Kami Berlari Malam Hari Jakarta–Bogor 53 Km

tanggal:

Share post:

Berlari jarak jauh selalu dilakukan dengan rileks dan gembira. Ini untuk menjaga semangat berlari agar terus membara hingga finish. Hal itu juga dilakukan pelari dalam Ultra Night Run dari Jakarta ke Bogor sejauh 53,16 kilometer. Foto: Dokumen Pribadi

Oleh : YUSTINA WARDHANI

Lari umumnya dilakukan siang hari. Tetapi, kali ini dalam lari bersama sejauh 53 kilometer dari Jakarta hingga Bogor dilakukan pada malam hari. Waktu tempuh pun dibatasi maksimal sembilan jam. Inilah tantangan besar bagi para peserta lari ultra tersebut.

Jumat (21/5/2021) pukul 21.00 WIB, ke-45 ultrans (sebutan untuk para pelari ultra) sudah berkumpul di parkir samping Sarinah Thamrin, Jakarta. Mereka berasal dari berbagai komunitas lari di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Penyelenggaranya yakni Run For Indonesia (RFI) Ultra, sebuah komunitas lari yang berkedudukan di Jakarta.

Ultra Night Run kali ini mengambil rute hampir sama dengan event Tugu to Tugu yang digelar pada 31 Desember 2019, menyambut tahun 2020. Tugu to Tugu, start di Tugu Monas dan finish di Tugu Kujang Bogor. Sedangkan Ultra Night Run, dimulai dari Sarinah dan finish di GOR Pajajaran Bogor. Keduanya melewati ruas jalan yang sama, yakni   Jalan Sudirman, Pancoran, Pasar Minggu, Margonda, Citayam, Jalan Pemda Bogor dan berakhir di Gelanggang Olahraga (GOR) Pajadjaran Bogor.

Total 45 peserta dibagi dalam 3 kelompok pemberangkatan dengan jeda 5 menit. Panitia mengupayakan untuk meminimalkan kerumuman saat pemberangkatan dan juga penumpukkan pelari di jalur yang akan ditempuh.

Tepat pukul 22.00 WIB dilepas. Dari parkir samping Sarinah, para pelari langsung menuju Jalan Thamrin, lalu Sudirman Jakarta. Situasi lalu lintas normal cenderung ramai, mengingat hari itu adalah Jumat malam. Biasanya kondisi seperti itu saat menjelang libur akhir pekan. Panitia  mengawal di sepanjang rute lari menggunakan mobil yang sekaligus berfungsi sebagai penyuplai logistik, seperti air mineral, aneka buah dan roti.

Para peserta siap berlari setelah selesai pemanasan di area parkir gedung Sarinah, Jakarta. Foto: Dokumen Pribadi

Melawan kantuk

Sejak start saya berlari bersama Pak Slamet dan Egy. Beberapa waktu terakhir, Pak Slamet adalah pelari senior yang sering melatih banyak pelari muda. Salah satu di antaranya Egy yang berusia 22 tahun yang tengah menyiapkan diri mengikuti seleksi masuk Akademi Militer Angkatan Darat di Magelang

Melewati Tebet, Pak Slamet berpisah dari saya dan Egy, lalu bergabung dengan pelari lain seperti Mbak Lully, Mbak Meni, Mbak Jeni, dan Om Fitrial Kamal dari RFI Ultra Bintaro. Mereka adalah pelari master dengan pengalaman yang segudang.

Panitia mengerahkan mobil yang khusus membawa logistik bagi peserta. Logistik itu antara lain air mineral, roti dan aneka buah. Foto: Dokumen Pribadi

Memasuki Lenteng Agung, Egy memutuskan beristirahat karena kakinya sakit. Waktu menunjukkan hampir pukul 24.00 WIB. Saya teringat, di depan kami, ada satu pelari mengenakan jersey warna kuning. Dia berlari cukup kencang sehingga nyaris tidak terlihat lagi dari kejauhan. Jadi agak sulit untuk mengejarnya.

Saya memutuskan menunggu pelari di belakang. Tak lama kemudian datanglah tiga pelari lainnya yakni Anty Indira (mbak Anti), Gunawan Samiadjie, dan Guna Wijaya Muljana. Mereka dikawal El menggunakan sepeda lipat. Saya pun bergabung bersama mereka.

Setelah itu, datang lagi pelari Agus Sutanto yang mengenakan jersey kuning. Dia adalah orang yang saya pikir telah melejit jauh di depan. Ternyata dia sempat salah jalan sehingga tertinggal di belakang kami. Mas Agus pula yang menemani Egy menunggu mobil panitia untuk pengobatan.

Malam semakin larut dan kantuk mendera. Mbak Anty menyarankan kami membuat target per 5 km. Artinya, setelah berlari lima kilometer baru beristirahat. Pertimbangnya, agar lari lebih nyaman, dan tidak terbebani dengan total kilometer yang harus ditempuh.

Headset yang sedari tadi terpasang di telinga Mbak Anty diganti dengan speaker kecil nan nyaring bunyinya. Kantuk hilang dengan musik yang mengalun dari speaker yang tergantung di vest Mbak Anty. Kami makin bersemangat berlari. Beruntung Mbak Anty didampingi kendaraan khusus logistik yang mengawal sepanjang perjalanan. Jadilah kami berhenti di setiap 5 kilometer untuk beristirahat dan penyegaran fisik.

Kahdiran fotografer di tengah pelari menjadi momentum yang paling disukai pelari. Mereka bisa foto bersama dan dalam sejekab kelelahan berlari pun terobati. Foto: Dokumen Pribadi.

Memang, dari siklus tubuh, malam hari merupakan waktunya tubuh untuk istirahat. Itu sebabnya, peluang mengantuk jauh lebih besar dibanding siang hari. Di sinilah tantangan terberat dalam berlari malam hari yang perlu dikelola, sebab berlari pada malam hari lebih  adem dan nyaman bebas macet. Bahkan bisa menurunkan paparan radiasi ultraviolet hingga nol. Selain itu, suhu udara yang kalem dapat menghindarkan pelari dari heat stroke.

Agak mendadak

Saya sebetulnya tidak pernah merencanakan mengikuti lomba lari ultra malam hari dari Jakarta ke Bogor ini. Saya baru tahu adanya event ini melalui pesan whatsapp dari Pak Slamet pada tiga hari sebelum hari penyelenggaraan.

Rabu (19/05/2021), tiba saya mendapatkan pesan dari Pak Slamet. “Mbak ayo ikut Ultra Night Run, rutenya sama dengan Tugu to Tugu,” tulis Pak Slamet dalam pesan singkatnya.

Saya pun bersedia, dan langsung mendaftarkan diri melalui aplikasi oline dengan nomor urut 51.  Saat lari terlaksana, beberapa pelari berhalangan sehingga saya menjadi pelari ke-45 yang bergabung dalam Ultra Night Run. Sudah lama tidak ada event, latihan bersama jarak jauh ini bisa menjadi obat kangen berlari. Pemikiran sederhana tersebut  menjadi alasan penulis memutuskan bergabung.

Rabu mendaftar dan Jumat adalah hari H. Tidak ada persiapan sama sekali. Beruntung, saya punya kebiasaan berlatih lari seminggu dua kali. Satu kali jarak pendek: 10 kilometer dan satu kali jarak jauh: 21 kilometer. Menu latihan ini dilakukan pagi hari mulai pukul 05.00 WIB dengan durasi 1 jam hingga 2 jam 30 menit. Sisa waktu 1 hari dimanfaatkan untuk menyiapkan mandatory gear  dan persiapan lainnya.

Berbekal pengalaman mengikuti lomba beberapa kali, berlari di atas 5 jam memerlukan  stamina yang ekstra kuat dan fit. Selain latihan dan siap mental, juga diperlukan istirahat yang cukup. Menabung tidur beberapa hari sebelum lomba menjadi faktor pendukung bagi pelari agar segar dan siap menghadapi tantangan jarak dan waktu tempuh yang panjang. Kali ini, menabung tidur siang 2 jam per hari, rasanya cukup untuk mempersiapkan diri menjelang hari H.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, praktis event lari hampir padam. Hampir semua acara ditunda, bahkan dibatalkan. Kegiatan yang bersifat lomba ataupun latihan melibatkan banyak orang ditiadakan. Namun demikian latihan personal atau group kecil dimungkinkan dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

Run For Indonesia (RFI) Ultra sebagai salah satu komunitas penggiat lari khususnya lari jarak jauh atau di atas jarak marathon, mencoba mengadakan latihan bersama. “RFI Ultra Night Run ini adalah latihan bersama sekaligus mengajak para Ultrans lintas komunitas untuk saling mengenal”  ujar Yudhi Permadi, Ketua RFI Ultra.

Berlari dalam Ultra Night Run kali ini menjadi pengobat rindu bagi para pelari ultra selama pendemi Covid-19. Mereka bisa berlari lagi meski tetap taat protokol kesehatan. Foto: Dokumen Pribadi

Dalam kesempatan terpisah, Yudhi Permadi menyampaikan bahwa respon pelari di luar ekspektasi dan banyak sekali suport dari rekan-rekan pelari di luar RFI. RFI berencana membuat lomba ultra setelah kondisi memungkinkan, khususnya untuk perijinan.

Menyenangkan

Tak terasa kami sudah tiba di perempatan Jalan Pemda Bogor. Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB dini hari. Suara adzan terdengar. Sejauh ini kami sudah mencapai 42km dari total 53 km yang akan kami tempuh. Sambil beristirahat, beberapa pelari berganti baju karena baju yang dipakai sudah basah kuyub. Setelah menyeruput teh manis hangat, kami melanjutkan lari lagi.

Tiba di jalan baru Bogor, 3 km menjelang finish, lalu lintas mulai ramai dengan rutinitas pagi. Saat sedang menunggu lampu hijau menyala, tiba-tiba ada seseorang berteriak memanggil kami. Dia sedang mengemudi kendaraan, melihat kami dan memberi semangat dengan merekam lewat telepon selulernya. Kami makin bersemangat menyelesaikan kilometer terakhir.

Ada rasa bahagia luar biasa setelah menuntaskan lari sejauh 53,16 kilometer. Peserta puas, penyelanggara pun bahagia. Foto: Dokumen Pribadi

Jelang finish, sempat salah jalan, akhirnya kami tiba di GOR Pajajaran jam 06.30 WIB. Total jarak tempuh menjadi 53.16km dan membakar kalori 2.978. Sambutan panitia di garis finish membuat para pelari yakin telah menuntaskan latihan lari Jakarta-Bogor ini. Kelelahan lenyap seketika berganti kebahagiaan luar biasa.

Bravo buat RFI yang sudah melakukan latihan bersama yang begitu baik. Dukungan yang mengalir tiada henti. Rasa solidaritas yang mengental antara panitia dan pelari, serta di antara sesama pelari sungguh terasa. Ultra Night Run ini sangat menyenangkan. Jadi, kapan berlari lagi?

Yustina Wardhani
Pegiat Olahraga

Editor: Jannes Eudes Wawa

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related articles

Registrasi Jelajah IKN 2022

Setelah Presiden Joko Widodo memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur...

Semalam di Pulau Terselatan Indonesia

  Meski berstatus sebagai pulau terselatan Indonesia, tidak satu pun warga sipil yang menghuni di Ndana. Itu sebabnya, pulau...

Sport Jantung di Perairan Terselatan Indonesia

Perairan selatan selalu memiliki ombak tinggi. Ndana, sebagai pulau terselatan Indonesia juga terkenal memiliki  gulungan ombak yang panjang,...

Air Mata Berlinang di Pulau Terselatan Indonesia

Banyak cara dilakukan masyarakat Indonesia dalam merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Puluhan pesepeda dari berbagai kota memilih...