Sunyaragi, Gua Unik di Tengah Kota Cirebon

Bagian depan dari Gua Sunyaragi. Susunan batu karang ini memikat pengunjung

Oleh Jannes Eudes Wawa

Jelajah.bike – Jalan-jalan di Kota Cirebon sepertinya tidak lengkap jika tidak mengunjungi Gua Sunyaragi di. Gua sarat nilai sejarah ini sungguh unik. Seluruh bangunan situs itu terbuat dari batu karang. Ada 13 gua yang ada dalam kawasan seluas 1,5 hektar tersebut. Warisan ini merupakan peninggalan masa Kesultanan Cirebon, dan bagian dari Keraton Pakungwati.

Gua ini masih berada di tengah Kota Cirebon, persisnya di bagian selatan yakni Jalan By Pas Brigjen Dharsono. Di bagian depan, ada halaman yang cukup luas disertai bangunan Gedung yang dijadikan museum. Banyak benda bersejarah yang tersimpan dalam museum itu, antara lain guci, keramik, pipa air, paku abad ke-17, keris, tombak, dan alat pemanjat tebing.

Di sisi kanan, menjadi pintu masuk pengunjung. Setiap pengunjung dikenakan biaya tiket sebesar Rp 10.000. Bahkan, pengelola juga menyiapkan pemandu wisata yang mampu menjelaskan detail sejarah Gua Sunyaragi.

Begitu melewati pintu masuk, pengunjung langsung melihat dari kejauhan gua-gua dari batu karang. Di sebelah kiri tampak sebuah panggung yang dilengkapi dengan tempat duduk mirip sebuah gelanggang olahraga mini. Di tempat yang disebut sebagai panggung budaya itu sering digelar atraksi kebudayaan, seperti pertunjukan tari, music dan sejenisnya.

Bahkan, saat kami datangi pada Minggu, 5 Januari 2020 siang, masih berdiri kokoh panggung bertuliskan Festival Music Jazz Pantura. Acara itu digelar pada 21 Desember 2019. Festival music ini sebagai bagian dari kerja inovatif dan kreatif untuk menghidupkan dan mengembangkan musik pantura atau cirebonan yang dikolaborasikan dengan music jazz. Beberapa sebelumnya juga pernah digelar Festival Budaya Sunyaragi di lokasi yang sama selama tiga hari.

Sisi lain yang tidak kalah menarik dari Gua Sunyaragi. Bangunan ini tidak sekedar bernilai sejarah, tapi keunikannya membuat disukai pengunjung

Pesona karang

 Setelah melewati panggung budaya, pengunjung akan terbius dengan pesona batu karang yang begitu menarik. Deretan baru karang dengan tinggi sekitar belasan meter pada bagian dalam terdapat gua-gua yang pada ratusan tahun silam konon digunakan untuk berbagai keperluan bagi Kesultanan setempat.

Namun, jangan membayangkan Gua Sunyaragi sebagai gua besar berlorong Panjang hingga puluhan meter seperti Gua Jepang yang ada di sejumlah daerah. Gua di sini berukuran sangat kecil, bahkan di beberapa di antaranya hanya cukup dimasuki satu orang. Yang menjadi ciri khasnya yakni untuk memasuki gua-gua ini orang harus melewati jalan kecil yang berliku-liku di tengah tumpukan batu karang. Ini semua mengandung makna bahwa kehidupan seseorang tidak selalu mulus, namun penuh tantangan dan rintangan.

Susunan batu karang ini telah menjelma menjadi obyek yang menarik.

Rina (23), pengunjung asal Bandung mengaku terpesona dengan keunikan Gua Sunyaragi. “Terlepas dari gua ini memiliki nilai sejarah yang cukup besar. Tetapi bangunan gua dari batu karang ini memberi keunikan yang luar biasa. Daya tariknya besar banget. Untuk narsis pun keren banget. Mungkin perlu pengelolaan yang lebih profesional dengan pemasaran yang lebih agresif sehingga menarik lebih banyak pengunjung lagi,” ujar Rina yang baru pertama kali mengunjungi gua tersebut.

Gua Sunyaragi dibangun Pangeran Arya Carbon Kararengan, salah satu cicit Sunan Gunungjati pada tahun 1703. Sunya artinya sunyi, dan ragi berarti raga atau badan, Sunyaragi diartikan sebagai tempat menyepi atau menyunyikan diri. Para pangeran menyepi dan mendekatkan diri kepada Tuhan di tempat ini.

Ada 12 ruangan yang berada dalam gua batu karang tersebut. Ke-12 ruangan itu antara lain Bangsal Jinem digunakan sebagai tempat sultan memberikan wejangan. Bangsal ini juga digunakan sultan dan anggota kerajaan menyaksikan prajurit yang tengah berlatih perang atau bela diri.

Ada lagi Gua Pandekemasang merupakan tempat pembuatan senjata, seperti keris, dan  tombak. Lalu, Gua Pengawal sebagai tempat para pengawal sultan. Gua Langse menjadi tempat beristirahat. Gua Padang Ati sebagai tempat bersemedi.

Kemudian Gua Peteng merupakan yang paling gelap. Di gua ini dijadikan tempat untuk menimbah ilmu kekebalan tubuh. Konon dalam gua ini juga terdapat Lorong sejauh kurang lebih 12 kilometer yang menembus ke Gunung Jati. Karena dulu kabarnya banyak anak kecil yang teresat dalam gua ini, dan akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di Gunung Jati.

Gua Arga Jumud sebagai tempat bagi kerebat keraton. Gua Pawon sebagai dapur dan tempat penyimpanan makanan. Gua Lawa sebagai tempat berkumpulnya kelelawar. Gua Kelanggengan sebagai tempat bersemedi agar mendapat kelanggengan. Gua Simanyang sebagai pos penjagaan, serta kompleks Mande yang merupakan tempat bagi sultan untuk beristirahat saat mengunjungi Sunyaragi. Mande berbentuk joglo berpagar kayu dengan pecahan beling yang ditempat pada dinding bangunan.

Ruang musyawarah berada di tempat yang agak terbuka, persisnya di Gua Aga Jumut. Tapi gua ini sebagiannya dihancurkan Belanda tahun 1787 karena tercium sebagai tempat pertemuan untuk melawan pemerintah kolonial Belanda selama tahun 1703-1786. Sultan Syamsuddin IV tahun 1852 pernah memperbaiki gua itu, tapi tidak selesai. Renovasi oleh pemerintah Belanda tahun 1937-1938 juga tidak mengembalikan Gua Arga Jumut pada bentuk semula.

Taman air

 Di kompleks ini terdapat belasan gua dengan taman air di sekelilingnya. Taman air dilengkapi dengan beberapa patung batu karang. Paling besar adalah patung Gajah Jerum yang melukiskan seekor gajah sedang menarik kereta. Namun saat kedatangan kami, taman air itu tidak berfungsi.

Rudi (50), pengunjung asal Jakarta berharap dioptimalkan penataan kawasan Gua Sunyaragi. Menurut dia, kawasan ini memiliki potensi besar untuk menjaring wisatawan karena keunikan yang dimilikinya. Namun, potensi ini belum dikelola optimal.

Di tempat ini sering digelar berbagai acara kebudayaan dan musik. Setiap tahun selalu ada festival kebudayaan yang digelar.

Jika Gua Sunyaragi ingin dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata, dia menyarankan agar pengelolaannya diberikan kepada swasta yang profesional. Dengan demikian semua potensi yang ada dapat digali dan dikembangkan lebih optimal. “Dalam kerjasama itu, pihak Kesultanan Cirebon selaku pemilik dapat memberikan rambu-rambu kepada pengelola sehingga bangunan dan nilai-nilai sejarahnya tetap terjaga dan lestari. Tetapi pengunjung membludak. Waktu kunjungan pun bisa lebih lama,” kata Rudi.

Setelah selesai menelusuri gua-gua yang ada selama sekitar dua jam, kami kemudian keluar melalui pintu yang berada di sisi kiri kompleks Sunyaragi. Di depan pintu keluar berjejer warung-warung kecil yang menjual makan ringan, seperti mie rebus. Bangunan yang disediakan untuk warung-warung itu pun seadanya saja. Bahkan, terkesan tidak terurus.

Melihat keunikan yang dimiliki, Gua Sunyaragi sesungguhnya menyimpan potensi teramat besar untuk menjaring wisatawan. Kini, saatnya berbenah.

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

TERPOPULER