JAKARTA— Setelah sepeda, kini giliran suku onderdil atau cadang sepeda semakin sulit didapatkan. Hampir semua toko dan bengkel sepeda mengalami krisis tersebut. Kelangkaan itu mulai terjadi dalam sebulan terakhir. Hal ini dipicu tersendatnya pengiriman barang-barang tersebut dari luar negeri. Hampir 80 persen suku cadang sepeda diimpor.

Arie Budhiono, pemilik bengkel sepeda Sampurna Bike di Kalibata, Jakarta, menjelaskan, hampir semua suku cadang sepeda diimpor dari China. Impor itu bukan hanya dilakukan Indonesia, tetapi hampir semua negara. Sementara, aktivitas industri suku cadang itu tersendat sejak Januari 2020, menyusul adanya wabah pendemi virus corona (Covid)-19 yang melanda negeri tersebut.

Ketika masa karantina mulai dilonggarkan pada April 2020, permintaan sepeda di seluruh dunia melonjak tajam. Lonjakan permintaan itu juga terjadi pada suku cadang sepeda. Saat yang sama industri sepeda dan suku cadang sepeda belum beroperasi. Akibatnya, permintaan jauh melebihi persediaan dan produksi.

Saat industri sepeda dan suku cadang sepeda di China mulai beroperasi, jumlah barang yang diproduksi belum bisa menutupi kekurangan dari permintaan yang besar dari seluruh dunia. “Inilah penyebab kelakaan suku cadang yang kita alami saat ini. Moga-moga kelangkaan ini perlahan-lahan segera teratasi,” jelas Arie, Senin (10/8/2020).

Menurut dia, saat ini banyak bengkel sepeda tidak bisa beroperasi optimal, sebab ketiadaan suku cadang. Sepeda rusak yang diantarkan pemiliknya ke bengkel pun belum bisa diperbaiki. Ada bengkel yang terpaksa mengurangi jumlah hari kerja.

Soleh, pengelola bengkel sepeda di wilayah Jatiwarna, Kota Bekasi, juga mengakui adanya kelangkaan itu. “Sekarang, ban ukuran 26, 20 dan 12 tidak ada stok lagi. Kami sudah mencari ke semua distributor di Jakarta dan sekitarnya tetapi hasilnya nihi. Begitu pula dengan suku cadang merek shimano sulit didapat,” kata Soleh.

CEO PT Roda Maju Bahagia (RMB) Hendra menegaskan, industri sepeda di Indonesia belum sepenuhnya mandiri. Masih ada sejumlah suku cadang yang diandalkan dari impor, khususnya dari China. Misalnya, jari-jari roda sepeda dan rantai sepeda hingga kini masih impor. “Jadi, kelangkaan suku cadang yang terjadi saat ini ikut berpengaruh pada produksi sepeda,” ungkap Hendra.

Kelangkaan itu membuat harga sejumlah onderdil meroket signifikan. Para pesepeda terpaksa mengungkapkan keprihatinan atas kondisi ini di berbagai media sosial. “Gila, harga part sepeda sprocket 8 speed no name Rp 1,8 juta lebih,” tulis Noerdian Effendi, pesepeda tinggal di Bukit Tinggi, Sumatera Barat (Sumbar) pada laman facebook-nya.

Penulis: Jannes Eudes Wawa

Baca juga:

Sepeda, Tambora dan Covid-19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here