menuju Pos Goa Walet ditempuh dalam waktu 14 menit. Sepanjang Pos 7 menuju Pos 8 ini kami banyak mengambil gambar. Pukul 10.25 kami tiba di Pos Walet 2.934 mdpl.

Sudah 3 jam 30 menit kami berjalan menuju Pos 8 atau pos terakhir sebelum puncak. Sambil beristirahat, kami membaca peta kembali. Tinggal 300 meter menuju puncak, kami segera melangkah dan ingin lekas tiba di Puncak Ceremai.

Tepat pukul 10.39 kami tiba di Puncak Ceremai 3.078 mdpl. Rasa haru meliputi perasaan kami. Sertamerta kami berdoa mengucap syukur kepada Tuhan karena diberikan kelancaran dalam perjalanan dan boleh tiba di tempat istimewa ini dengan selamat. Menikmati lukisan alam Mahakarya Pencipta selalu meluruhkan semua lelah dan peluh, membangkitkan rasa syukur atas kesempatan indah & perasaan makin dekat kepada Pencipta. Kami sibuk dalam diam, mengalami perjumpaan magis bersama alam semesta.

Digoda Kabut

Puncak Ceremai pagi itu menggoda kami dengan kabut dan sinar mentari yang datang silih berganti. Kami memanfaatkan situasi untuk makan bekal dan bersiap mengambil gambar saat mentari datang menggantikan kabut. Moment sekian menit ini selalu menjadi rebutan para summiter yang berada di puncak bersama kami. Tak lama kemudian, satu rekan kami tiba dipuncak dan bergabung.

Berjumpa dengan beberapa trail runner di puncak, kami terlibat obrolan seru mengenai jalur yang kami tempuh. Ada 2 orang yang berangkat dari jalur Apuy dan masih menunggu 4 rekan lainnya. Ada pula 4 pendaki yang sedang rehat sambil makan nasi goreng sosis di nesting. Ternyata mereka adalah pendaki yang tendanya ada di Pos 6 Pasanggrahan.  Pukul 11.55 WIB,  ada 3 anggota tim lain tiba di puncak.  

Dessy, salah seorang pendaki sedang beristirahat sejenak. Foto: Yustina Wardhani

Turun dari puncak tepat jam 12.00 WIB.  Perjalanan turun kami nikmati  santai dan banyak berinteraksi dengan pendaki yang naik. Pendakian akhir pekan selalu diminati, tetapi arang yang tektok atau trail run.

Hujan deras mengguyur di Pos terpanjang terakhir. Jalanan setapak menjadi jalan air, sehingga kami harus ektra hati-hati memilih jalan. Selain licin, ada jalan lubang yang tak tampak, karena jalan penuh air yang mengalir deras. Berjalan pelan, melipir, dan mengenakan jas hujan, kami tetap bergerak untuk menyelesaikan pendakian. Pukul 15.20 WIB kami pun tiba di Ipukan.

Banyak pengalaman berharga yang kami peroleh. Gunung  yang awalnya terkesan sangar dan mistis bagi banyak pendaki,  kini kian bersabahat. Ceremai mengajarkan bahwa saat gunung memanggilmu, semesta akan indah beracara.  Ceremai selalu memberi kisah yang tidak pernah selesai.

 

Yustina Wardhani
Pegiat Olahraga

Editor: Jannes Eudes Wawa

3 KOMENTAR

  1. Mau tanya untuk kontak kang Dadan ada kah? Untuk ijin masuk kawasan ya gmn yah mau kesana rencana tp sendirian makanya butuh tmn / guide xixixxi

    Terima kasih

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Jelajah IKN, Melihat Kota Sepeda Masa Depan

Oleh: JANNES EUDES WAWA Nusantara, kota masa depan Indonesia di Penajam, Kalimantan Timur kini menjadi magnet baru. Magnet ibu...

Jelajah IKN, Menjawab Penasaran Pesepeda

Siapa pun dia pasti penasaran dengan Ibu Kota Nusantara, kota masa depan Indonesia. Apalagi, berkali-kali Presiden Joko Widodo...

Jelajah Toba Samosir, Ibarat Kayuh di Atas Awan

Sebagai negara tropis, mengayuh sepeda di Indonesia umumnya menghadapi cuaca panas dengan terik matahari yang menyengat. Akan tetapi,...

Registrasi Jelajah IKN 2022

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur...