Saat ini semakin sulit mendapatkan sepeda yang terjual di toko. Ini karena permintaan yang sangat tinggi. Di sebuah toko sepeda di wilayah selatan Jakarta ini pun sama. Yang tersisa hanya beberapa asesoris sepeda.

Oleh: JANNES EUDES WAWA 

Hampir setiap pekan dalam dua bulan terakhir, saya selalu menerima komplain dari teman-teman pesepeda. Mereka mengeluhkan harga sepeda saat ini yang dinilai sudah di luar batas kewajaran. Hampir semua merek dan jenis, harganya meroket tajam dibanding sebelum wabah pendemi Covid-19.

Bayangkan, sepeda yang sebelumnya seharga Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per unit, kini telah menjadi Rp 8,5 juta hingga Rp 10 juta per unit. Ada pula sepeda yang dulunya sekitar Rp 8 juta, kini menjulang tinggi mencapai Rp 13, juta hingga Rp 15 juta per unit. Bahkan, ada pula sepeda lipat saat ini minimal Rp 30 juta-Rp 40 juta. Ini pun sudah barang bekas. Kalau edisi spesial lebih mahal lagi, minimal Rp 75 juta. Padahal, sebelum wabah Covid-19, produk baru pun maksimal Rp 35 juta.

Mereka benar-benar jengkel dan marah melihat perkembangan harga ini.  Mereka meyakini ada pihak tertentu dengan sengaja menggoreng harga sepeda setelah melihat antusiasme masyarakat membeli sepeda yang begitu tinggi. Apalagi, permintaan telah jauh melampaui persediaan dan produksi.

“Mencari untung dalam setiap penjualan barang tidak dilarang. Itu wajar. Tetapi, jangan seperti dalam transaksi sepeda saat ini. Keuntungan yang ingin didapatkan para pedagang sudah melampaui batas kewajaran. Ini yang kita prihatinkan,” tegas Albertus Pratomo, pesepeda yang juga pimpinan sebuah perusahaan multinasional di Jakarta dengan nada kesal.

Media daring

Kekesalan yang sama juga ramai diungkapkan warga di media sosial. Para pesepeda dan warga lainnya tidak henti-hentinya mempersoalkan harga sepeda selama wabah pendemi Covid-19. Ada yang mengaku gagal memiliki merek dan jenis sepeda yang diincar gara-gara saat mau membeli harga sepeda itu sudah jauh lebih tinggi dari dana yang disiapkan.

Jerry, warga asal Kota Bekasi, Jawa Barat mengungkapkan, beberapa waktu lalu sempat mendatangi beberapa toko sepeda untuk membeli kendaraan kayuhan itu. Namun jenis dan merek yang diincar tidak tersedia lagi. Jika inden pun menunggu beberapa minggu, sebab yang memesan dan memanjar uang muka pun sudah banyak orang.

Dia kemudian mencari di toko daring. Ternyata sepeda yang dicari tersedia, namun harganya sudah mencapai Rp 15 juta per unit. Padahal, di toko harganya Rp 9 juta per unit. “Saya pun akhirnya mengurungkan niat membeli sepeda, sebab harganya sudah tidak wajar. Sudah melampaui kemampuan modal saya. Saya tunggu situasi mereda, saya yakin harga sepeda akan turun,” ungkap Jerry.

Nindy Selly Putri, warga Jakarta pun mengungkapkan kekesalahan yang sama. Dalam sebuah group facebook sepeda, dia menulis, “Semakin bingung ada yang jual pikes gen 2 sampe 16 juta (Rp 16 juta). Itu laku kaga ya? Kenapa setega itu ya .. Normal price Rp 8,5 jt (Rp 8,5 juta), bingung gua”. Sepeda yang dimaksud dijual pada salah satu toko daring.

Status Nindy ini mendapat banyak tanggapan dari sesama anggota group. Ada yang bilang di toko agen resmi pun kadang terjual dengan harga berkisar Rp 9 juta hingga Rp 11 juta per unit. Ada yang bilang saat ini agak sulit mendapatkan di toko: stok habis, inden pun membutuhkan waktu lama. Beberapa di antara mereka meyakini harga bakal turun.

Sejumlah prasangka pun dilontarkan masyarakat. Produsen, distributor dan pengelola toko sepeda diduga melakukan konspirasi untuk menggoreng harga sepeda. Namun hal ini dibantah Sandra, pengelola sebuah toko sepeda di Kawasan Jakarta Selatan. Dikatakan, pihaknya tidak pernah melakukan permainan harga. Harga yang berlalu di toko sepeda selaku agen atau distributor resmi sesuai kesepatanan antara pemilik toko, distributor dan pihak pabrik. Sejauh ini harga yang terjual di toko masih terkendali.

“Masing-masing pihak biasanya sudah ditentukan harga maksimal dari setiap barang yang dijual. Jadi, kami tidak mungkin menggoreng harga sepeda demi mendapatkan keuntungan besar. Itu tidak mungkin kami lakukan, sebab bisa diputus kerja sama dengan produsen,” tegasnya.

Bersepeda selalu memberi kegembiraan. Apalagi bersepeda mengunjungi daerah yang jauh, seperti pesepeda dalam gambar ini yang hendak menuju Sabang dari pelabuhan Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Pedagang musiman

Pengelola toko sepeda atau distributor pun tidak mengetahui persis tujuan para pembeli berbelanja sepeda. Apakah untuk digunakan sendiri bersama keluarga, atau untuk dijual kembali. “Yang penting bagi kami adalah barang laku terjual. Jika ada pembeli menjual kembali sepeda yang dibeli dengan harga lebih mahal lagi, kami tidak peduli. Itu urusan yang bersangkutan,” ujar Sandra.

Sejumlah orang meyakini permainan harga ini dilakukan para peritel, seperti toko yang bukan agen atau distributor resmi sepeda tertentu. Pengelola toko seperti ini cenderung bebas menentukan harga. Semakin banyak permintaan, harga barang bisa naik tajam sesuai selera pengelola toko.

Eforia ini juga memunculkan pedagang sepeda dadakan. Mereka membeli sepeda dari toko atau agen kemudian memasarkan kembali melalui media sosial dan toko daring. Para pedagang musiman itu memanfaatkan momentum ini untuk meraih keuntungan besar.

CEO PT Roda Maju Bahagia (RMB) Hendra beberapa waktu lalu mengaku sering mendapat pengaduan soal harga sepeda yang melampaui batas kewajaran. Pihaknya juga rutin melakukan pelacakan dan pengawasan terhadap toko-toko sepeda yang menjadi agen penjualan produk-produk RMB. Jika ada yang nakal selalu diberi sanksi tegas.

“Sebagai produsen, kami tentu sangat senang jika produk kami banyak yang laku terjual di pasaran. Kami juga berkomitmen agar semua lapisan masyarakat dapat memiliki sepeda (lipat) yang baik dengan harga yang terjangkau. Itu sebabnya, pengawasan harga di tingkat agen dan toko selalu diperketat,” tegasnya.

“Yang sulit kami kontrol adalah para peritel. Mereka membeli sepeda di toko atau agen, lalu menjual kembali melalui media sosial atau toko online dengan harga yang tinggi. Kami juga jengkel, tetapi kami pun tidak bisa berbuat banyak,” tambah Hendra.

Sejumlah kalangan terus mendorong produsen sepeda untuk meningkatkan volume produksi. Hanya dengan melipatgandakan produksi diyakini kebutuhan konsumen segera terpenuhi, harga sepeda tidak lagi digoreng, dan seluruh lapisan masyarakat dapat memiliki sepeda yang diinginkan.

Akan tetapi, investasi ini ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan. Tidak seperti warung makan yang dalam waktu singkat segera memenuhi permintaan konsumen. Para produsen sepeda masih sangat hati-hati merespon perkembangan ini. Ada pertanyaan yang terus-menerus dilakukan: benarkah eforia bersepeda ini akan berlangsung lama? Kalau ya, sampai berapa lama? Jangan-jangan fenomena ini hanya sesaat mirip batu akik atau bunga gelombang cinta atau anthurium. Setelah wabah pendemi redah, semangat bersepeda pun menurun.

Itu sebabnya, kalangan produsen terus mencermati, mempelajari dan menganalisis situasi pasar nasional.  Pertimbangan itu penting, sebab meningkatkan volume produksi membutuhkan mesin dan perangkat teknologi pendukung lainnya. Investasi ini tidak kecil. Membutuhkan biaya yang besar.

Jika animo masyarakat untuk bersepeda berlangsung lama, maka investasi tersebut menguntungkan. Sebaliknya, apabila hanya sesaat, maka investasi bisa mubazir. Yang bisa disiasati dalam jangka pendek adalah berusaha menambah volume produksi dalam jumlah terbatas dengan memaksimalkan mesin yang ada.

Tetapi yang terpenting saat ini juga adalah gerakan pedagang musiman ini tidak boleh dibiarkan semakin leluasa. Niat masyarakat untuk bersepeda jangan sampai tertunda atau batal. Sebab sepeda saat ini bukan lagi sekedar alat transportasi, bersepeda juga bagus untuk berolahraga, bahkan juga menjelma menjadi gaya hidup. Bersepeda bisa membuat orang bergembira.

Jadi, bersatulah masyarakat melawan praktek ini dengan tidak membeli sepeda yang harganya melampaui batas kewajaran. Makin lama tidak dipedulikan, harga bakal kembali normal. ***

Baca juga:

Sepeda, Tambora dan Covid-19

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here